Cara Membuat Susu Formula yang Benar untuk Mendukung Pertumbuhan Si Kecil

Bayi usia 0-12 bulan membutuhkan asupan gizi lengkap untuk membantunya bertumbuh dengan optimal. Salah satu sumber gizinya bisa berasal dari susu formula atau sesuai dengan ajuran tenaga kesehatan. Namun orang tua harus paham betul cara membuat susu formula yang benar sehingga kandungan nutrisi dalam susu bisa mengoptimalkan tumbuh kembang si kecil. Mari cari tahu seperti apa cara tepat menyajikan susu formula untuk anak.

Cara Membuat Susu Formula yang Benar

Penyajian susu formula bagi bayi memang harus diperhatikan. Tidak asal-asalan, proses pembuatan susu harus memenuhi aturan yang tepat demi kebaikan dan kesehatan si kecil. Berikut adalah beberapa cara membuat susu formula yang benar dan disarankan:

Membersihkan tempat penyiapan makanan

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan.
  • Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam panci tertutup, kemudian diamkan selama 10-15 menit agar suhunya turun menjadi tidak kurang dari 70 derajat celcius.
  • Tuangkan air tersebut ke dalam botol susu yang telah disterilkan.
  • Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dengan menggunakan sendok takar yang tersedia.
  • Tutup kembali botol susu dengan baik dan kocok sampai susu larut dengan baik.
  • Dinginkan segera dengan merendam bagian bawah botol susu di dalam air bersih dingin sampai suhunya sesuai untuk diminum (dicoba dengan meneteskan susu pada pergelangan tangan, akan terasa agak hangat, tidak panas). Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 1 jam.
  • Tutuplah kemasan dengan rapat dan simpan kemasan serta sendok takar dalam keadaan bersih di dalam wadah yang bersih dan tertutup rapat. Simpan di tempat sejuk dan kering dan bukan di lemari es.

Tips memilih Susu Formula yang Tepat

Saat ini ada banyak pilihan produk susu formula yang bisa diberikan kepada anak usia 0-12 bulan. Namun, orang tua harus benar-benar cermat dalam memilih produk susu tersebut. Selain mengetahui cara membuat susu formula yang benar maka penting juga untuk memahami tips pemilihan.

Poin paling penting adalah pilih jenis susu formula yang punya kandungan protein lengkap karena ini penting untuk pertumbuhan anak. Selain itu pastikan juga kandungan zat gizinya mudah dicerna dan bisa mendukung daya tahan tubuh. Tak kalah penting zat gizi dalam susu juga harus bisa mendukung perkembangan otak anak secara optimal.

Selain fokus pada cara membuat susu formula yang benar, pastikan juga susu yang akan dikonsumsi mengandung 9 Asam Amino Esensial (9AAE). Ini merupakan zat gizi penting yang terdiri dari histidin, leusin, isoleusin, lisin, metionin, fenilalanin, triptofan, valin, dan treonin. 9AAE ini ini akan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, memperbaiki jaringan tubuh, serta meningkatkan metabolisme.

Makanan Sumber Vitamin E yang Baik untuk Kulit Ibu Hamil

Vitamin E merupakan salah satu nutrisi yang mampu menjaga kesehatan mata, otak hingga kulit. Tubuh tidak memproduksi mineral ini secara alami sehingga perlu diperoleh dari sumber makanan.

Setidaknya, tubuh membutuhkan sebanyak 33 IU vitamin ini setiap harinya. Kamu perlu memilih makanan dengan sumber vitamin E terbaik untuk memenuhi kebutuhan harian tersebut.


Makanan dengan Sumber Vitamin E Terbaik

1. Minyak gandum
Minyak gandum
Minyak gandum diklaim sebagai sumber vitamin E terbaik. Setiap 20 miligramnya mampu memenuhi kebutuhan harian kamu. Ada berbagai cara untuk mengonsumsinya, salah satu yang paling umum digunakan sebagai minyak goreng. Jika dibandingkan dengan minyak kelapa sawit, minyak gandum jauh lebih sehat.

2. Kacang almond
Kacang almond
Setiap satu ons almond, yakni sekitar 23 butir kacang, setidaknya mengandung 7,3 miligram vitamin ini. Disamping memenuhi kebutuhan vitamin harian kamu, penelitian mengungkapkan kalau almond mampu mengurangi risiko obesitas dan penyakit jantung.

3. Alpukat
Alpukat
Buah yang satu ini merupakan sumber berbagai nutrisi terbaik, seperti potasium, omega-3, dan vitamin C, vitamin K dan tentunya vitamin E. Setengah buah alpukat saja sudah mampu memenuhi kebutuhan harian hingga 20 persen.

4. Biji bunga matahari
Biji bunga matahari
Satu ons biji bunga matahari dapat mencukupi setengah dari kebutuhan harian vitamin ini. Biji-bijian ini umumnya dikonsumsi dengan cara ditambahkan ke smoothie, sereal atau salad.

5. Ikan salmon
Ikan salmon
Ikan salmon dikenal sebagai adalah sumber asam lemak omega-3 yang penting untuk kesehatan fisik dan kognitif. Selain omega-3, ikan ini juga mengandung vitamin E. Penelitian menunjukkan bahwa vitamin ini juga membantu melindungi dan meningkatkan efek omega-3 dalam tubuh.

Manfaat Ikan Salmon bagi Kesehatan

Ikan Salmon dikenal sebagai makanan yang mengandung protein lengkap, karena mengandung sembilan asam amino esensial, yang merupakan bahan pembangun yang membantu tubuh berfungsi dengan baik. Selain itu, makanan sehat ini juga kaya akan vitamin dan mineral. Mereka termasuk kolin, yang membantu otak dan sistem saraf berjalan dengan lancar, serta folat, magnesium, kalium dan zat besi. Ikan Salmon juga kaya akan vitamin A, E, dan C. Jadi, di balik ukurannya yang kecil, makanan sehat tersebut sarat dengan nutrisi.

Berikut beberapa manfaat Ikan Salmon untuk kesehatan

1. Membantu menjaga berat badan
Kandungan protein dan serat yang tinggi dalam Ikan Salmon bisa mengendalikan nafsu makan. Kedua nutrisi tersebut bekerja sama untuk memperlambat pencernaan, sehingga membuat kamu merasa kenyang lebih lama. Selain itu, protein juga bisa meningkatkan kadar hormon penurun nafsu makan.

2. Mencegah Sembelit
Berkat kandungan seratnya yang tinggi, manfaat Ikan Salmon lainnya adalah bisa mencegah sembelit. Studi sudah menemukan bahwa memperbanyak konsumsi Ikan Salmon tersebut bisa membantu menjaga kesehatan pencernaan dan memperlancar buang air besar.

3. Baik untuk kesehatan jantung
Ikan Salmon secara alami sangat rendah kolesterol. Makanan sehat tersebut juga merupakan sumber lemak tak jenuh ganda yang baik. Jenis lemak tersebut membantu mengendalikan dan mengurangi kadar kolesterol, yang pada gilirannya akan menurunkan risiko penyakit jantung.

4. Baik untuk kesehatan tulang
Manfaat Ikan Salmon untuk kesehatan tulang tidak lepas dari berbagai kandungan nutrisinya. Ikan Salmon tersebut memiliki kalsium, magnesium, serat, dan nutrisi lain untuk tulang yang kuat. Namun, sebelum mengonsumsinya, pastikan kamu merendam membersihkan Ikan Salmon terlebih dahulu.

11 Finger Food untuk Mengenalkan Tekstur Mpasi 9 Bulan

Bagaimana kabar perkembangan buah hati? Apakah sudah mulai mengenal tekstur MPASI 9 bulan atau belum? Ada beberapa rekomendasi finger food atau camilan yang mudah digenggam oleh bayi untuk dijadikan stimulan si Kecil dalam mengenal tekstur MPASI 9 bulan.

Primagro tebus murah
Menginjak usia 9 bulan, biasanya si Kecil sudah mulai tertarik untuk makan dengan menggunakan tangan. Hal itu dapat menjadi pertanda bahwa si Kecil siap mengonsumsi beragam jenis makanan.

Demi membantu tumbuh kembangnya, Ibu perlu tahu apa saja finger food yang cocok untuk mengenalkan tekstur MPASI 9 bulan dalam informasi di bawah ini.

Kapan Bayi Mulai Dikenalkan Tekstur MPASI 9 Bulan

Sekitar usia 8 bulan ke atas, biasanya si Kecil sudah bisa diajarkan untuk makan dengan tangannya sendiri meskipun belum sempurna. Hal ini dapat Ibu lihat dari beberapa ciri, yakni bayi yang tidak lagi berusaha mengeluarkan makanannya dan jemarinya yang mampu menggenggam makanan.

Memberikan finger food untuk bayi dapat menunjang tumbuh kembangnya dalam hal keterampilan motorik halus, menggigit, serta mengunyah makanan sejak dini. Selain itu, hal tersebut juga berguna untuk mengenalkan tekstur MPASI 9 bulan.

Tekstur MPASI 9 bulan

Finger food yang ideal memiliki beberapa karakteristik. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), finger food harus berukuran kecil dan mudah lumer ketika ditekan agar si Kecil mudah menelannya. Ketentuan itu harus Ibu penuhi agar ketika anak mengonsumsi finger food terhindar dari tersedak.
Semakin mudah si Kecil menggigit dan mengunyah dengan baik, maka semakin mudah dicerna juga finger food yang masuk ke perut bayi. Berikut rekomendasi finger food yang mudah Ibu sajikan sebagai makanan yang bisa membantu mengenalkan tekstur MPASI 9 bulan.

Wortel
Wortel adalah sayuran pertama yang cocok dikonsumsi bayi, baik untuk mengenalkan tekstur MPASI 9 bulan maupun finger food. Rasanya yang enak, baik itu dimasak sendiri ataupun diolah dengan makanan lain, tentu akan disukai bayi.

Selain itu, wortel juga mudah dicerna sekaligus dapat melancarkan buang air besar berkat kandungan serat yang dimilikinya. Sebelum diolah, kupas wortel lalu cuci di bawah air mengalir hingga bersih. Kemudian, potong wortel memanjang seperti bentuk stik.

Cara memasak wortel sebagai makanan untuk mengenalkan tekstur MPASI 9 bulan dapat dikukus atau dipanggang. Kukus wortel selama 10 hingga 15 menit sampai Ibu mendapat tekstur yang cukup empuk tanpa menghilangkan kandungan nutrisinya.

Jika ingin sedikit berbeda, wortel panggang juga tidak kalah lezat sebagai panganan bayi. Caranya, olesi wortel yang sudah dibersihkan dan dipotong tadi dengan minyak sayur. Lalu, taburi dengan sedikit merica atau bubuk kayu manis untuk menambah rasa. Panggang wortel selama 20 menit dan finger food wortel siap disajikan.

Buah Bit
Buah berwarna merah keunguan ini biasa diolah menjadi makanan campuran bubur agar si Kecil lebih mengenal tekstur MPASI 9 bulan. Selain rasa manisnya yang pas untuk lidah bayi, buah bit juga terkenal kaya nutrisi.

Beberapa kandungan nutrisinya yaitu serat dan vitamin C yang membantu melancarkan pencernaan bayi. Namun, Ibu juga dapat menyulap buah bit menjadi finger food yang lezat untuk bayi, lho. Cara mengolah bit sama seperti wortel, ibu dapat mengukus atau memanggangnya.

Kentang
Jika si Kecil baru mencoba dikenalkan kepada tekstur MPASI 9 bulan, kentang yang dihaluskan merupakan salah satu makanan yang tepat. Kandungan karbohidratnya membuat kentang menjadi sumber energi yang baik untuk si Kecil.

Agar gizi kentang tidak rusak, Ibu bisa merebus kentang dengan utuh tanpa memotongnya. Sebab, merebus kentang yang sudah dipotong-potong akan mengurangi kandungan potasium di dalamnya.

Potasium merupakan salah satu kandungan yang baik untuk perkembangan fungsi saraf dan otot bayi. Selain direbus, kentang goreng dapat menjadi finger food yang lezat untuk si Kecil. Sebaiknya, Ibu menggunakan minyak zaitun sebagai pengganti minyak goreng yang tinggi kandungan lemak jenuh.

Brokoli
Sayuran kaya manfaat ini mengandung banyak nutrisi yang berguna bagi tumbuh kembang bayi. Kalsium yang terdapat di brokoli membantu pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat. Selain kandungan vitamin dan kalsium, brokoli memiliki tekstur yang lembut dan mudah dipegang.

Cara terbaik memasak brokoli untuk mengenalkan tekstur MPASI 9 bulan adalah dengan dikukus atau direbus. Untuk menambah cita rasa, Ibu dapat menambahkan parutan keju cheddar yang juga tinggi kalsium.

Pir
Buah pir memiliki kandungan yang baik untuk bayi, diantaranya adalah vitamin C, kalsium, kalium, dan fosfor. Rasanya yang manis dan segar, sangat pas dinikmati sebagai camilan sehat agar si Kecil lebih mengenal tekstur MPASI 9 bulan.

Untuk penyajiannya sangat mudah untuk Ibu ikuti. Kupas, lalu potong-potong buah pir secara memanjang. Teksturnya yang empuk akan sangat mudah dikonsumsi oleh si Kecil.

Apel
Hampir sama dengan pir, apel juga memiliki tekstur yang empuk, renyah, dan rasanya manis. Apalagi nutrisi yang dikandungnya, seperti vitamin A, vitamin C, vitamin E, magnesium, fosfor, dan potasium, membuatnya sangat baik untuk jadi pilihan finger food bayi. Apel juga direkomendasikan untuk mengatasi sembelit pada bayi lho, Bu. Untuk penyajiannya sama dengan pir, kupas kulitnya lalu potong memanjang.

Mangga
Pilihan buah lainnya untuk digenggam oleh si Kecil adalah buah mangga. Buah berkulit hijau dengan warna daging kuning ini memiliki tekstur yang empuk dan mengandung vitamin C, beta karoten, dan kalium.

Beta karoten dipakai oleh tubuh untuk memproduksi vitamin A dalam menjaga kesehatan mata, kulit, dan tulang bayi. Sementara kalium berfungsi untuk membantu jantung, otot, dan saraf dalam tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Kalium juga bermanfaat dalam mengatur tekanan darah dan menyeimbangkan cairan dalam tubuh.

Pisang
Terakhir, ada buah pisang yang kaya potasium, magnesium, zat besi, dan kalsium. Dikarenakan kaya nutrisi tersebut pisang banyak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh si Kecil agar lebih mengenal tekstur MPASI 9 bulan.

Buah pisang dapat membantu perkembangan fungsi otot dan mengoptimalkan detak jantungnya. Pisang juga kaya karbohidrat, Bu, sehingga dapat dijadikan alternatif makanan saat ia sedang susah makan.

Selain dapat memasok energi, pisang juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Ibu dapat menyajikannya dalam bentuk mangga utuh yang dipotong kecil-kecil atau dikreasikan menjadi bubur mangga oatmeal.

Caranya, campurkan oatmeal instan dengan air mendidih. Kemudian diamkan selama lima menit hingga teksturnya mengental. Blender buah mangga dan oatmeal sampai setengah halus. Terakhir, masukkan ASI atau susu pengganti ASI dan blender lagi sampai benar-benar halus.

Alpukat
Alpukat memiliki kandungan asam lemak omega 3 yang tinggi, protein, kolin, dan antioksidan. Berbagai nutrisi tersebut berperan penting dalam mendukung perkembangan otak bayi.

Tekstur alpukat yang lembut dan creamy menjadikannya cocok dijadikan finger food yang ideal untuk si Kecil lebih kenal dengan tekstur MPASI 9 bulan. Ibu cukup potong-potong alpukat menjadi bentuk dadu berukuran kecil dan sajikan.

Ikan rebus tanpa tulang
Ikan rebus menjadi salah satu makanan yang cocok untuk finger food. Tahukah Ibu bahwa kandungan Omega 3 yang terkandung pada ikan sangat bermanfaat bagi perkembangan otak, sistem saraf, dan penglihatan si Kecil.

Selain mencampurkannya ke dalam bubur, Ibu juga bisa menyajikan kepada si Kecil berupa potongan ikan rebus yang telah dihilangkan durinya. Hal ini bertujuan agar si Kecil bisa cepat mengenal tekstur MPASI 9 bulan.

Ayam dan daging rebus
Ayam dan daging adalah sumber protein yang baik. Selain mencampurkan ke dalam bubur, Ibu juga dapat memberikan ayam dalam bentuk finger food.

Sajikan dengan cara direbus terlebih dahulu kemudian di potong-potong atau campurkan dengan tepung lalu direbus. Pilih cara penyajian yang sesuai dengan kemampuan menggenggam dan mencerna si Kecil ya, Bu.

Mudah bukan mengolah berbagai finger food sebagai cara memperkenalkan tekstur MPASI 9 bulan di atas? Pada 12 bulan pertama bayi, sebaiknya hindari juga makanan dengan potongan yang besar, kecil, keras, dan terlalu lengket.

Tak berhenti dengan pemberian makanan bergizi saja, Ibu juga perlu menunjang nutrisi si Kecil dengan tetap memberikannya ASI. Jika perlu, Ibu bisa mengonsumsi asupan nutrisi pendukung untuk memastikan kualitas dan kuantitas ASI.

4 Resep ASI Booster Alami untuk Busui

Ada beragam ASI booster alami yang bisa jadi pilihan Ibu menyusui untuk meningkatkan kualitas dan produksi ASI. Meski begitu, ternyata pilihan ASI booster alami ini tidak selalu bekerja di setiap Ibu. Masing-masing memiliki jenis ASI booster alami yang tepat untuk tubuh sehingga manfaatnya benar dirasakan oleh Ibu dan si Kecil.

Primagro tebus murah
Hal ini karena setiap tubuh Ibu punya karakter, latar belakang dan selera makan yang berbeda. Sehingga hal ini yang kemudian memengaruhi efektivitas dari ASI booster alami.

Oleh karena itu, Ibu jangan hanya terpaku dan tergantung dengan satu jenis ASI booster alami saja. Jangan ragu mencoba ragam booster demi tumbuh kembang si Kecil yang optimal dan baik.

Menurut penelitian, ASI booster alami biasanya dibutuhkan oleh Ibu terutama saat mulai memberikan MPASI kepada si Kecil di usia 6 bulan. Karena sudah diselingi dengan makanan, kebutuhan si Kecil akan ASI menjadi berkurang yang sejalan dengan produksi ASI.

Supaya proses perkembangan si Kecil tidak terhambat mari simak bersama informasi mengenai varian ASI booster alami yang bisa Ibu konsumsi.

Variasi ASI Booster Alami untuk Ibu Menyusui
Berikut adalah sejumlah bahan makanan sehat yang dipercaya bisa menjadi ASI booster alami yang baik untuk dikonsumsi Ibu di masa menyusui:

Daun Katuk
Sebagai ASI booster alami, daun katuk sudah lama dipercaya oleh masyarakat untuk meningkatkan produksi ASI. Daun katuk memiliki senyawa yang bisa merangsang hormon prolaktin untuk melancarkan ASI. Meski begitu, Ibu perlu konsumsi dalam jumlah yang cukup banyak supaya daun katuk bisa bekerja dengan baik sebagai ASI booster alami.

Edamame
Edamame adalah salah satu jenis bahan makanan yang sehat karena bebas gluetn, rendah kalori dan tidak mengandung kolesterol. Selain itu edamame juga tinggi protein dan asam folat sehingga termasuk ASI booster alami yang bisa meningkatkan produksi dan juga kualitas ASI.

Kurma
Sebagai ASI booster alami, kurma mengandung kalium yang bisa merangsang hormon prolaktin yang bisa merangsang kelenjar payudara untuk memproduksi ASI. Selain itu, kurma juga bisa melindungi tubuh dari radikal bebas karena kandungan antioksidannya.

Asparagus
Sayuran ini termasuk ASI booster alami karena memiliki sifat estrogenik yang bisa meningkatkan kadar hormon prolaktin di dalam tubuh. Selain itu, asparagus mengandung flavonoid dan saponin yang bisa meningkatkan dan menjaga sekresi ASI. Bonusnya, asparagus akan menjaga kesehatan pencernaan dan menurunkan tekanan darah Busui.

Ikan
Ikan sebagai sumber protein hewani adalah salah satu ASI booster alami yang juga mengandung omega 3, asam lemak dan berbagai vitamin serta mineral. Ikan juga bisa meningkatkan prolaktin dan oksitosin pada Ibu menyusui.

Resep ASI Booster Alami untuk Ibu Menyusui

Selain bahan makanan di atas, berikut ini sejumlah resep ASI booster alami yang bisa Ibu buat dari berbagai bahan makanan yang sehat. Selain rasanya enak, kombinasi nutrisi dari beragam bahannya bisa meningkatkan produksi dan kualitas ASI Ibu.

Banana Milkshake

Banana Milkshake sebagai ASI Booster Alami
Bahan-bahan:
500 g daging buah pisang cavendish
150 g es krim vanilla
100 ml susu Frisian Flag PRIMAMUM yang diseduh
1/2 sdt ekstrak vanilla
whipping cream, kocok kaku

Cara Membuat:
Potong-potong daging buah pisang ke dalam bentuk dadu 1,5 cm. Simpan dalam freezer hingga beku.
Masukkan pisang, es krim vanilla, susu Frisian Flag PRIMAMUM, dan ekstrak vanilla ke dalam blender. Haluskan.
Tuang ke dalam gelas saji. Berikan whipping cream di atasnya sebagai topping. Sajikan segera.

Smoothies Blueberry and Peanut Butter

Smoothies Blueberry and Peanut Butter sebagai ASI Booster Alami
Bahan-bahan:
1 cangkir susu Frisian Flag PRIMAMUM yang diseduh
1/2 pisang beku
1/3 cangkir gandum atau oat
1 cangkir blueberry beku
2 sdm selai kacang

Cara Membuat:
Masukkan semua bahan ke dalam blender.
Tutup blender, hancurkan hingga semua bahan tercampur halus sekitar 30 detik.
Sajikan dan konsumsi segera.

Lactation Cookies

Lactation cookies sebagai booster asi alami
Bahan-bahan:
1 cup mentega
1 cup gula pasir
1 cup brown sugar padat
4 sdm susu Frisian Flag PRIMAMUM yang diseduh
2 sdm flaxseed bubuk
2 butir telur
1 sdt vanili
2 cup tepung terigu
1 sdt baking soda
1 sdt garam
3 cup oat
1 cup chocolate chips
2-4 sdm brewer’s yeast

Cara Membuat:
Panaskan oven hingga 180ᵒ C.
Campur flaxseed dan air, kemudian diamkan selama 3-5 menit.
Kocok mentega, gula, dan brown sugar hingga tercampur rata.
Tambahkan telur dan campur rata.
Tambahkan campuran flaxseed dan susu Frisian Flag PRIMAMUM yang diseduh, kocok kembali hingga tercampur rata.
Ayak bahan kering berupa tepung terigu, brewer’s yeast, baking soda, dan sedikit garam.
Tambahkan bahan kering tersebut ke campuran mentega.
Masukkan oat dan chocolate chips. Aduk rata.
Ambil sesendok adonan, letakkan di atas loyang, dan pipihkan. Lakukan terus sampai adonan habis.
Panggang selama 12 menit.
Biarkan kue dingin selama beberapa saat sebelum dipindahkan dari loyang.
Lactation cookies siap dihidangkan.

Jus Kurma

Jus Kurma sebagai ASI Booster Alami
Bahan-bahan:
6-7 butik buah kurma
60 ml air
150 susu Frisian Flag PRIMAMUM yang diseduh

Cara membuat:
Buang biji kurma dan rendam buah kurma di dalam air selama 8 jam
Masukkan kurma ke dalam lemari es selama 2-4 jam
Masukkan blender yang sudah dibekukan, susu Frisian Flag PRIMAMUM yang diseduh dan air rendaman kurma
Jus kurma siap disajikan
Itulah sejumlah pilihan ASI booster alami yang berasal dari berbagai jenis bahan makanan dan beberapa resep ASI booster alami yang bisa Ibu coba praktekkan di rumah. Selain menjadi cemilan yang lezat, ASI booster alami ini sangat berperan untuk kebutuhan nutrisi si Kecil.

5 Macam Vitamin untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak

Kondisi cuaca sedang tidak menentu ya, Bu? Anak-anak, terutama yang berusia bayi, sangat rentan terserang penyakit, nih. Daya tahan tubuh bayi memang masih lemah, sehingga lebih mudah sakit. Untuk menjaga daya tahan tubuh atau imunitas bayi ada cara yang mudah kok, Bu, yaitu dengan memberikan asupan vitamin. Bukan suplemen ya, melainkan vitamin alami yang mudah ditemukan di sekitar kita. Kira-kira, apa saja ya macam vitamin untuk daya tahan tubuh anak?

Jenis Vitamin Untuk Perkembangan Anak

Vitamin A
Vitamin A lebih dikenal sebagai zat yang bermanfaat bagi sistem penglihatan. Namun ternyata vitamin ini juga memiliki peranan lainnya yang tak kalah penting, yakni untuk menjaga daya tahan tubuh. Vitamin A berperan dalam pembentukan leukosit atau sel darah putih yang mampu melawan dan menangkal virus dan bakteri dari luar yang masuk ke tubuh. Jika sel darah putih diproduksi dengan baik, maka kemampuannya pun jelas lebih optimal.

Sumber vitamin A antara lain ada pada buah dan sayuran berwarna terang seperti wortel, tomat, labu, brokoli, dan semangka. Selain itu juga bisa ditemukan di hati sapi, dan ubi jalar (dengan kulit).

Vitamin B
Vitamin untuk daya tahan tubuh anak juga dapat ditemukan di vitamin B, Bu. Selain mampu menjaga imunitas tubuh bayi supaya selalu sehat, vitamin ini juga memiliki manfaat lainnya bagi tubuh, antara lain untuk menunjang metabolisme dan memproduksi energi. Vitamin B banyak terdapat pada daging ayam, ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, tomat, brokoli, dan bawang putih.

Vitamin C
Peranan vitamin C dalam menjaga dan meningkatkan sistem imun tubuh memang sudah terbukti. Vitamin ini berperan dalam meningkatkan kadar antibodi atau zat yang membentuk kekebalan tubuh, sehingga dapat memperbaiki daya tahan tubuh. Tak hanya itu, vitamin C juga mengandung antioksidan yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi, membantu produksi kolagen yang berperan dalam pelekatan tulang dan otot, serta mencegah kerusakan sel.

Fungsi lainnya dari vitamin C yaitu mengoptimalkan aktivitas leukosit dan mempercepat penyembuhan luka. Beberapa sumber vitamin C yang bisa Ibu berikan kepada bayi antara lain jeruk, stroberi, mangga, kiwi, paprika, brokoli, serta bayam.

Vitamin D
Tak hanya bermanfaat bagi pertumbuhan dan kekuatan tulang dan otot, vitamin D ternyata juga merupakan vitamin untuk daya tahan tubuh anak lho, Bu. Vitamin D dapat membantu memperkuat sistem imunitas tubuh si Kecil serta melawan infeksi.

Sumber vitamin D terbaik adalah sinar matahari yang bisa didapat dengan cara berjemur di pagi hari. Selain itu vitamin ini juga banyak terkandung di dalam telur, minyak ikan, margarin, dan sereal.

Vitamin E
Terakhir, ada vitamin E yang merupakan antioksidan dan berperan penting bagi tubuh si Kecil untuk melindungi kelenjar timus serta memperkuat leukosit untuk melawan infeksi. Banyaknya radikal bebas yang berkeliaran di sekitar si Kecil menyebabkan kerusakan sel tubuh dan membawa virus penyebab penyakit kronis. Di sinilah peran vitamin E sebagai zat antioksidan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Vitamin E cukup mudah ditemukan di sekitar kita. Diantaranya pada buah pepaya, alpukat, bayam, kacang-kacangan (kacang tanah dan almond), dan biji-bijian mentah (biji bunga matahari).

Tips Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak

Nah, itu tadi adalah deretan vitamin untuk daya tahan tubuh anak, Bu. Tak cukup hanya memberikan vitamin, Ibu juga perlu melakukan beberapa tips berikut ini:

Pola makan teratur. Membiasakan si Kecil makan dengan teratur sejak dini dapat membantu memperbaiki sistem kekebalan tubuhnya. Makan sehari sebanyak tiga kali dengan porsi cukup dan gizi seimbang diselingi dengan camilan sehat dua kali.
Tidur cukup. Bagi anak-anak, tidur adalah waktunya bagi tubuh untuk bermetabolisme. Jika waktu tidurnya kurang, maka proses metabolismenya dapat terganggu dan membuat daya tahan tubuh menurun. Jadi, pastikan si Kecil memiliki waktu tidur yang cukup setiap harinya ya, Bu. Setidaknya dalam sehari ia membutuhkan 10 sampai 11 jam per hari.

Rajin berolahraga. Untuk membuat tubuh selalu sehat diperlukan aktivitas fisik yang teratur. Ajaklah si Kecil untuk rajin berolahraga minimal tiga kali per minggu. Berenang, bersepeda, atau bermain bola adalah contoh olahraga yang seru untuk dilakukan bersama si Kecil.
Membiasakan cuci tangan. Mencuci tangan merupakan kebiasaan sederhana tapi membawa dampak besar, karena tangan adalah media bersarangnya bakteri, virus, dan kuman penyakit yang bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Dengan rutin mencuci tangan akan memperkecil risiko benda asing yang berbahaya masuk ke tubuh si Kecil.

Bila kini si Kecil sedang kurang sehat, segera berikan vitamin untuk daya tahan tubuh anak ya, Bu. Jangan lupa lakukan juga beberapa tips di atas supaya hasilnya lebih maksimal, sebab kesehatan si Kecil adalah hal penting yang harus selalu dijaga. Semoga si Kecil terus sehat dan tumbuh kembangnya optimal, Bu!

Jangan Panik, Begini Cara Merawat Rambut Bayi yang Rontok

Rambut yang rontok tidak hanya terjadi oleh orang dewasa, tapi bayi yang baru lahir pun mungkin bisa mengalaminya. Tak jarang, kondisi tersebut membuat orangtua cemas dan was-was. Apabila anak Anda mengalami hal ini, jangan panik dulu ya Bu, mari ketahui beberapa penyebab rambut bayi rontok dalam ulasan di bawah ini.

Cara Merangsang Pertumbuhan Rambut Bayi

Tidak, rambut bayi baru lahir yang rontok adalah hal yang normal terjadi dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan.

Pasalnya, hampir sebagian besar bayi baru lahir akan kehilangan sebagian atau seluruh rambutnya dan kondisi ini dikenal dengan nama alopecia.

Bayi kerap mengalami rambut yang rontok selama enam bulan pertama setelah lahir.

Ketika bayi Anda memiliki rambut sejak lahir, Anda mungkin akan mendapati rambutnya yang rontok di usia sekitar 2 hingga 6 bulan.

Meski terbilang normal, tapi jika bayi Anda masih mengalami kerontokan rambut setelah ia berusia 6 bulan atau lebih, segera konsultasikan dengan dokter.

Hal ini bisa menjadi tanda bahwa bayi Anda tidak mendapatkan nutrisi yang cukup seperti kekurangan protein atau mungkin memiliki masalah medis lain.

Kendati begitu, pada dalam kebanyakan kasus, kerontokan rambut pada bayi bukan masalah yang serius dan biasanya akan segera tumbuh kembali.

Minyak Essensial untuk Bayi: Jenis, Manfaat, dan Cara Pakainya
Menggunakan essential oil untuk bayi sudah dilakukan oleh para ibu secara turun temurun. Namun tahukah ibu? Ternyata tidak semua minyak essensial itu aman untuk bayi lho. Yuk, simak jenis minyak essensial yang aman serta cara penggunaannya berikut ini. Apa saja jenis-jenis essential oil untuk bayi yang berkhasiat? Minyak essensial memang memberikan berbagai manfaat untuk tubuh. Namun, ibu […]

Penyebab Rambut Bayi Baru Lahir Bisa Rontok

minyak untuk melebatkan rambut bayi

Ada beberapa alasan kenapa bayi Anda yang baru lahir cenderung mengalami kerontokan rambut dalam beberapa bulan pertama kehidupannya.

Namun, sebagian besar penyebab rambut bayi rontok sebenarnya tidak berbahaya, di antaranya sebagai berikut.

1. Perubahan hormon
Jenis kerontokan rambut bayi yang disebabkan oleh perubahan hormon ini dikenal sebagai telogen effluvium.

Selama kehamilan, ada banyak hormon baik dan sehat yang mengalir ke bayi Anda.

Akan tetapi, setelah bayi lahir, kadar hormon akan turun sehingga dapat menyebabkan rambutnya rontok untuk sementara waktu.

2. Cradle cap
Cradle cap (dermatitis seboroik) adalah kondisi kulit yang umum dan tidak berbahaya yang sering menyerang bayi baru lahir.

Biasanya, cradle cap muncul di kulit kepala atau wajah dan terlihat seperti kasus ketombe yang parah. Kendati begitu, belum diketahui persis apa yang menyebabkan cradle cap.

Namun, para ahli memperkirakan lebih mungkin kondisi ini terjadi pada bayi yang memiliki kulit kepala yang sangat berminyak sehingga jenis ragi yang disebut malassezia dapat tumbuh.

Kondisi ini bukan suatu hal yang mengkhawatirkan karena cradle cap pada bayi Anda akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan.

Cara Memilih Sabun untuk Kulit Bayi yang Sensitif
Kulit bayi lebih sensitif dibanding orang dewasa sehingga banyak produk perawatan kulit yang dirancang khusus untuk si kecil. Kalau tidak hati-hati, kulit bayi yang masih sensitif bisa iritasi bahkan sampai terjadi peradangan. Selain itu, ada sebagian bayi yang kulitnya lebih sensitif dibandingkan dengan yang lainnya. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memilih sabun bayi […]

3. Gesekan saat tidur
Bayi Anda mungkin akan mengalami kerontokan rambut di bagian belakang kulit kepala karena rambutnya yang sering bergesekan dengan permukaan kasur yang keras.

Melalui situs Seattle Children’s Hospital, disebutkan bahwa kebiasaan ini paling sering terjadi pada bayi berusia 3 hingga 6 bulan.

Meski begitu, Anda tidak perlu panik karena rambut akan tumbuh kembali setelah bayi Anda mulai bisa duduk.

4. Alopecia areata
Alopecia areata adalah kondisi kulit yang menyebabkan bintik-bintik botak di kepala tapi bukan hal yang membahayakan atau menular.

Kondisi ini disebabkan oleh cacat pada sistem kekebalan tubuh yang menyebabkannya menyerang dan menghancurkan sel-sel rambut yang sehat.

Meski begitu, alopecia areata sangat jarang terjadi pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan.

5. Kurap
Ini adalah penyebab umum kerontokan pada rambut bayi yang baru lahir. Kurap terjadi karena adanya jamur yang tumbuh di kulit kepala sehingga menyebabkan ruam merah dan bersisik.

Penyakit kurap biasanya menular dan tidak menginfeksi anak-anak di bawah usia 2 tahun.

Tortikolis pada Bayi, Ketika Kepalanya Terlihat Miring ke Satu Sisi

Tortikolis merupakan kondisi ketika salah satu otot leher mengalami tegang, sehingga menjadi lebih pendek dan menyebabkan kepala miring ke satu sisi. Bukan hanya pada orang dewasa, bayi dan anak-anak juga bisa mengalami kondisi tortikolis yang sama. Bedanya, penanganan pada kelompok usia ini perlu dilakukan sesuai dengan usia masing-masing. Berikut ini adalah penjelasan sekaligus gambar tortikolis pada bayi dan anak.

Apa Itu Tortikolis Pada Bayi

bayi lahir terbungkus

Sama seperti yang dialami oleh orang dewasa, tortikolis pada bayi juga terjadi ketika otot pada leher bayi menyebabkan kepalanya terlihat menengok atau miring ke satu sisi.

Kondisi ini umumnya disadari saat melihat ujung kepala bayi yang lebih condong ke salah satu sisi, sedangkan dagunya miring ke sisi lain.

Meski terlihat mengkhawatirkan, tortikolis sebenarnya merupakan kondisi yang cukup umum dialami oleh bayi dan anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Berdasarkan beberapa penelitian, tortikolis terjadi pada 3 dari tiap 100 bayi. Kondisi ini biasanya juga bisa ditangani dengan mudah.

Kondisi ini sendiri bisa terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut.

1. Tortikolis bawaan
Tortikolis jenis ini merupakan kondisi keturunan (bawaan) dan lebih sering terjadi. Umumnya, kondisi ini tidak menyebabkan gejala lain, seperti rasa nyeri otot.

Tortikolis bawaan biasanya baru disadari setelah bayi berusia beberapa minggu, terutama saat bayi sudah memiliki kemampuan menggerakan kepalanya.

2. Tortikolis yang diperoleh
Tortikolis ini bisa terjadi akibat kondisi lain yang dialami selama masa tumbuh kembang, sering kali terjadi di usia 4 – 6 bulan setelah kelahiran.

Kondisi ini bisa disadari secara tiba-tiba atau perlahan seiring dengan pergerakan tubuh bayi.

Berbeda dari jenis sebelumnya, tortikolis jenis ini bisa menandakan kondisi kesehatan yang lebih serius.

Penyebab tortikolis pada bayi bisa dibedakan berdasarkan masing-masing jenisnya, yaitu sebagai berikut.

1. Tortikolis bawaan
Tortikolis ini terjadi ketika ada pemendekan pada salah satu otot sternocleidomastoid (SCM) , yaitu dua otot besar di leher bayi.

Otot ini yang bertugas menghubungkan tulang tengkorak dengan tulang dada (sternum) dan tulang selangka (klavikula).

Belum diketahui secara pasti penyebab pemendekan tersebut. Namun, diduga hal ini bisa dipicu oleh faktor-faktor berikut.

Posisi janin di dalam rahim.
Pertumbuhan otot SCM yang tidak normal.
Penumpukan darah (hematoma) di otot leher.
Penebalan jaringan otot (fibrosis) di leher.
Sindrom Klippel-Feil, cacat lahir langka yang menyebabkan tulang belakang di leher menyatu.

Mengenal Noonan Syndrome (Sindrom Noonan)

DefinisiApa itu Noonan syndrome (sindrom Noonan)? Sumber: Semantic Scholar Sindrom Noonan atau Noonan syndrome adalah cacat lahir yang disebabkan oleh kelainan genetik dengan berbagai macam gejala, seperti kelainan jantung dan bentuk wajah yang tidak biasa. Sindrom Noonan atau Noonan syndrome adalah kelainan atau cacat kongenital sejak lahir yang membuat tubuh sulit berkembang dengan normal. Selain mengalami kelainan jantung

2. Tortikolis yang diperoleh
Tortikolis jenis ini sering kali terjadi akibat adanya pembengkakan di tenggorokan bayi yang menyebabkan jaringan di sekitar tulang belakang bagian atas mengendur.

Ini bisa tulang belakang bisa bergeser dari posisi normalnya. Akibatnya, otot leher bisa menjadi tegang dan membuat kepala miring ke salah satu sisi.

Pembengkakan tersebut bisa disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti:

infeksi,
cedera,
respons terhadap obat tertentu,
jaringan parut atau bekas luka,
radang sendi di leher (spondilosis servikal),
sindrom Sandifer, kondisi langka akibat GERD disertai kejang leher, atau
sindrom Grisel, komplikasi akibat infeksi kepala dan leher, atau operasi THT (telinga, hidung, dan tenggorokan).
Namun terkadang, penyebab tortikolis yang diperoleh sulit untuk diketahui.

6 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Imunisasi dan Vaksinasi

Imunisasi merupakan program pencegahan penyakit menular yang dilakukan dengan pemberian vaksin. Dengan pemberian vaksin ini, maka orang akan menjadi lebih kebal terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi ini diberikan sejak usia bayi hingga di usia sekolah, biasanya sudah terjadwal pada kurun waktu tertentu sehingga setiap anak dipastikan mendapat imunisasi tepat waktu.

Manfaat Vaksinasi Bagi Balita Sejak Dini

Vaksinasi menjadi salah satu cara mengajarkan bagaimana sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan organisme asing yang masuk ke tubuh. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap jika paparan sebenarnya terjadi. Di masa pandemi ini, imunisasi menjadi bentuk pencegahan yang paling utama. Meski begitu, vaksinasi tidak boleh dilakukan secara sembarang.

Agar pelaksanaannya tepat dan manfaatnya bisa di dapat, Bunda perlu memperhatikan beberapa hal berikut :

Cari Informasi Seputar Vaksin yang akan Diberikan

Sesuaikan pemberian vaksin dengan usia anak. Bunda harus mengetahui vaksin yang diberikan kepada sang buah hati terlebih dahulu. Tanyakan kepada Dokter Spesialis Anak mengenai vaksinasi apa saja yang wajib diberikan, dan jenis apa saja yang menjadi tambahan. Bunda pun bebas bertanya kepada Dokter Spesialis Anak seputar manfaat, dosis, efek samping, sampai dengan harga vaksin sebelum diberikan ke buah hati.

Kenakan Pakaian yang Nyaman

Imunisasi yang dilakukan pada anak usia di bawah 12 bulan sebagian besar dilakukan pada area paha, sehingga sebaiknya Bunda memperhatikan pakaian yang akan dipakaikan kepada sang buah hati. Agar prosesnya berlangsung cepat, kenakan pakaian yang mudah dilepas, terlebih di bagian kaki. Sementara itu, jika anak telah berusia lebih dari 1 tahun, pakaian lengan pendek akan lebih membantu karena vaksinasi sebagian besar diberikan di area lengan.

Pastikan Anak dalam Kondisi Sehat

Bunda wajib memastikan bahwa kondisi sang buah hati dalam keadaan sehat. Jika anak demam atau sedang sakit, sebaiknya tunda untuk melakukan vaksinasi. Setelah anak kembali sehat, Bunda bisa secepatnya menjadwalkan kembali pemberian vaksin. Imunisasi tetap bisa dilakukan meski telah lewat dari tanggal pemberian seharusnya.

Berikan ASI Sebelum Imunisasi

Jangan lupa untuk membuat Si Kecil tetap kenyang sebelum imunisasi. Jika sang buah hati berusia di bawah satu tahun, berikan ASI setidaknya dua jam sebelum vaksinasi, lalu setelahnya tunggu sekitar 15 menit sampai Bunda kembali menyusuinya. Ini akan membuat bayi tidak terlalu rewel ketika akan imunisasi, sedangkan jeda waktu menyusui setelah pemberian vaksin bertujuan untuk menghindari muntah atau gumoh.

Ketahui Efek Sampingnya

Sebagian besar efek samping dari suntikan vaksinasi bersifat ringan, bahkan beberapa tidak menunjukkan adanya efek samping sama sekali. Jika memang terjadi, biasanya berupa kemerahan, bengkak pada area bekas suntikan, dan demam ringan. Jika Si Kecil mengalaminya, kompres area yang bengkak dengan air hangat, dan berikan obat penurun panas apabila memang diperlukan. Jangan lupa, tetap berikan ASI atau air agar ia tidak mengalami dehidrasi.

Pilihlah Rumah Sakit yang Tepat

Di masa pandemi ini, pemilihan rumah sakit untuk imunisasi anak harus sangat diperhatikan. Pilihlah rumah sakit yang menyediakan ruang pelayanan vaksinasi terpisah dengan pelayanan anak yang sakit.

Rumah Sakit Hermina Grand Wisata memiliki ruang pelayanan eksekutif untuk vaksinasi yang terpisah, sehingga Bunda tidak perlu kuatir untuk membawa si kecil imunisasi.

Gejala Cacingan pada Anak, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Sahabat Hermina, cacingan merupakan salah satu penyakit menular pada anak-anak yang masih menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak berusia 5-10 tahun. Meski dapat diatasi dengan pemberian obat cacing, namun jika tidak dilakukan tindakan pencegahan ada kemungkinan infeksi ini berulang kembali.

Cara Mengenali Gejala Cacingan pada Anak

Menempelnya telur cacing di tangan atau kaki anak tanpa sengaja, yang kemudian tertelan dan masuk ke dalam tubuh, adalah salah satu cara penularan infeksi cacing yang paling sering pada anak. Sebagian besar kasus cacingan bisa tidak menunjukkan tanda yang serius. Namun, pada beberapa kondisi, ada ciri khas cacingan yang bisa dikenali, yaitu:

Gatal di sekitar anus, terutama pada malam hari.
Gelisah atau tidak nyaman saat tidur, karena sering menggaruk di sekitar anus.
Mudah marah dan tersinggung.
Kemerahan atau iritasi kulit di sekitar anus.
Sering merasa sakit perut.
Kurang nafsu makan, sehingga bisa menyebabkan penurunan berat badan.
Cara Mencegah Cacingan pada Anak

Pada dasarnya, cara untuk menanggulangi cacingan adalah memutuskan mata rantai penularan cacingan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta mengonsumsi obat cacing. Penerapan pola hidup bersih dan sehat dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:

Cuci tangan secara teratur menggunakan sabun
Bila anak bermain di luar rumah, bisa jadi tangannya terkena tanah atau kakinya yang terdapat telur cacing. Beberapa jenis cacing, seperti cacing tambang, dapat langsung masuk ke dalam tubuh melalui permukaan kulit. Oleh sebab itu, pastikan Anda mengajak si kecil mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun setelah mereka bermain, terutama bila bermain di atas tanah.

Selalu mengenakan pakaian bersih
Biasakan juga anak untuk selalu mengenakan pakaian bersih dan mengganti pakaian setiap hari.

Gunakan alas kaki, terutama jika sedang keluar rumah
Ketika anak bermain dan keluar rumah, gunakan alas kaki yang bersih dan nyaman. Hal ini untuk mengurangi risiko penularan infeksi cacing pada anak.

Gunting kuku secara teratur
Potong kuku anak secara rutin, terutama ketika sudah panjang, sehingga tidak ada cukup ruang untuk pertumbuhan telur cacing.

Konsumsi obat cacing
Jika perlu, konsultasikan ke dokter dan berikan obat cacing saat anak memasuki dua tahun. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia tentang Penanggulangan Cacingan, pemberian obat cacing setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali dapat membantu mencegah anak dari cacingan.

Ini Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini untuk Bayi Baru Lahir

Inisiasi Menyusui Dini atau IMD adalah salah satu proses menyusui bayi sesaat setelah bayi dilahirkan. Proses ini dilakukan dengan meletakkan bayi di atas perut atau dada ibunya, setelah itu bayi akan berusaha untuk mencari dan mencapai puting ibu untuk menyusu secara langsung pertama kali.

Ada berbagai manfaat yang bisa dirasakan oleh ibu dan bayi yang melakukan proses inisiasi menyusui dini. Yuk, simak ulasannya dalam artikel ini agar ibu semakin mengetahui pentingnya proses menyusui baik bagi ibu dan bayi.

Pentingnya Melakukan IMD pada Bayi yang Baru Dilahirkan
Bukan hanya Ikatan Dokter Anak Indonesia yang menyarankan untuk melakukan proses IMD, World Health Organization (WHO) juga menyarankan hal yang serupa karena manfaatnya yang baik untuk ibu dan bayi.

Melansir dari WHO, inisiasi menyusui dini bisa dilakukan dalam satu jam pertama setelah bayi dilahirkan. Ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan, seperti:

Meningkatkan imunitas bayi.
Mencegah bayi mengalami infeksi.
Menurunkan risiko kematian pada bayi yang baru dilahirkan.
Meningkatkan ikatan emosional antara ibu dan bayi.
Membantu menstimulasi payudara ibu untuk memproduksi ASI.
Itulah pentingnya melakukan inisiasi menyusui dini pada bayi. Hal ini juga membuat bayi akan mengonsumsi kolostrum yang dihasilkan ibu setelah persalinan. Kolostrum merupakan cairan ASI pertama yang memiliki kandungan nutrisi dan vitamin sangat baik untuk bayi. Oleh karena itu, bayi tidak akan mudah sakit dan mendapatkan imun tubuh yang optimal.

Ini Cara Melakukan Inisiasi Menyusui Dini

Proses IMD biasanya akan dilakukan di ruang persalinan dengan bantuan tenaga medis dan dokter. Setelah bayi dilahirkan, tim medis akan langsung meletakkan bayi di atas perut atau dada dengan posisi kepala menghadap ke arah ibu. Kemudian, beberapa bagian tubuh bayi akan dikeringkan, seperti wajah, kepala, dan bagian tubuh lainnya, kecuali tangan.

Hal ini disebabkan pada tangan bayi masih terdapat amnion. Bau cairan amnion akan membantu bayi untuk menuju payudara ibu dan mencapai puting. Jika ruangan bersalin memiliki suhu yang dingin, biasanya ibu dan bayi akan diselimuti oleh kain hangat dan kepala bayi menggunakan penutup kepala.

Biasanya setelah beberapa menit, bayi baru akan bergerak mencari puting ibunya dengan menggerakkan kaki, bahu, dan tangannya. Saat mencapai puting, bayi akan mulai menyusu. Selama proses menyusu, bayi akan belajar untuk mengkoordinasikan gerakan menghisap, menelan, dan bernapas.

Setelah proses inisiasi menyusui dini selesai, baru bayi akan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Sebaiknya setelah proses pemeriksaan selesai, bayi berada di dalam ruangan dengan ibu agar lebih leluasa untuk melakukan proses menyusui.

Lakukan Ini Agar Produksi ASI Tetap Stabil

Agar proses menyusui tetap berjalan lancar, sebaiknya perhatikan beberapa hal ini agar produksi ASI tetap lancar sehingga ibu bisa menyusui secara optimal:

Tingkatkan Frekuensi Menyusui
Semakin sering ibu menyusui bayi, ternyata bisa merangsang produksi ASI menjadi stabil atau lebih banyak. Lakukan proses menyusui minimal 8 hingga 12 kali sehari untuk mengontrol jumlah ASI. Ibu juga bisa menyusui lebih dari 12 kali agar jumlah ASI semakin meningkat.

Pumping Disela Waktu Menyusui
Saat bayi tertidur, ibu juga bisa melakukan pumping atau memerah ASI untuk meningkatkan jumlah ASI. Cobalah untuk pumping ketika selesai menyusui, bayi melewatkan waktu menyusu, atau bayi mendapatkan ASI menggunakan media lain.

Mengonsumsi Makanan Sehat
Jangan lupa untuk mengonsumsi makanan sehat yang bisa meningkatkan jumlah ASI, seperti sayuran hijau, biji-bijian, kacang-kacangan, hingga ikan dan telur.

Perbanyak Air Putih
Perbanyak mengonsumsi air putih agar ibu tidak mengalami dehidrasi. Kondisi ini membuat jumlah ASI bisa menurun. Jadi, pastikan ibu mengonsumsi air putih minimal delapan gelas setiap harinya.

Gangguan Hormon Dapat Sebabkan ASI Tidak Lancar

ASI dapat keluar melalui proses laktasi, yaitu proses memproduksi dan melepaskan ASI dari kelenjar susu di payudara ibu. Laktasi mulai terjadi pada kehamilan, ketikan perubahan hormonal memberi sinyal pada kelenjar susu untuk membuat susu sebagai persiapan untuk kelahiran bayi.

Hormon yang berkontribusi dalam proses produksi ASI yaitu prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin pada wanita berperan dalam merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI dan fungsi sel tubuh lainnya. Sedangkan hormon oksitosin diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak yang juga penting untuk kelancaran ASI.

Nah, jika hormon pada tubuh ibu terganggu maka bisa menyebabkan ASI tidak lancar. Itulah pentingnya bagi ibu menyusui menjaga kestabilan hormon demi produksi ASI yang cukup.

Hubungan Gangguan Hormon dan ASI Tidak Lancar

Beberapa kondisi dapat mengganggu pelepasan hormon oksitosin, yang dapat menyebabkan ASI tidak lancar. Jika ibu mengalami rasa sakit setelah melahirkan, misalnya sakit karena pasca menjalani persalinan caesar, rasa sakit tersebut bisa mengganggu pelepasan hormon oksitosin.

Selain itu, jika ibu pernah menjalani operasi payudara, maka kemungkinan terjadi pemotongan saraf di sekitar puting. Hal tersebut juga bisa menjadi masalah pada produksi ASI. Saraf di puting susu diperlukan untuk memberi sinyal pada otak untuk melepaskan oksitosin dan prolaktin, sehingga membuat ASI mengalir.

Kerusakan saraf di area puting dapat mengganggu refleks dan pengeluaran ASI dari payudara. Karena saraf tidak dapat menghantarkan sinyal ke otak, sehingga pelepasan hormon oksitosin dan prolaktin tidak terjadi.

Perlu diketahui, stres, kelelahan, penyakit, rasa takut dan malu, gaya hidup, hingga kebiasaan merokok dapat mengganggu stabilitas hormon yang menyebabkan ASI tidak lancar.

Selain faktor di atas, berikut ini beberapa penyebab gangguan hormon yang mempengaruhi kelancaran ASI:

Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen. Ketika ada perubahan keseimbangan antara hormon estrogen dan prolaktin, hal itu dapat mempengaruhi suplai ASI. Alat kontrasepsi yang mengandung estrogen diketahui dapat menyebabkan penurunan produksi ASI.
Depresi. Kadar hormon prolaktin dan oksitosin dapat menurun pada ibu yang mengalami depresi.
Penggunaan dot terlalu dini pada bayi. Saat bayi menyusui langsung ke payudara, maka semakin banyak hormon prolaktin yang akan dihasilkan. Ketika bayi menggunakan dot, maka kesempatan untuk meningkatkan hormon prolaktin akan berkurang.
Obesitas. Kelebihan berat badan maupun terlalu kurus dapat menyebabkan gangguan hormon.

Cara Menstimulasi Pelepasan Hormon Supaya ASI Lancar

Jika ibu mengalami gangguan hormon yang berkontribusi pada kelancaran ASI, ada beberapa cara untuk memicu produksi hormon. Beberapa upaya yang dapat ibu lakukan yaitu:

Menyusui atau memompa ASI lebih sering.
Mengonsumsi makanan sehat, bahan-bahan herbal, dan suplemen yang membantu meningkatkan kadar prolaktin.
Berpelukan dengan bayi untuk meningkatkan pelepasan hormon oksitosin.
Relaksasi tubuh untuk mengurangi stres.
Mandi air hangat atau kompres hangat ke payudara.
Terlibat kontak skin to skin dengan bayi.
Pijat lembut payudara.
Hindari alkohol dan merokok.
Jika kesakitan, minum obat pereda nyeri yang diresepkan dokter.

Cara Cepat Hamil Usai Berhenti Minum Pil KB

Ada banyak pilihan kontrasepsi yang tersedia dan bisa digunakan untuk menunda terjadinya kehamilan. Sudah pasti, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satunya adalah pil KB, metode yang banyak dipilih ibu untuk menunda memiliki momongan.

Namun, sering muncul pertanyaan, apakah bisa segera hamil setelah berhenti mengonsumsi pil KB? Apakah konsumsinya bisa mengganggu hormon kesuburan ibu? Sudah tentu, ini akan membuat ibu merasa cemas, terlebih jika sudah merencanakan untuk kembali memiliki buah hati sebagai pelengkap keceriaan keluarga.

Pil KB Tidak Berpengaruh Terhadap Tingkat Kesuburan

Sehingga, ibu bisa kembali subur dalam waktu beberapa bulan setelah konsumsinya dihentikan. Bahkan, pada beberapa kasus, pil KB justru membantu memperkuat kesuburan, terutama pada wanita dengan siklus menstruasi tidak beraturan dan menjadi lebih teratur setelah mengonsumsinya.

Sebenarnya, pil KB bekerja dengan cara mencegah terjadinya pembuahan. Jadi, tanpa adanya sel telur, sudah pasti kehamilan tidak akan terjadi. Segera setelah konsumsinya, tubuh akan membersihkan hormon dalam beberapa hari. Jangan cemas jika tiba-tiba muncul bercak perdarahan meski belum waktunya menstruasi, karena ini adalah bentuk reaksi tubuh akibat penghentian konsumsi pil KB.

Tips Cepat Hamil Setelah Berhenti Konsumsi Pil KB

Sekarang, kamu telah berhenti mengonsumsi pil KB dan bersiap untuk hamil kembali. Nah, coba terapkan tips berikut agar kehamilan bisa segera terjadi:

1. Hitung Masa Subur
Tetap saja, hal ini penting dilakukan. Pasalnya, kehamilan tetap sulit terjadi jika kamu melewatkan atau tidak mengetahui periode masa subur. Cara menghitungnya bisa secara manual menggunakan kalender atau melalui aplikasi kesuburan yang sudah sangat mudah ditemukan.

2. Berhubungan Intim Sebelum Masa Ovulasi
Setelah kamu mengetahui masa ovulasi, selanjutnya adalah mengajak pasangan untuk kembali melakukan hubungan intim sebelum periode itu tiba. Kamu perlu tahu, sperma bisa bertahan hidup hingga tiga hari pada saluran tuba falopi. Namun, sel telur hanya memiliki ketahanan hidup 12 hingga 24 jam setelah ovulasi.

3. Temukan Waktu dan Posisi yang Tepat untuk Bercinta
Memang, tidak ada posisi yang paling efektif untuk bisa cepat hamil, karena semua posisi akan memberikan hasil yang sama asalkan kamu dan pasangan sama-sama nyaman. Namun, posisi wanita yang berada di bawah disinyalir memberikan kemampuan bagi sperma untuk lebih cepat berenang menuju sel telur.

4. Jangan Stres
Ketidakseimbangan hormon akan membuat siklus menstruasi menjadi tidak teratur. Sayangnya, salah satu penyebab hormon yang tidak stabil ini adalah stres. Jadi, sebisa mungkin kendalikan stres agar tidak memengaruhi siklus menstruasimu. Kamu bisa melakukan banyak hal, seperti olahraga, membaca buku, melakukan hobi, mendengarkan musik, hingga meditasi dan yoga.

5. Konsumsi Makanan Sehat
Jangan sampai lupa untuk selalu menjaga asupan makanan kamu agar tetap seimbang dan sehat. Makanan sehat akan membantu tubuh mempersiapkan kehamilan dengan lebih cepat. Makanan kaya asam folat, vitamin E, dan antioksidan baik dikonsumsi karena bisa menjaga kesuburan, juga melindungi DNA dalam sel telur dan sperma.

Waspadai Efek Mengonsumsi Pil KB saat Hamil

Kontrasepsi adalah hal yang penting bagi pasangan suami istri yang sedang menunda atau mencegah kehamilan. Biasanya kontrasepsi akan dipilih atau baru digunakan saat istri telah melahirkan anak pertama. Salah satu jenis yang cukup banyak digunakan adalah pil KB yang wajib dikonsumsi secara rutin oleh sang istri.

Pil KB nyatanya merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling populer di Indonesia. Efektivitas pil KB dalam mencegah kehamilan bisa mencapai 92 persen. Namun, nyatanya wanita masih bisa hamil saat konsumsi pil KB.

Ini terjadi lantaran mereka kurang disiplin dalam mengonsumsi pil KB secara rutin. Penting diingat bahwa bahaya bisa muncul saat ibu ternyata masih rutin konsumsi pil KB saat hamil. Ingin tahu apa saja efeknya? Ini ulasannya!

Efek Konsumsi Pil KB Saat Hamil

Ada kalanya kehamilan terjadi tanpa direncanakan sebelumnya oleh pasangan suami istri. Saat masih konsumsi pil KB, ibu baru mengetahui status kehamilan saat tanda-tanda kehamilan mulai jelas terlihat.

Meskipun sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keamanan serta efek samping yang ditimbulkan oleh pil KB, hingga kini masih belum banyak studi yang dilakukan mengenai dampak penggunaannya selama kehamilan. Namun, dicurigai terdapat beberapa efek yang bisa terjadi karenanya. Di antaranya:

1. Meningkatkan Konsentrasi Vitamin A
Berdasarkan sejumlah penelitian mengenai hubungan penggunaan kontrasepsi oral dan kelainan janin, ditemukan bahwa pil KB mengandung hormon eksogen yang bisa meningkatkan konsentrasi vitamin A pada tubuh ibu hamil.

Konsentrasi vitamin A ini nyatanya tidak baik untuk kesehatan janin karena bisa menimbulkan efek teratogenik. Secara sederhana, teratogenik merupakan kelainan yang ditimbulkan oleh zat vitamin A kepada bagian tubuh janin.

Umumnya, ini akan menyebabkan kelainan pada struktur mata janin, seperti kerusakan pada retina. Selain itu, terdapat pula efek pada sistem saraf pusat yang ditandai oleh kelainan seperti hydrocephalus. Kelainan yang lain berupa kecacatan pada struktur jantung, kelainan telinga, dan kelainan pada pembentukan struktur tulang tengkorak pada janin.

2. Menurunkan Konsentrasi Asam Folat
Tidak hanya itu, konsumsi pil KB selama hamil juga dapat menurunkan konsentrasi asam folat pada tubuh ibu hamil. Asam folat adalah nutrisi yang cukup penting selama kehamilan. Asam folat adalah zat esensial untuk pembentukan struktur tubuh janin serta organ dalam janin agar bisa berkembang dengan sempurna. Saat asam folat berkurang, maka tingkat risiko kecacatan janin bisa meningkat.

Namun, tidak semua penelitian mengatakan hal yang serupa. Misalnya penelitian yang dilakukan pada 2016 oleh kolaborasi tim peneliti dari Universitas Harvard dan Stanford di Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa penggunaan pil KB pada saat kehamilan maupun sebelum kehamilan nyatanya tidak akan berdampak secara negatif untuk janin, dari sisi kesehatan dan tidak ditemukan adanya risiko yang buruk terhadap kehamilan.

Tidak hanya mereka, terdapat 10 penelitian lain yang dilakukan pada 1990 dengan tujuan untuk menyelidiki efek pil KB terhadap kehamilan. Hasilnya, tidak terdapat hubungan yang jelas dan tetap antara mengonsumsi pil KB saat waktu kehamilan dan kecacatan yang terjadi pada janin. Namun, mereka telah menemukan bahwa terdapat kemungkinan adanya cacat jantung janin yang ditimbulkan oleh konsumsi pil KB saat kehamilan berlangsung.

Meskipun persentasenya kecil sekali. Secara spesifik, kelainan tersebut adalah hypoplastic left heart syndrome, yakni kecacatan saat bagian kiri jantung janin tidak terbentuk secara lengkap. Alhasil, akan terjadi gangguan pada fungsi jantung dalam menghantarkan darah ke seluruh tubuh.

Tidak hanya itu, kelainan perkembangan saluran cerna seperti pada bagian usus juga bisa terjadi akibat konsumsi pil KB selama hamil. Ini dikenal dengan sebagai gastroschisis, yakni kondisi saat jaringan usus pada janin terletak di luar tubuh. Beberapa kecacatan lain juga bisa muncul, seperti kelainan pada pertumbuhan lengan janin serta kelainan pada pembentukan saluran kemih janin.

Kuncinya, Disiplin saat Konsumsi Pil KB atau Gunakan Metode Lain

Meski masih diperdebatkan, alangkah lebih baik mencegah kecacatan pada janin dengan menerapkan disiplin saat mengonsumsi pil KB. Hindari konsumsi pil KB saat hamil dan pastikan ibu konsumsi pil KB tepat waktu dan jangan pernah melewatinya.

Namun, jika ibu bukan tipe orang yang disiplin, metode kontrasepsi lain juga bisa dipertimbangkan. Ini penting untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan terjadi.

Ibu, Begini Pemulihan Sakit Tifus pada Anak

Anak ibu sering jajan sembarangan? Hati-hati ya terhadap penyakit tifus. Gangguan yang disebut dengan demam tifoid ini terjadi karena terdapat bakteri di dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi anak. Bakteri tersebut menyebarkan infeksi sehingga anak mengalami demam dan perlu segera mendapatkan penanganan. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan juga tidak sebentar. Berikut pembahasan terkait pemulihan sakit tifus pada anak!

Pemulihan Penyakit Tifus pada Anak

Penyakit tifus, atau demam tifoid, adalah penyakit akut yang menimbulkan gejala berupa demam. Gangguan ini disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi dalam air atau makanan yang telah terkontaminasi atau terkena kontak dengan seseorang yang telah terinfeksi. Selain demam, beberapa masalah yang dapat terjadi adalah demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, hingga diare.

Gangguan yang disebabkan oleh bakteri ini dapat menjadi ancaman kesehatan yang serius saat menyerang anak-anak. Peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan anak agar dapat menghindari sesuatu yang dapat meningkatkan risiko, seperti jajan sembarangan, minum air tidak bersih, hingga tidak cuci tangan setelah keluar dari toilet. Tidak menutup kemungkinan saat penyakit tifus terjadi pada anak, perawatan di rumah sakit dibutuhkan.

Meski begitu, demam tifoid biasanya dapat efektif diobati dengan mengonsumsi antibiotik. Sebagian besar kasus dari penyakit ini dapat dirawat di rumah, tetapi jika sudah parah, perawatan di rumah sakit diperlukan. Lalu, bagaimana cara pengobatan yang dapat dilakukan dan langkah pemulihan apa saja harus dijalankan? Berikut penjelasannya!

Jika demam tifoid mendapatkan diagnosis dini, dokter umumnya memberikan resep tablet antibiotik. Umumnya, pengidapnya perlu mengonsumsi obat ini selama 7 hingga 14 hari. Namun, beberapa strain dari bakteri penyebab penyakit tifus ini telah kebal terhadap satu atau bahkan lebih jenis antibiotik. Diagnosis yang tepat harus dilakukan agar antibiotik yang sesuai dapat diberikan.

Gejala yang timbul akan membaik setelah 2 hingga 3 hari pasca mengonsumsi antibiotik. Meski begitu, sangat penting untuk menghabiskan seluruh obat yang diberikan agar dapat memastikan bakteri benar-benar dikeluarkan dari tubuh. Jika gejala semakin parah atau timbul masalah lainnya terkait penyakit tifus yang terjadi pada anak, cobalah untuk menemui dokter segera untuk mendapatkan penanganan medis.

Nah, beberapa metode pemulihan yang harus dilakukan dari penyakit tifus pada anak, antara lain:

Memperbanyak istirahat (bedrest) secara total agar tubuh dapat kembali bugar.
Pastikan anak minum banyak cairan dan makan secara teratur agar nutrisinya tetap terjaga. Memang nafsu makan biasanya menurun, ibu dapat mengakalinya dengan memberikan makanan dengan porsi sedikit tetapi lebih sering, sehingga tubuhnya cepat pulih.
Pentingnya menjaga kebersihan dengan rutin mencuci tangan dengan sabun atau air hangat, agar dapat mengurangi risiko penyebaran infeksi ke orang lain.
Pada anak-anak dengan usia di bawah 5 tahun, sebaiknya tidak langsung menaruhnya di tempat penitipan anak meski terlihat sudah sehat. Hal ini dapat dilakukan setelah tes pada 3 sampel kotoran yang diambil dengan interval 48 jam untuk memastikan jika bakteri tersebut benar-benar sudah tidak ada lagi. Hal ini untuk mencegah penyebaran pada anak-anak lainnya.

Itulah pembahasan mengenai metode pengobatan dari penyakit tifus pada anak dan cara pemulihannya. Jangan biarkan gangguan yang disebabkan oleh bakteri ini terjadi dalam waktu yang lama karena beberapa komplikasi berbahaya mungkin saja terjadi. Pastikan mengajarkan anak tentang praktik kebersihan sejak dini agar terhindar dari penyakit ini.

Cara Diet Ibu Hamil yang Disarankan

Prinsip utama diet ibu hamil (bumil) sebenarnya bukan sekadar menurunkan berat badan atau membatasi kalori saja, melainkan mengacu pada perbaikan pola makan untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, mari kenali diet ibu hamil seperti apa yang sebaiknya Bumil lakukan.

Setiap ibu hamil memiliki berat badan yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi berat badan sebelum kehamilan. Hal ini kemudian akan menentukan target pertambahan berat badan dan pola makan yang dianjurkan selama hamil.

Berat Badan Ibu Hamil yang Disarankan Berdasarkan IMT

Sebelum mengenali tips diet ibu hamil, penting untuk Bumil pahami bahwa ada empat kelompok berat badan ibu hamil beserta target pertambahan berat badannya sesuai Body Mass Index atau Indeks Massa Tubuh (IMT).

Yang pertama adalah kelompok ibu hamil dengan berat badan kurang (IMT <18) yang perlu menambah berat badan sebesar 13-18 kg selama kehamilan. Kemudian kelompok ibu hamil dengan berat badan normal (IMT 18,5-24,9) yang perlu menambah berat badan sebanyak 11,5-18 kg.

Selanjutnya adalah kelompok ibu hamil dengan berat badan berlebih (IMT 25-29,9) yang cukup meningkatkan berat badan sebanyak 7-11,5 kg. Lalu yang terakhir, kelompok ibu hamil obesitas (IMT >30) yang disarankan untuk meningkatkan berat badan hanya sebanyak 5-9 kg selama kehamilan.

Mengingat adanya perbedaan target pertambahan berat badan yang diperlukan selama kehamilan, maka anjuran diet ibu hamil yang dianjurkan juga bisa berbeda-beda.

Ada yang perlu menambah jumlah asupan makanan, namun ada juga yang perlu membatasinya agar tidak berlebihan. Meski begitu, mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan dalam kehamilan harus menjadi fokus utama dalam diet ibu hamil.

Beragam Tips Diet Ibu Hamil yang Dianjurkan

Selama ibu hamil mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, maka kenaikan berat badan tidak perlu dikhawatirkan. Bahkan, ibu hamil dianjurkan makan tiga kali sehari dengan konsumsi camilan sehat secara teratur, sekalipun tidak merasa lapar. Hal itu karena ketika Bumil tidak lapar, belum tentu janin dalam kandungan merasakan hal yang sama.

Hanya saja, Bumil tidak boleh asal makan, Ketahuilah asupan nutrisi seperti apa yang harus dipenuhi. Bila perlu, hitunglah kebutuhan kalori harian Bumil bersama dokter kandungan, kemudian sesuaikan dengan menu makanan Bumil sehari-hari. Pastikan diet atau pola makan yang Bumil jalani mengandung nutrisi yang Bumil butuhkan.

Berikut adalah asupan nutrisi yang perlu diperhatikan dalam diet ibu hamil:

Asam folat
Asupan asam folat yang cukup sangat penting untuk pertumbuhan sel plasenta dan buah hati. Alasannya, asam folat diduga bisa menurunkan risiko gangguan jantung, preeklamsia, dan cacat tabung saraf. Sajian yang kaya asam folat antara lain hati sapi, bayam, brokoli, pisang, dan sereal.

Zat besi
Tidak hanya asam folat, makanan yang mengandung zat besi juga penting bagi ibu hamil. Hal ini karena kebutuhan zat besi selama kehamilan akan meningkat, seiring dengan pertambahan volume darah untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin. Bumil bisa mengonsumsi roti, produk olahan gandum, kacang-kacangan, serta daging merah untuk mendapatkan asupan zat besi.

Yodium
Yodium merupakan mineral yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Kurangnya asupan yodium dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan kretinisme pada bayi yang baru lahir. Contoh makanan yang kaya akan yodium adalah daging, telur, susu, dan garam.

Selain tiga nutrisi penting di atas, Bumil juga perlu mengonsumsi makanan lainnya yang kaya akan protein, vitamin, dan mineral, serta suplemen yang direkomendasikan oleh dokter untuk mendukung kesehatan Bumil dan Si Kecil dalam kandungan.

Diet ibu hamil bukan berarti menurunkan berat badan, namun memperbaiki asupan nutrisi demi mencapai kehamilan yang sehat. Ukurlah berat badan dan IMT sebelum hamil, agar Bumil dapat mengetahui berapa pertambahan berat badan yang disarankan selama kehamilan.

Bumil juga bisa berkonsultasi dengan dokter kandungan mengenai pola makan yang baik bagi ibu hamil serta asupan kalori per hari yang direkomendasikan.

Tetap Tenang Bunda, Ini Tips Merawat Anak Sakit di Rumah

Saat anak sakit, wajar jika Bunda resah dan kadang bingung apa yang harus dilakukan untuk merawatnya. Yuk, cermati apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan agar Si Kecil lekas sembuh.

Merawat anak yang sedang sakit, apalagi yang masih bayi dan balita, memang perlu kesabaran dan ketenangan khusus, Bun. Bunda juga perlu memahami hal-hal penting apa saja yang perlu diperhatikan selama merawat Si Kecil di rumah, termasuk tanda atau gejala yang membutuhkan penanganan dokter segera.

Hal yang Perlu Dilakukan Saat Merawat Anak Sakit di Rumah

Hal pertama yang dapat Bunda lakukan saat merawat anak yang sedang sakit adalah mendengarkan kemauan Si Kecil. Misalnya, jika Bunda ingin ia tidur di kamar tetapi Si Kecil ingin tidur di sofa, coba turuti di mana ia merasa nyaman.

Selain itu, ada juga beberapa hal yang perlu Bunda lakukan agar Si Kecil lekas pulih, antara lain:

1. Menempatkan anak di ruangan dengan sirkulasi udara yang baik
Baik di kamar maupun di ruangan lain, Bunda perlu memastikan sirkulasi udara tempat anak dirawat selalu berjalan. Bunda dapat membuka jendela atau pintu, sehingga pertukaran udara tetap baik.

2. Memberikan asupan bernutrisi
Jika hari pertama sakit Si Kecil tidak mau makan, tidak perlu memaksanya. Tetap tawarkan sedikit demi sedikit agar ia makan, meski hanya beberapa suap. Namun, yang paling penting adalah memastikan anak selalu mendapat asupan cairan yang cukup.

Berikan Si Kecil makanan maupun minuman bernutrisi, seperti susu atau sup ayam. Makanan yang lunak, hangat, dan berkuah mungkin dapat lebih mudah diterima anak yang merasa mual atau sakit tenggorokan.

3. Memastikan anak cukup istirahat
Anak yang sakit menghabiskan lebih banyak energi, sehingga akan sangat lelah dan membutuhkan banyak istirahat. Agar Si Kecil bisa beristirahat dan tidur lelap, Bunda bisa bantu membacakan cerita atau memperdengarkan musik yang menenangkan. Buatlah suasana kamar nyaman untuknya.

4. Tidak sembarangan memberi obat
Bunda bisa memberi Si Kecil obat bebas untuk menurunkan demam atau meredakan nyeri yang ia rasakan. Namun, pastikan Bunda mengerti betul aturan dan cara pemakaiannya. Jangan ragu untuk bertanya kepada apoteker mengenai cara pemakaian obat untuk anak.

Menemani Si Kecil yang sedang sakit tentu dapat membuatnya lebih tenang. Namun, apabila Bunda dan Ayah sama-sama bekerja, cobalah bergantian izin ke kantor untuk merawatnya. Selain itu, jangan sampai Bunda terlalu lelah dan jatuh sakit juga. Bergantianlah dengan Ayah atau anggota keluarga lain agar Bunda bisa beristirahat.

Jika memang Bunda terpaksa meminta bantuan orang lain untuk menjaga Si Kecil, jangan lupa untuk memberikan informasi secara detail tentang kondisi dan kebutuhannya, termasuk daftar obat yang diminum dan buku catatan medis yang mungkin diperlukan jika Si Kecil harus segera dibawa ke dokter.

Gejala-Gejala yang Perlu Diwaspadai Ketika Merawat Anak Sakit di Rumah

Rumah memang bisa menjadi tempat yang lebih nyaman untuk anak saat sedang sakit. Namun, ada kalanya anak membutuhkan pemeriksaan dan perawatan yang lebih memadai. Ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai sebagai tanda anak perlu segera dibawa ke dokter atau unit gawat darurat di rumah sakit, di antaranya:

Tidak mau makan atau minum sama sekali
Terus menerus muntah dan diare, apalagi jika disertai darah
Mengalami demam lebih dari 38 derajat Celsius, terutama jika memiliki riwayat kejang demam
Mengalami gangguan pernapasan yang ditandai dengan batuk berkepanjangan, sesak napas, atau napas pendek dan cepat
Mengalami perubahan status mental, seperti kejang, tidak sadar, tidak dapat berkomunikasi, atau gaduh gelisah
Mengalami tanda-tanda dehidrasi
Permukaan kulit atau bibir yang tampak gelap atau kebiruan
Mengalami kekakuan pada leher
Jika anak menderita penyakit kronis, seperti diabetes atau penyakit jantung bawaan, dan gejalanya terlihat memburuk selama sakit, sebaiknya jangan menunda untuk membawanya ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Bayi Terlalu Lama di Ruangan Ber-AC, Ini Dampaknya

Udara yang sejuk mungkin akan membuat bayi tenang. Tapi jika terlalu lama di ruangan ber-AC, ini efeknya bagi kesehatan si Kecil. Banyak orang tua memasang AC di kamar bayi mereka untuk menjaga ruangan tetap sejuk sekaligus membuat si Kecil anteng.

Ya, mungkin bayi tidak akan terlalu rewel, tapi apakah baik jika mereka terlalu lama berada di ruangan ber-AC? Selain itu, apa saja yang perlu diperhatikan jika menempatkan bayi di ruangan ber-AC?

Simak penjelasan di bawah ini mengenai beberapa bahaya penggunaan AC untuk bayi.

Amankah Menempatkan Bayi di Ruang Ber-AC?

Jawabannya adalah aman. Bayi tidak tahan dengan suhu ruang yang terlalu panas karena penguapan cairan dari tubuh bayi lebih cepat terjadi.

Akibatnya, jika bayi dibiarkan dalam ruangan dengan suhu yang panas, mereka berisiko mengalami dehidrasi, kehausan, hingga heatstroke akibat panas.

Beberapa ahli juga mengatakan bahwa ruangan yang dingin atau memiliki ventilasi yang baik dapat membuat anak tidur lebih nyaman dan menurunkan risiko kematian bayi mendadak.

Artikel Lainnya: Pilihan Makanan Pendamping ASI yang Bikin Bayi Tidur Lebih Nyenyak

Apa Bahaya AC untuk Kesehatan Bayi?

Tak sedikit orang tua yang bertanya mengenai pengaruh AC pada kesehatan bayi.

Udara panas di Indonesia terutama di siang hari terkadang membuat bayi merasa tidak nyaman, gerah dan berkeringat.

Oleh karena itu, penggunaan AC menjadi pilihan terbanyak untuk menjaga ruangan di rumah tetap sejuk dan mendukung bayi tidur lebih nyenyak.

Namun, orang tua tetap perlu waspada dengan efek AC pada bayi. Berikut beberapa bahaya penggunaan AC untuk kesehatan bayi:

1. Hipotermia
Hipotermia adalah kondisi darurat medis ketika suhu tubuh turun drastis hingga di bawah 35derajat Celsius.

Hipotermia bisa menyebabkan penurunan kadar gula darah pada bayi secara drastis, sehingga dapat membahayakan jiwa. Kondisi ini bisa saja terjadi jika bayi berada di dalam ruangan dingin secara terus-menerus.

2. Dehidrasi
Suhu ruangan yang terlalu dingin karena AC dapat membuat udara di sekitarnya menjadi berkurang. Akibatnya, ruangan akan menjadi kering. Kelembapan yang menurun ini dapat meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi.

3. Kulit Kering
Kulit akan mudah menjadi kering karena kelembapan yang ada di sekitar ruangan terserap secara berlebihan pada suhu rendah. Apabila dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin kulit bayi akan menjadi kering.

4. Infeksi di Tubuh
Saat suhu ruangan dingin, saluran pernapasan dan membran mukosa akan mudah menjadi kering sehingga memicu terjadinya infeksi. Membran mukosa berfungsi memberikan perlindungan sehingga mencegah tubuh dari berbagai infeksi.

5. Iritasi Kulit
Kulit yang mudah kering akibat suhu udara dingin mudah memicu timbulnya iritasi, terutama apabila terjadi secara terus-menerus dan tidak segera diatasi. Apalagi barrier kulit bayi belum sesempurna kulit orang dewasa sehingga sangat rentan.

Tips Menggunakan AC untuk Bayi

Sekarang sudah tahu, ‘kan, apa saja bahaya penggunaan AC untuk bayi? Nah, agar bayi aman berada di ruangan ber-AC, ada beberapa tips yang perlu orang tua perhatikan:

1. Jaga Suhu Ruangan Tetap Nyaman
Saat menggunakan AC untuk bayi, sebaiknya pasang termometer dinding agar orang tua dapat mengontrol suhu ruangan tersebut. Suhu ruangan yang optimal adalah antara 23-26 derajat Celsius.

Cara lain untuk menjaga suhu ruangan ber-AC agar tidak terlalu dingin adalah dengan mengaktifkan timer pada AC sehingga AC akan otomatis mati sesuai dengan setting-nya.

2. Hindari Paparan Langsung Udara dari AC
Posisikan bayi sedemikan rupa sehingga bayi tidak mendapatkan paparan langsung udara dari AC. Aliran udara langsung dari AC dapat mempercepat penguapan suhu tubuh bayi sehingga lebih mudah mengalami hipotermia.

3. Pilih Pakaian yang Sesuai untuk Bayi
Ketika berada di ruangan ber-AC, kenakan bayi pakaian panjang dan topi. Hal ini penting untuk mencegah bayi mengalami kehilangan suhu tubuh berlebihan.

Bedong atau selimut juga dapat digunakan pada bayi kecil untuk menjaga kehangatan tubuhnya.

4. Jaga Kelembapan Kulit Bayi dengan Pelembap
Udara kering AC akan membuat kulit bayi mudah kering. Untuk itu, gunakan pelembap pada kulitnya untuk mencegah kekeringan. Menjaga asupan cairan bayi juga penting untuk menghindari kulit kering.

5. Bersihkan AC Secara Rutin
Hal ini sangat penting karena AC yang kotor justru akan membawa penyakit bagi orang tua sekaligus bayi. Untuk itu, rutinlah membersihkan AC setiap bulan agar udara yang bersirkulasi dalam ruangan tetap bersih.

Ingat juga untuk tidak langsung memindahkan bayi ke ruangan panas setelah lama berada di ruangan ber-AC. Tubuh bayi memerlukan proses adaptasi yang lebih lama dibandingkan orang dewasa.

Karena itu, jika orang tua hendak membawa bayi keluar rumah dengan suhu panas, matikan AC beberapa saat sebelum bayi keluar rumah sehingga tubuh si Kecil dapat beradaptasi terhadap perubahan tersebut.

Menggunakan AC dalam kamar bayi memang bermanfaat untuk membuat si Kecil nyaman. Namun, orang tua harus memperhatikan bahwa terlalu lama di ruangan ber-AC akan mendatangkan sejumlah dampak pada tubuh bayi.

Panduan Menyajikan Buah untuk Bayi 6 Bulan

Di awal kehidupan, bayi hanya mendapatkan asupan nutrisi dari air susu ibu (ASI) atau susu formula. Namun, menginjak usia 6 bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI) guna mencukupi asupan nutrisinya. Selain dari sayuran, buah juga bisa menjadi pilihan kaya nutrisi untuk bayi 6 bulan.

Pada usia enam bulan, bayi mulai dapat menyangga kepalanya sendiri, mengatur gerakan lidahnya, serta mulai tertarik dengan makanan. Tanda-tanda ini biasanya menunjukkan bahwa bayi sudah siap untuk menerima makanan selain ASI. Ketika memilih buah sebagai MPASI,untuk menyajikannya sehingga sesuai untuk bayi 6 bulan.

Pilihan Buah yang Tepat sebagai Makanan Pendamping ASI

Seiring perkembangan saluran pencernaannya, bayi usia 6-8 bulan umumnya sudah dapat diberikan makanan bertekstur lembut, seperti bubur saring bayi. Anda bisa membuat bubur bayi sendiri atau menggunakan bubur bayi kemasan yang dijual di supermarket. Jika memilih untuk membuat MPASI sendiri, Anda dapat menghaluskan buah menjadi bubur bayi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Si Kecil.

Selain kaya akan nutrisi, buah-buahan memiliki risiko lebih kecil untuk memicu alergi pada bayi. Beberapa pilihan buah berikut dapat Anda berikan untuk bayi 6 bulan:

Pisang
Pisang memiliki berbagai gizi penting yang dibutuhkan bayi pada masa pertumbuhannya, seperti folat, serat, vitamin A, B6, B12, dan kalium. Tidak hanya itu, pisang juga memiliki tekstur yang lembut dan halus, sehingga bayi tidak kesulitan untuk mencernanya.
Alpukat
Alpukat merupakan sumber lemak tak jenuh yang baik untuk mendukung pertumbuhan bayi. Selain memiliki rasa yang enak, alpukat juga lembut sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai makanan pendamping ASI.
Apel
Apel memiliki ragam nutrisi yang dibutuhkan bayi, seperti vitamin C, K, serat, kalium, dan beragam mineral lain. Anda dapat mengolah apel dengan cara mencampur dengan bahan lain untuk meningkatkan selera makan Si Kecil.
Selain beberapa buah di atas, Anda juga bisa menggunakan semangka, pepaya, tomat, dan nanas sebagai MPASI. Namun, berikanlah kedua jenis buah ini setelah Si Kecil berusia 7-8 bulan, karena buah-buahan tersebut bersifat lebih asam dan dikhawatirkan dapat mengganggu sistem pencernaan bayi yang masih berkembang.

Panduan Mengolah Buah untuk Bayi 6 Bulan

Untuk memperkenalkan buah sebagai MPASI dan meningkatkan selera makan Si Kecil, berikut salah satu cara mudah dilakukan:

Bubur apel dan pir

Bahan:

1 apel dan 1 pir matang.

Cara pengolahan:

Kupas kulit apel dan pir hingga benar-benar bersih.
Potong apel dan pir dalam bentuk dadu.
Panaskan air di panci steamer hingga mendidih, lalu masukkan potongan buah apel ke dalam panci steamer dan kukus selama 2 menit. Setelah itu, masukkan potongan buah pir.
Kukus selama 10 menit, menggunakan api sedang.
Angkat potongan buah tersebut dan dinginkan, kemudian haluskan dengan blender atau food processor.
Tambahkan ASI atau susu formula ke dalam bubur buah bayi sesuai selera.
Ketika memberikan MPASI, jangan terlalu memaksa Si Kecil makan dalam porsi yang besar, karena bayi usia 6 bulan yang baru diperkenalkan pada MPASI biasanya hanya memerlukan 1-2 sendok makanan padat.

Anda dapat mencoba beberapa jenis buah yang dipaparkan di atas sebagai MPASI untuk bayi 6 bulan. Jika Anda ragu apakah Si Kecil sudah siap untuk makan, atau jika Anda ingin mengetahui pilihan MPASI apa yang sebaiknya diberikan sesuai usia Si Kecil, jangan ragu untuk berkonsultasilah dengan dokter.

Kenali Berbagai Jenis Alergi Kulit pada Bayi dan Anak-Anak

Ruam pada kulit yang tidak kunjung sembuh dapat menjadi salah satu indikasi adanya alergi kulit pada bayi dan anak. Kenali jenis-jenis alergi pada kulit, agar Anda tahu gejala dan pemicu dari alergi kulit yang diderita Si Kecil.

Meskipun umumnya alergi tidak berbahaya, namun alergi kulit pada bayi dan anak tidak bisa dianggap remeh. Kondisi ini dapat menyebabkan beragam gangguan lain jika dibiarkan. Bayi dan anak yang kulitnya mengalami alergi juga dapat menjadi lebih rewel dan kurang tidur akibat rasa gatal.

Jenis Alergi Kulit yang Sering Terjadi pada Bayi dan Anak
Alergi kulit pada bayi dan anak bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kulit bersentuhan langsung dengan zat pencetus alergi (alergen). Kedua, ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi dengan melepaskan histamin ke kulit sebagai respons terhadap masuknya alergen ke dalam tubuh.

Beberapa jenis alergi kulit yang sering menimpa bayi dan anak-anak adalah:

1. Gatal-gatal dan bengkak
Gatal-gatal yang dimaksud adalah munculnya bercak atau benjolan berwarna merah dan gatal di permukaan kulit. Gatal-gatal akibat alergi biasanya tidak berlangsung lama, bisa hanya beberapa jam atau beberapa hari, dan dapat sembuh dengan sendirinya.

Alergi kulit juga bisa muncul berupa angioedema. Angioedema adalah pembengkakan pada jaringan di bawah kulit, dan bisa terjadi di berbagai bagian tubuh, seperti di bibir, kelopak mata, atau organ kelamin. Bila terjadi di tenggorokan, angioedema dapat menyebabkan sesak napas.

Gatal-gatal dan agioedema dapat dipicu oleh gigitan atau sengatan serangga, infeksi virus, antibiotik, atau getah tanaman. Selain itu, telur, susu, kedelai, kacang, gandum, dan makanan laut juga bisa menjadi pemicu kondisi ini.

2. Dermatitis kontak
Dermatitis kontak adalah salah satu jenis alergi kulit yang sering terjadi. Keadaan ini dapat muncul akibat kontak langsung dengan zat pemicu alergi. Gejala yang dapat terjadi adalah ruam, gatal yang parah, serta kulit terlihat kering dan bersisik.

Zat pemicu dermatitis kontak sangat beragam, mulai dari sabun, deterjen, parfum, serbuk sari, debu, hingga bulu hewan. Selain itu, kosmetik, bahan kimia, bahan-bahan yang terdapat pada pasta gigi dan obat kumur, obat-obatan yang digunakan pada kulit, dan logam, termasuk jarum untuk tindik telinga bayi, juga bisa menjadi zat pemicu dermatitis kontak.

3. Alergi karena air liur
Jenis alergi kulit pada bayi dan anak berikutnya adalah alergi terhadap air liur yang membasahi mulut dan dagu. Saat terjadi kontak dengan air liur, bayi dan anak yang memiliki alergi ini akan mengalami ruam kemerahan dan munculnya benjolan-benjolan kecil di mulut, dagu, dan dada.

Alergi terhadap air liur kadang tidak disadari oleh orang tua. Ruam dan benjolan kecil yang muncul sering dianggap sebagai reaksi alergi akibat makanan yang dikonsumsi oleh bayi dan anak.

Alergi air liur sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun bila ruam yang muncul terlihat berkerak atau berwarna kuning, Anda perlu segera memeriksanya ke dokter karena ini bisa menandakan adanya infeksi.

4. Eksim
Setidaknya ada 10% anak di dunia yang menderita eksim. Jenis alergi kulit ini dapat terjadi pada bayi dan anak yang menderita alergi makanan, rhinitis alergi, atau asma.

Eksim pada bayi dan anak ditandai dengan munculnya ruam di wajah atau kepala. Ruam ini kemudian menyebar ke dada dan lengan. Selain munculnya ruam, eksim juga sering disertai dengan kulit kering dan menebal, serta infeksi berulang pada kulit.

Penyebab eksim pada bayi dan anak belum diketahui secara pasti, namun hindarilah penggunaan sabun mandi atau deterjen pakaian dengan bahan kimia yang keras, serta handuk atau pakaian yang bahannya kasar pada bayi dan anak, agar eksimnya tidak semakin parah dan untuk mencegah kambuhnya eksim.

Beberapa jenis alergi kulit di atas sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Namun dengan mengetahui pencetusnya, Anda dapat melakukan pencegahan terhadap berbagai kondisi tersebut. Bila perlu, lakukanlah pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui pemicu alergi serta penanganan yang tepat.

Bayi Menangis setelah Disusui? Ini Kemungkinan Penyebab dan Cara Mengatasinya

Bukannya tenang dan tertidur, Si Kecil malah gelisah atau bahkan menangis setelah disusui? Jangan khawatir ya, Bun. Yuk, ketahui apa saja kemungkinan penyebab bayi menangis setelah menyusu dan bagaimana cara mengatasinya.

Umumnya, bayi menangis setelah menyusu jika ia masih lapar atau merasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman ini kadang bisa disebabkan oleh kondisi yang dapat Bunda tangani sendiri di rumah, tapi bisa juga disebabkan oleh kondisi yang lebih serius dan memerlukan penanganan dokter.

Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Menangis setelah Disusui
Berikut ini adalah beberapa penyebab bayi menangis setelah menyusu dan cara mengatasinya yang perlu Bunda ketahui:

1. Banyak udara di dalam perut
Bila Si Kecil menangis saat sedang menyusu atau bila pelekatan antara mulutnya dengan puting Bunda kurang tepat, ini bisa menyebabkan udara masuk ke dalam lambung dan saluran cerna Si Kecil. Kondisi ini akan membuat perut bayi kembung, tidak nyaman, dan akhirnya menangis setelah menyusu.

Untuk mengatasinya, ada beberapa cara yang bisa Bunda lakukan, yaitu:

Sendawakan Si Kecil setiap 5 menit sekali selama menyusu.
Sebisa mungkin susui Si Kecil sebelum ia sangat lapar.
Pastikan posisi Si Kecil dan pelekatan antara puting dengan mulutnya sudah benar.
Bila Si Kecil menyusu dari botol, pastikan dot botol susu memiliki lubang yang agak besar dan terisi penuh oleh susu. Bunda juga perlu menghindari untuk mengocok botol susu terlalu sering.

2. Gumoh
Gumoh sebenarnya normal dan biasanya terjadi bila bayi minum susu terlalu banyak. Selain itu, gumoh juga bisa dipicu oleh udara yang masuk ke lambung bayi ketika ia menyusu. Gumoh sering membuat bayi tidak nyaman, sehingga ia dapat menangis setelah menyusu.

Nah, untuk mencegahnya, Bunda dapat memosisikan tubuh Si Kecil sedikit lebih tegak saat ia menyusu. Lalu, sendawakan Si Kecil setelah menyusu dan gendong ia dalam posisi tegak selama 30 menit setelah menyusu. Namun, ingat! Jangan langsung mengajaknya bermain atau merebahkannya ya, Bun.

3. Kolik
Kolik merupakan kondisi ketika bayi menangis tanpa sebab yang jelas dan biasanya dialami oleh bayi berusia kurang dari 3 bulan. Kolik sebenarnya merupakan hal yang wajar dan bisa mereda dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.

Meski demikian, jika Si Kecil terus-menerus rewel atau menangis, Bunda bisa mencoba beberapa cara berikut untuk mengatasinya:

Letakkan Si Kecil di pangkuan Bunda dan elus punggungnya.
Gendong Si Kecil dan lakukan gerakan seperti mengayun dengan perlahan.
Bawa Si Kecil ke kamarnya yang tenang.
Berikan Si Kecil pijatan yang lembut.
4. Penyakit asam lambung
Penyakit asam lambung tak hanya bisa dialami oleh orang dewasa saja lho, Bun, tapi juga bayi. Penyakit asam lambung pada bayi dapat membuatnya jadi sering muntah, batuk, berat badan tidak bertambah atau malah menurun, dan menangis setelah menyusu.

Bayi menangis setelah menyusu memang tidak melulu pertanda kondisi yang serius, karena bisa saja ini tergolong normal dan dapat membaik dengan sendirinya.

Namun, jika bayi selalu menangis setiap usai menyusu dan penanganan rumah tak dapat menenangkannya, atau kondisi ini disertai dengan gejala lain, seperti muntah dan batuk, segera periksakan ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Memilih Obat Antinyamuk yang Aman untuk Bayi

Obat antinyamuk kerap menjadi pilihan untuk mencegah gigitan nyamuk yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk pada bayi. Namun, Anda harus lebih berhati-hati, karena tidak semua jenis obat antinyamuk aman untuk bayi.

Bayi umumnya memiliki kulit yang masih sensitif. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan produk yang bersentuhan langsung dengan kulit bayi, termasuk obat antinyamuk.

Hal ini karena ada kandungan bahan aktif dan dosis tertentu pada obat antinyamuk yang tidak aman dioleskan ke kulit bayi.

Memilih Obat Antinyamuk yang Aman dan Tepat
Bahan aktif yang umum digunakan pada obat antinyamuk, yaitu diethyltoluamide atau DEET. Zat ini dinilai efektif untuk menangkal gigitan nyamuk. Meski demikian, bayi berusia 2 bulan ke bawah tidak boleh memakai obat antinyamuk mengandung DEET.

Zat aktif lainnya yang tidak boleh digunakan pada bayi dengan usia tersebut, antara lain picaridin (memiliki efek yang sama seperti DEET), IR3535, dan minyak lemon eukaliptus. Khusus obat antinyamuk yang mengandung minyak lemon eukaliptus, Anda baru diperbolehkan mengoleskannya ke kulit si Kecil saat dia berusia tiga tahun ke atas.

Dosis obat antinyamuk juga perlu diperhatikan. Jangan pilih obat antinyamuk yang mengandung DEET sebanyak 30 persen atau lebih. Takaran tersebut tidak direkomendasikan untuk si Kecil. Lagi pula, tinggi rendahnya konsentrasi DEET tidak berhubungan dengan efektivitas menangkal nyamuk.

Sebagai contoh, obat antinyamuk yang mengandung DEET sebesar 10 persen efektif mencegah gigitan nyamuk selama 2 jam. Sementara yang kandungannya 24 persen mampu menangkal nyamuk hingga 5 jam.

Kedua takaran tersebut sama-sama efektif mencegah gigitan nyamuk. Perbedaannya hanya terletak pada jangka waktu perlindungan.

Tips Mengaplikasikan Obat Antinyamuk pada Bayi
Lakukan petunjuk pemakaian di bawah ini agar si Kecil aman dari sengatan nyamuk serta zat-zat yang terkandung dalam obat atau losion antinyamuk:

Hindari mengoleskan obat antinyamuk di sekitar mata dan mulut.
Gunakan obat antinyamuk secukupnya di area telinga.
Berikan obat antinyamuk pada pakaian dan kulit yang tidak tertutup pakaian.
Hindari penggunaan obat antinyamuk bila ada infeksi atau luka pada kulit Si Kecil.
Hindari menggunakan obat antinyamuk bersamaan dengan tabir surya.
Jangan mengoleskan obat antinyamuk ke telapak tangan Si Kecil, karena ia suka memasukkan tangannya ke mulut.
Pastikan Si Kecil tidak memainkan atau menggigit botol obat antinyamuk.
Sebaiknya tidak memilih obat antinyamuk dalam bentuk semprot, karena rentan terhirup Si Kecil. Agar aman, semprotkan dulu ke tangan Anda, lalu usapkan pada kulit Si Kecil.
Selain menggunakan obat antinyamuk, Anda pun bisa mengusir nyamuk tanpa bahan kimia dengan memaikan Si Kecil baju yang menutupi seluruh kulitnya. Memasang kelambu di sekitar tempat tidurnya juga bisa Anda lakukan untuk menghindari Si Kecil dari gigitan nyamuk. Menanam tanaman pengusir nyamuk di rumah juga bisa Anda lakukan untuk menghindarkan anak dari gigitan nyamuk.

Hentikan pemakaian obat antinyamuk jika terjadi iritasi pada kulit Si Kecil. Apabila iritasi tidak kunjung membaik, konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

5 Cara Menyusui yang Benar dan Praktis

Pemahaman tentang cara menyusui yang benar sangat diperlukan oleh para ibu agar proses menyusui berjalan dengan lancar. Bunda jangan berkecil hati jika sering mengalami kesulitan untuk menyusui, karena artikel ini akan membantu Bunda mengatasinya.

Air susu ibu (ASI) mengandung lebih dari 200 nutrisi yang sempurna untuk memenuhi kebutuhan bayi. Seiring dengan tumbuh kembangnya, kandungan nutrisi di dalam ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

Memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan akan menekan risiko diabetes, obesitas, asma, serta penyakit infeksi seperti infeksi telinga, radang paru-paru (pneumonia), meningitis, dan diare. Selain itu, ASI juga mampu meningkatkan kecerdasan bayi.

5 Cara Menyusui yang Benar dan Praktis

Cara Menyusui yang Benar
Beberapa hal berikut ini dapat dilakukan agar proses menyusui mudah dan menyenangkan bagi ibu dan bayi:

1. Pastikan ibu dan bayi berada dalam kondisi relaks dan nyaman
Posisi kepala bayi harus lebih tinggi dibandingkan tubuhnya. Hal ini dimaksudkan agar bayi lebih mudah menelan.
Ibu dapat menyangga dengan tangan ataupun mengganjal dengan bantal. Kemudian, tempatkan hidung bayi sejajar dengan puting. Hal ini akan mendorong bayi membuka mulutnya.

2. Mendekatkan bayi ke payudara
Ketika bayi mulai membuka mulutnya dan ingin menyusu, maka dekatkan bayi ke payudara ibu. Tunggu hingga mulutnya terbuka lebar dengan posisi lidah ke arah bawah.

Jika bayi belum melakukannya, ibu dapat membimbing bayi dengan dengan menyentuh lembut bagian bawah bibir bayi dengan puting susu ibu.

3. Pelekatan yang benar

Posisi pelekatan terbaik bayi menyusui adalah mulut bayi tidak hanya menempel pada puting, tetapi juga pada areola. Pelekatan ini merupakan salah satu syarat penting dalam cara menyusui yang benar.

Pelekatan yang baik ditandai dengan tidak adanya rasa nyeri pada ibu saat bayi menyusu dan bayi memperoleh ASI yang mencukupi. Untuk mengetahui hal ini, ibu dapat mendengarkan saat bayi menelan ASI.

4. Membetulkan posisi bayi

Jika puting nyeri, lepas pelekatan dengan memasukan jari kelingking ke dalam mulut dan letakkan di antara gusinya. Gerakan ini akan membuatnya berhenti menyusu sementara Anda bisa menyesuaikan posisi bayi.

Kemudian, coba lagi posisi pelekatan yang lebih baik. Setelah pelekatan sudah benar, umumnya bayi akan dapat menyusu dengan baik.

5. Waktu menyusu

Bayi bisa menyusu mulai dari 5 menit hingga 1 jam, tergantung kebutuhannya. Untuk bayi yang baru lahir, biasanya bayi perlu disusui setiap 2–3 jam dengan dengan waktu menyusu 10–15 menit setiap sesinya, tetapi juga bisa lebih lama.

Umumnya dibutuhkan beberapa waktu untuk adaptasi ibu dan bayi, agar proses menyusui berjalan lancar.

7 Tanda Penyakit Infeksi Paru-paru Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga mempunyai risiko terkena infeksi paru-paru.

Pneumonia jadi salah satu penyakit infeksi paru-paru yang dialami banyak oleh anak-anak.

Melansir Kids Health, Sabtu (05/02/2022), pneumonia adalah infeksi yang terjadi saat kantung kecil di paru-paru terisi oleh cairan.

Padahal, dalam keadaan normal seharusnya kantung tersebut terisi oleh udara.

Gejala penyakit infeksi paru-paru

Penting bagi orangtua untuk mengetahui gejala penyakit infeksi paru-paru pada anak, agar bisa segera ditangani.

Berikut ini, merupakan gejala infeksi paru-paru yang umum dialami oleh anak, dilansir dari Healthline, Sabtu (05/02/2022).

1. Batuk berdahak

Batuk merupakan cara tubuh untuk menghilangkan lendir yang diproduksi dari peradangan di paru-paru.

Jika mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru lainnya, batuk yang terjadi akan disertai dahak bening, berwarna putih, hijau, atau kuning keabu-abuan.

Anak mungkin akan batuk selama beberapa minggu, bahkan setelah gejala yang lain membaik.

2. Nyeri di dada

Gejala penyakit infeksi paru-paru pada anak yang lain adalah nyeri di dada. Nyeri akan semakin memburuk jika anak sedang batuk atau menghirup napas yang dalam.

3. Demam

Anak mungkin akan mengalami demam, karena ini merupakan cara alami tubuh untuk melawan infeksi. Saat terjadi infeksi paru-paru, suhu tubuh akan meningkat jadi 40.5 derajat Celcius.

Jika suhu sudah lebih dari 38.9 derajat Celcius atau berlangsung lebih dari tiga hari, maka harus segera dibawa ke dokter.

4. Hidung meler

Selain batuk, gejala infeksi paru-paru pada anak yang perlu diwaspadai adalah hidung meler. Anak juga mungkin akan mengalami tanda yang mirip dengan flu, seperti bersin-bersin.

5. Napas tersengal

Napas anak tersengal atau mengalami kesulitan saat bernapas. Anak harus dibawa ke dokter sesegera mungkin jika menunjukkan gejala ini.

6. Kelelahan

Anak-anak biasanya merasa lesu dan lelah ketika tubuhnya berusaha melawan infeksi. Istirahat sangat penting, untuk mengatasinya.

7. Terdengar bunyi di paru-paru

Gejala infeksi paru-paru yang terakhir adalah adanya suara berderak di dasar paru-paru atau bibasilar crackles.

Pentingnya Mengajarkan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Menjaga kesehatan anak secara keseluruhan adalah hal yang penting dilakukan, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Sayangnya, tidak banyak orangtua yang sadar bahwa anak-anak mungkin perlu diajarkan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini. Banyak orangtua yang menganggap bahwa menyikat gigi saja sudah cukup.

Menjaga kesehatan mulut dan gigi adalah salah satu kebiasaan baik yang harus diajarkan sejak kecil. Dengan begitu, hal ini bisa menjadi kebiasaan dan membuat anak memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan hal tersebut seumur hidupnya. Nyatanya, kebiasaan ini membantu mencegah karies dan penyakit periodontal seiring bertambahnya usia.

Baca juga: 3 Masalah Kesehatan Mulut Pada Anak

Bahaya Tidak Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
Rutin menyikat gigi bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Namun perlu diketahui, hal itu saja mungkin tidak cukup, apalagi pada anak-anak. Rutinitas menggosok gigi, membersihkan rongga mulut menggunakan obat kumur, dan menggunakan benang gigi ternyata masih belum efektif untuk menghindari gangguan yang terjadi pada gigi dan mulut.

Kondisi ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Sebab, masalah pada gigi dan mulut bisa berakibat fatal dan memengaruhi kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Infeksi pada gigi atau gusi dapat menyebar ke dalam jaringan tubuh lain. Dalam kondisi yang parah, infeksi bisa meningkatkan risiko penyakit atau gangguan pada organ lain.

Ada beragam gangguan kesehatan gigi dan mulut yang bisa muncul jika Si Kecil tidak terbiasa menjaga kebersihan area tersebut. Risiko penyakit meningkat pada anak yang jarang menyikat gigi, mengunyah permen karet atau makanan manis secara berlebihan, serta kurang minum air putih. Nyatanya, kebiasaan-kebiasaan tersebut rentan membuat gigi dan gusi rusak.

Baca juga: Ini 6 Cara Agar Si Kecil Bebas Radang Gusi

Gigi yang rusak bisa menimbulkan nyeri, pembengkakan pada gusi, gigi berlubang, bahkan pembusukan gigi pada anak. Ada beragam jenis sakit gigi yang mungkin muncul, di antaranya:

1.Karies Gigi

Jenis sakit ini bersifat umum dan sering terjadi pada anak. Karies gigi muncul karena ada penumpukan plak pada area gigi dan mulut. Plak merupakan bakteri atau kotoran yang menempel dan hidup di rongga mulut. Seringnya, plak muncul karena sisa makanan yang tidak dibersihkan atau tidak menyikat gigi sebelum tidur.

2.Gingivitis

Gingivitis alias radang gusi juga bisa muncul akibat kebersihan gigi dan mulut yang tidak terjaga. Tidak berbeda jauh dengan karies gigi, radang gusi juga disebabkan oleh penumpukan plak pada gigi. Infeksi ini menyebabkan gusi meradang dan membuat gusi mudah berdarah.

3.Periodontitis

Gangguan pada gusi bisa semakin parah, terutama jika anak tidak memiliki kebiasaan menyikat gigi dengan benar. Kondisi yang lebih berbahaya bisa terjadi, yaitu periodontitis. Kondisi ini merupakan infeksi gusi serius yang bisa merusak jaringan lunak dan tulang yang menyangga gigi. Gejala yang timbul sebagai tanda penyakit ini adalah bau mulut, perubahan warna gusi menjadi merah terang atau keunguan, pembengkakan dan perdarahan pada gusi.

5 Cara Mudah Menjaga Kesehatan Mata Anak

Kesehatan mata anak perlu dijaga untuk mencegah masalah di masa depan. Ibu pasti tidak mau kan kalau Si Kecil harus memakai kacamata sejak dini untuk membantu penglihatannya?

Mata tidak sebatas membantu anak melihat dunia. Panca indera yang satu ini mampu menunjang perkembangan fisik, sosial, dan kognitif melalui informasi yang diperoleh dari penglihatannya.

Tips Penting Menjaga Kesehatan Mata Anak
1. Pola makan sehat
Penuhi kebutuhan gizi anak dengan memberikannya sayuran segar, telur, ikan, daging, dan buah-buahan. Ketika gizi yang terpenuhi kemudian mampu menjaga mata tetap sehat. Pilih sayuran berdaun hijau dan sayuran kuning yang kaya vitamin A. Nutrisi ini mampu menunjang kesehatan mata.

2. Perbanyak minum air putih
Mata kering dapat menyebabkan infeksi. Oleh sebab itu, orang tua perlu memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi agar mata tetap lembap. Dorong Si Kecil untuk minum minimal empat gelas penuh air setiap harinya. Kebutuhannya dapat berubah tergantung pada usia anak, aktivitas, dan kondisi cuaca.

3. Tidur cukup
Tidur malam yang berkualitas membantu meremajakan tubuh dan merilekskan mata. Buat rutinitas tidur secara teratur seperti tidak bermain gadget sebelum tidur, membersihkan kasur, mengganti pakaian dan mengatur suhu ruangan agar nyaman.

4. Batasi waktu layar
Anak-anak cenderung belum bisa mengontrol pemakaian smartphone, tablet, konsol game, dan komputer. Penggunaan perangkat ini dalam waktu yang lama dapat membuat mata tegang. Waktu layar sebaiknya dibatasi satu jam per hari saja.

5. Hindari menggosok mata
Anak-anak cenderung menggosok mata, terutama saat ada benda asing yang masuk. Namun, hal ini dapat merusak mata dan kuman berisiko masuk ke dalamnya. Daripada digosok, anjurkan anak untuk membilas matanya dengan air mengalir dan rutin mencuci tangan.

Selain kesehatan fisik, pola asuh yang tepat juga perlu ibu perhatikan. Jangan ragu untuk menemui psikolog untuk meminta saran soal pola asuh anak.

Pentingnya Sunat Sedari Kecil

Seringkali menjadi pertanyaan bagi masyarakat awam mengenai pentingnya sunat, Sunat (Sirkumsisi) sendiri merupakan proses pelepasan kulup atau kulit yang menyelubungi ujung penis. Bukan hanya diperuntukkan untuk anak atau orang dewasa, sunat dapat dilakukan juga pada bayi.

Manfaat Sunat ?
Penis lebih mudah dibersihkan
Dengan dilakukannya proses pelepasan kulit pada ujung penis, menjadikan bagian penis lebih mudah dibersihkan. Sementara pada anak laki-laki yang belum sunat, bagian kulup/ kulit yang belum dipotong harus rutin dibersihkan untuk menghindari berbagai resiko penyakit.
Memperkecil Resiko infeksi saluran kemih
Meskipun resiko infeksi saluran kemih tergolong rendah pada anak-anak maupun laki-laki dewasa, infeksi tetap dapat terjadi dan akan sering dialami oleh mereka yang belum sunat.
Mencegah terjadinya penyakit di area penis
Pada beberapa kasus, kulup pada penis yang belum disunat sering mengalami kesulitan bahkan tidak mungkin ditarik kembali, kondisi ini dikenal dengan istilah fimosis. Sunat/ Khitan bermanfaat untuk mencegah terjadinya fimosis terutama pada bayi.
Mengurangi adanya resiko penyakit menular
Salah satu manfaat Sunat bagi kesehatan adalah mengurangi adanya resiko penyakit menular seksual seperti HIV atau Gonore ketika anak dewasa kelak.
Menurunkan Resiko Kanker Penis
Berdasarkan data WHO tahun 2020, kanker penis di Indonesia menempati urutan ke-29 dalam hal kasus kanker baru, dan ke-31 dalam penyebab kematian akibat kanker. Manfaat lain adalah Menurunkan bahkan mencegah terjadinya penyakit kanker penis. Meski merupakan penyakit langka, data membuktikan bahwa penyakit ini jarang menyerang pria yang sudah disunat.
Masa penyembuhan Pasca Sunat
Pada umumnya masa penyembuhan pasca sunat membutuhkan waktu 7-10 hari hingga penis sembuh sepenuhnya. Apabila terjadi infeksi pasca Sunat (khitan), segera periksakan ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan luka pada area penis yang tepat.

5 Tips Menjaga Kesehatan Anak Usia 1-2 Tahun

Usia 1-2 tahun merupakan masa keemasan anak. Hal ini terjadi karena pada waktu ini momen 1000 hari kehidupan pertamanya. Di usia ini, segala hal yang didapat memengaruhi tumbuh kembangnya di kemudian hari, termasuk asupan nutrisi. Itulah mengapa kebanyakan orangtua melakukan yang terbaik demi tumbuh kembang dan kesehatannya yang optimal.

Mengingat ketertarikannya pada objek meningkat, tidak jarang anak-anak merangkak dan bermain sambil memasukkan benda apa pun ke mulutnya. Itulah sebabnya, pola asuh anak yang dijalankan tiap orangtua juga akan memengaruhi kondisi anak. Bukan sekadar menjaganya 24 jam, melainkan dengan membantunya menerapkan gaya hidup sehat sejak dini.

Tips Menjaga Kesehatan Anak Usia 1-2 Tahun
Banyak hal yang bisa diperhatikan oleh orangtua saat menjaga kesehatan anak. Mulai dari asupan nutrisi, kegiatan fisik, hingga pola asuh anak menentukan kesehatan anak. Baik secara fisik maupun mental. Namun jangan khawatir, berikut ini tips menjaga kesehatan anak usia 1-2 tahun yang bisa ibu terapkan:

1. Berikan ASI Eksklusif
Menyusui adalah cara luar biasa bagi ibu dan Si Kecil untuk mempererat ikatan sembari memberi nutrisi paling alami. Namun, menyusui secara langsung mungkin tidak bisa dilakukan oleh semua ibu. Sebab, menyusui membutuhkan banyak waktu dan pengabdian untuk memberikan nutrsi yang menyehatkan. dan menyusui sepanjang waktu. Melansir dari WebMD, ASI mengandung antibodi yang membantu Si Kecil untuk melawan virus dan bakteri. Hal ini tentunya sangat penting bagi membantu pembentukan kekebalan tubuh Si Kecil yang masih berkembang.

2. Lakukan Imunisasi
Imunisasi adalah program pemberian vaksin ke dalam tubuh anak untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit. Pada usia 1-2 tahun, Si Kecil wajib melakukan imunisasi polio, DPT ulangan, MMR (measles, mumps, dan rubella), tifoid, hepatitis A, influenza, varisela, dan pneumokokus. Untuk info lebih lanjut tentang imunisasi, ibu bisa berbicara langsung dengan dokter anak.

Selain memberikannya imunisasi, ibu juga perlu memberikan Si Kecil vitamin untuk menunjang kesehatannya. Ibu bisa membeli vitamin yang dibutuhkan. Cukup masuk ke fitur Buy Medicine, lalu pesan obat atau vitamin yang dibutuhkan. Setelah itu, ibu hanya tinggal menunggu kurang dari 1 jam sampai pesanan datang.

3. Jaga Asupan Makanan Si Kecil
Apa yang dimakan Si Kecil memengaruhi kesehatannya, sehingga ibu perlu memerhatikan dan menjaga asupan makanan Si Kecil. Sebenarnya di usia ini, Si Kecil sudah bisa mengonsumsi makanan keluarga, asalkan tekstur makanannya masih lunak. Sebab, ia baru bisa mengonsumsi makanan keluarga saat usianya lebih dari dua tahun. Melansir dari CDC, ibu perlu memberikan banyak sayuran, buah-buahan, dan produk gandum untuk menjaga kesehatan Si Kecil. Hindari memberikannya gula dan makanan yang mengandung lemak jenuh terlalu banyak.

4. Perhatikan Waktu Tidur Si Kecil
Tidur bukan sekadar menghilangkan rasa kantuk, tapi juga baik untuk tumbuh kembangnya. Tidur yang cukup bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mendukung tumbuh kembangnya, serta memengaruhi tingkat kognitifnya.

Si Kecil yang berusia 1-2 tahun membutuhkan waktu tidur sebanyak 12-14 jam dalam sehari. Ini termasuk jumlah jam tidur siangnya, yakni sebanyak 1-3 jam dalam sehari. Jadi, pastikan agar Si Kecil mendapat kualitas dan kuantitas tidur yang baik guna tumbuh kembangnya yang optimal.

5. Penuhi Kasih Sayang untuk Si Kecil
Tahukah ibu bahwa hubungan orangtua dan anak yang penuh dengan perhatian, kasih sayang, dan stabil dapat membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih baik? Untuk itu, jangan lupa memberikan anak perhatian yang positif dan kasih sayang. Hal ini berkaitan langsung dengan pola asuh anak yang tepat dalam perkembangannya.

Hubungan orangtua dan anak yang kuat sejak dini membuat anak terhindar dari berbagai gangguan kesehatan mental maupun fisik yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Bahkan, kondisi ini juga akan membuat anak memiliki hubungan sosial yang baik ke depannya.

Kebanyakan anak di usia ini akan mengeksplor apapun yang ada di sekitarnya. Jadi, jangan heran jika banyak anak yang gemar bermain tanah, air, dan objek lainnya. Hal itu adalah hal yang wajar, tetapi jangan biarkan aktivitas ini membuatnya jatuh sakit karena infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah mengajari Si Kecil tentang praktek cuci tangan dan kaki pakai sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan sebelum tidur.

Itulah tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan anak yang berusia 1 sampai 2 tahun. Tetap jaga kondisi tubuh anak agar terhindar dari gangguan kesehatan apa pun.

Kenali dan Lindungi Buah Hati dari 5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Anak

Salah satu pengalaman kurang menyenangkan yang cukup sering dialami oleh orangtua adalah ketika anak jatuh sakit. Anak-anak memang memiliki kecenderungan lebih sering jatuh sakit daripada orang dewasa karena sistem imun yang dimilikinya belum berkembang dengan sempurna. Dengan begitu, serangan virus dan bakteri sulit untuk dihalau oleh sistem imun yang dimiliki tubuhnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi rentan terhadap serangan penyakit, mulai dari gangguan imunologis bawaan, perubahan cuaca yang ekstrem, hingga kondisi anak yang sedang susah makan. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat membuat daya tahan tubuh anak menjadi lemah dan kesulitan menghadang virus dan bakteri dari luar. Penangan yang cepat dan tepat sangat penting dilakukan ketika anak jatuh sakit. Oleh karena itu, ada baiknya orangtua memahami berbagai jenis penyakit yang lazim menyerang anak, seperti penyakit-penyakit berikut:

Penyakit Diare

Diare pada anak seringkali ditandai dengan rasa sakit yang konstan pada bagian perut, serta frekuensi buang air besar yang terlalu sering dengan feses yang cenderung encer. Penyebab diare yang paling umum ditemui adalah infeksi saluran pencernaan, keracunan atau alergi makanan, infeksi parasit, hingga iritasi usus. Pada anak-anak, diare cenderung lebih sering menyerang karena perkembangan saluran cerna anak belum sempurna. Oleh karena itu, apabila ada patogen atau bakteri yang masuk, maka dapat dengan mudah masuk melalui sela-sela sel usus dan langsung masuk ke dalam peredaran darah.

Jika anak mengalami diare dengan frekuensi buang air besar hingga lima kali dalam sehari, Anda perlu waspada, jangan sampai buah hati Anda terkena dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh akibat diare. Untuk penanganan awal, Anda dapat memberikan minuman yang mengandung elektrolit (oralit). Jika diare pada anak tak kunjung membaik dalam kurun waktu tiga hari, segera periksakan anak ke dokter agar penyakit tersebut tidak berkembang semakin parah.

Penyakit Demam

Demam terjadi ketika suhu tubuh anak melebihi 37,2°C bila diukur dari ketiak, melebihi 37,8°C bila diukur dari mulut, atau di atas 38°C bila diukur dari dubur. Demam pada anak biasanya dipicu oleh virus, seperti virus penyebab influenza. Anda dapat melakukan penanganan darurat untuk mengatasi demam yang dialami anak dengan mengompres dahi anak dengan air hangat, memberikan asupan berupa makanan dan minuman hangat, dan menghangatkan tubuhnya dengan selimut. Umumnya, demam yang dialami anak dapat diatasi dengan obat-obatan. Namun, tidak semua obat boleh diberikan pada anak yang sedang demam. Oleh karena itu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar anak bisa diobati dengan tepat.

Penyakit Radang Tenggorokan

Jika anak terlihat kesulitan untuk menelan makanan dan lebih rewel saat hendak makan, ada kemungkinan bahwa ia mengalami radang tenggorokan. Selain tenggorokan yang terasa kering dan gatal, radang tenggorokan juga bisa menimbulkan gejala sakit kepala, badan lemas, dan nyeri otot. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh banyak hal, mulai dari alergi, infeksi virus dan bakteri yang menyerang rongga mulut anak, hingga pola makan dengan gizi yang kurang seimbang. Memberi minum banyak air pada anak dan memintanya untuk berkumur air garam adalah cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi gejala radang tenggorokan pada anak. Namun, jika kondisi anak tidak segera membaik, sebaiknya segera periksakan ia ke dokter agar diberi penanganan yang aman dan tepat.

Penyakit Cacar Air

Anda perlu waspada jika menemukan bintik-bintik merah bermunculan pada tubuh buah hati Anda. Salah satu gejala khas cacar air adalah bintik-bintik merah di tubuh yang berubah menjadi benjolan-benjolan bening berisi air yang gatal dan menyebar di seluruh tubuh dalam beberapa hari. Sebenarnya, cacar air dapat dicegah dengan vaksin. Namun, imunitas tubuh anak memiliki pengaruh besar terhadap kerentanan terhadap virus cacar, tingkat keparahan cacar air, dan durasi pemulihan pasca cacar air.

Jika buah hati Anda terserang cacar air, ada baiknya Anda memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan perawatan dan obat yang sesuai dengan kondisinya. Pada umumnya, dokter akan memberikan resep krim topikal untuk mengurangi gatal-gatal yang dirasakan anak. Selain itu, akan diberikan juga beberapa obat minum yang disesuaikan dengan kondisi tubuh anak. Sementara itu, karena virus cacar air ini bersifat menular, sebaiknya Anda tidak membiarkan anak Anda bermain-main dengan anak lain hingga ia benar-benar sembuh.

Penyakit Cacingan

Anak cukup rentan mengalami cacingan karena anak memang lebih sering bermain di luar ruangan dibandingkan orang dewasa. Selain itu, biasanya anak juga belum begitu memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan tubuhnya.

Jika anak bermain di luar lalu langsung memegang makanan dan makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu, maka ada kemungkinan cacing atau telur cacing yang berasal dari tanah atau air kotor bisa masuk ke dalam tubuh anak dan kemudian berkembang biak di usus.

Untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya Anda mengajarkan anak untuk disiplin mencuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah keluar dari toilet. Selain itu, rutin minum obat cacing setiap enam bulan sekali juga disarankan untuk mencegah cacingan.

7 Penyakit Infeksi pada Anak yang Rentan Terjadi

Sistem kekebalan tubuh anak belum sekuat orang dewasa sehingga membuatnya rentan mengalami penyakit infeksi. Tidak hanya itu, faktor kebersihan anak juga berpengaruh pada risiko penyakit yang satu ini. Lantas, apa saja penyakit infeksi yang bisa terjadi pada anak?

Berbagai penyakit infeksi pada anak yang sering terjadi
Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit.

Organisme-organisme ini menyerang dan masuk ke dalam tubuh anak, kemudian menimbulkan sejumlah gejala.

Berikut ini beberapa penyakit infeksi pada anak yang umum terjadi di Indonesia dengan informasi gejala dan cara mengatasinya.

1. Cacingan
Di Indonesia, cacingan pada anak sering terjadi akibat infeksi cacing gelang, tambang, atau cambuk. Biasanya, ini terjadi karena anak kurang menjaga kebersihan.

Misalnya, anak langsung memegang makanan dan makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu setelah bermain di luar rumah, atau kebiasaan bermain di luar tanpa alas kaki.

Gejala cacingan
Beberapa anak tidak mengalami gejala cacingan apa pun. Namun, bila muncul, berikut adalah gejala cacingan pada anak yang mungkin terjadi.

Sering menggaruk bokong, khususnya bagian anus.
Perut anak sakit.
Demam.
Ada cacing pada feses anak.
Anak tidak nafsu makan.
Berat badan anak turun.
Mual, atau bahkan muntah.
Penanganan
Cacingan pada anak bisa diatasi dengan obat cacing, seperti albendazol atau mebendazol hingga 3 hari atau lebih, tergantung jenis cacing yang menginfeksi anak.

Anda pun perlu rutin membersihkan rumah serta mengajari anak untuk mencuci tangan secara teratur guna membantu mencegah penyebaran infeksi dalam keluarga.

2. Cacar air

Cacar air adalah penyakit infeksi pada anak yang disebabkan oleh virus. Ini merupakan penyakit yang menular, terutama pada anak yang belum pernah terkena cacar air.

Adapun virusnya bisa menyebar melalui batuk atau kontak langsung dengan cairan dalam lepuh atau bintik-bintik merah yang muncul di kulit.

Gejala cacar air
Gejala cacar air pada anak biasanya muncul 11-20 hari setelah paparan atau setelah anak berinteraksi dengan anak lain yang sedang cacar air.

Biasanya, gejala pertama yang muncul berupa bintik-bintik merah kecil di tubuh anak, terutama dada, punggung, kepala, atau leher, yang diikuti dengan demam dan badan lemas.

Bintik-bintik kemudian berkembang menjadi lepuh berisi cairan dalam satu atau dua hari. Setelah mengering, bintik-bintik atau lepuh ini kemudian mengelupas dan rontok.

Penanganan
Mengatasi cacar air pada anak sebaiknya dilakukan di rumah. Anak perlu beristirahat di rumah agar tidak menularkan ke teman-teman atau orang sekitarnya.

Saat di rumah, Anda bisa memberikan paracetamol untuk meredakan demam pada anak dan losion calamine untuk mengurangi gatalnya.

Minta anak untuk perbanyak minum air putih, jangan menggaruk area yang gatal, serta pakaikan baju yang longgar agar ia merasa nyaman.

3. Influenza
Penyakit satu ini sering dialami pada anak dan orang dewasa akibat infeksi virus yang menular.

Penularan virus influenza pada anak biasanya terjadi melalui udara saat penderitanya bersin atau batuk.

Tak hanya itu, penularan juga bisa terjadi melalui tangan atau benda yang telah disentuh oleh orang yang terinfeksi.

Gejala influenza
Gejala influenza pada anak biasanya muncul satu hingga tiga hari setelah terpapar. Adapun berikut adalah gejala influenza pada anak yang umum muncul.

Demam.
Batuk.
Menggigil.
Sakit kepala pada anak.
Nyeri otot.
Penanganan
Anak yang terinfeksi influenza biasanya akan sembuh hanya dengan beristirahat dan minum obat pereda nyeri untuk meredakan gejala.

Obat antivirus influenza khusus mungkin bisa anak Anda minum, tetapi harus sesuai resep dokter.

Selain itu, minta anak untuk menutup hidung dan mulut saat batuk dan bersin dengan siku atau tisu serta rutin mencuci tangan untuk mencegah penyebaran virus.

Untuk mengurangi risiko tertular, bayi berusia 6 bulan hingga anak di bawah 5 tahun bisa mendapat vaksin influenza.

4. Demam berdarah

Penyakit ini terjadi karena infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk. Demam berdarah pada anak sangat umum terjadi di Indonesia karena merupakan negara tropis.

Meski demikian, sebagian besar kasusnya hanya ringan dan dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu seminggu setelah penularan.

Gejala demam berdarah
Gejala demam berdarah pada anak umumnya ringan, terutama pada anak yang baru pertama kali terkena penyakit ini.

Namun, pada anak yang lebih tua dan yang sudah pernah terkena penyakit ini bisa mengalami gejala sedang hingga parah.

Demam tinggi hingga 40 derajat Celsius.
Nyeri otot, tulang, terasa sakit di belakang mata.
Sakit kepala parah.
Ruam di seluruh tubuh.
Mudah memar.
Anak mimisan atau gusi berdarah.
Penanganan
Tidak ada pengobatan khusus untuk demam berdarah. Kasus ringan umumnya bisa teratasi dengan beristirahat dan minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi pada anak.

Bila gejala parah, sebaiknya segera bawa anak Anda ke rumah sakit.

Dokter dan perawat dapat memberikan tambahan cairan melalui infus untuk mengganti cairan yang hilang akibat muntah atau diare.

5. Diare
Ini merupakan penyakit infeksi yang sangat sering terjadi pada anak, mulai dari bayi, balita, hingga anak yang lebih besar.

Diare pada anak sering terjadi karena infeksi bakteri, virus, parasit, atau masalah lainnya, seperti alergi pada makanan tertentu atau gangguan pencernaan pada anak.

Gejala diare
Gejala diare bisa berbeda pada tiap anak. Secara umum, berikut adalah gejala diare yang umum.

Perut anak sakit atau terasa kram.
Mual.
Perut anak kembung.
Demam.
Buang air besar terus menerus.
Dehidrasi.
Penanganan
Untuk mengatasi diare pada anak, Anda perlu memberinya air putih yang cukup untuk mengganti cairan yang hilang.

Dokter pun mungkin akan memberi obat antibiotik untuk anak jika diare terjadi karena infeksi bakteri.

Pada bayi, pastikan Anda tetap menyusui bayi untuk mengurangi gejalanya.

6. Campak

Campak adalah penyakit infeksi disebabkan oleh virus yang sangat menular pada anak dan orang dewasa.

Penyakit ini bisa serius dan fatal pada anak kecil. Bahkan, pada beberapa kasus, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Gejala campak
Mengutip dari Mayo Clinic, berikut adalah gejala campak yang paling sering terjadi.

Demam.
Batuk kering.
Pilek.
Sakit tenggorokan.
Mata meradang (konjungtivitis).
Bintik-bintik putih kecil dengan warna kebiruan di bagian tengahnya yang berada di dalam mulut pada lapisan pipi.
Ruam di kulit.
Penanganan
Tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi campak pada anak.

Dokter mungkin akan memberikan obat untuk meredakan demam, seperti paracetamol atau ibuprofen untuk anak.

Antibiotik pun mungkin akan dokter berikan jika infeksi bakteri, seperti pneumonia atau infeksi telinga, juga terjadi saat anak mengalami campak.

Mengenal Depresi pada Anak dan Gejalanya, Orangtua Perlu Waspada

Tak hanya orang dewasa yang bisa mengalami masalah depresi. Anak-anak pun rupanya juga bisa mengalami Depresi dan stres berat. Anak-anak yang ceria, penuh semangat dan bahagia tidak jarang terlihat lebih murung, mudah marah dan menutup diri. Hal inilah yang dikhawatirkan sebagai salah satu gejala stres atau depresi padanya.

Ketika anak mengalami depresi, orangtua penting untuk lebih waspada. Orangtua juga penting mencari cara agar masalah yang dihadapi anak segera teratasi dengan baik. Orangtua juga penting untuk mengembalikan rasa percaya diri anak, rasa bahagia dan kenyamanan dalam dirinya. Mengenai depresi pada anak, bagaimana anak dikatakan mengalami depresi?

Depresi pada Anak
Melansir dari laman Cleveland Clinic, depresi merupakan gangguan suasana hati yang bisa membuat seseorang merasa sedih dan putus asa. Saat anak depresi, ia terlihat murung, sedih dan tak lagi semangat.

Depresi pada anak bisa berpengaruh buruk terhadap pola tidurnya, pola makan, interaksi sosial dengan sekitar bahkan penurunan kecerdasan. Anak yang mengalami depresi juga rentan kehilangan minat, hobi maupun antusiasme pada banyak hal termasuk hal yang selama ini justru sangat disukainya.

Penelitian menemukan jika depresi pada anak bisa disebabkan oleh hal internal maupun eksternal. Hal tersebut mulai dari pola asuh orangtua, kualitas tidur yang buruk, perkembangan yang kurang maksimal, tekanan dari sekitar, pergaulan dan lain sebagainya.

Apa Gejala Depresi pada Anak?

Ada beberapa gejala yang ditunjukkan ketika anak mengalami depresi. Beberapa mungkin diawali dengan stres, tapi beberapa lagi langsung terlihat jika ia depresi. Berikut beberapa gejala depresi pada anak.

Anak lebih mudah tersinggung dan mengamuk dengan sebab tertentu atau tanpa sebab.
Anak terlihat murung, sedih dan hampa karena ia merasa dirinya tak berarti atau tak sebaik orang lain.
Nafsu makan menurun atau naik drastis. Sama seperti orang dewasa, depresi juga berpengaruh pada nafsu makan seseorang.
Anak kurang tertarik pada hobi atau apapun yang sebelumnya sangat ia sukai.
Sulitnya berkonsentrasi dan berpikir. Ini ditandi dengan penurunan prestasi di sekolah atau berkurangnya minta belajar.
Anak sulit tidur baik di siang hari ataupun malam hari.
Kesulitan berinteraksi dengan orang lain atau bahkan dengan orangtua dan pengasuhnya sendiri.
Anak jadi lebih diam, malas dan tak nyambung saat diajak berbicara atau ngobrol.
Terlihat lemas, lesu dan kurang bersemangat karena hilangnya energi akibat kurang makan, kurang istirahat dan lebih banyak menangis.
Anak cenderung mengurung diri dan menutup diri dari orang terdekat.
Mengalami keluhan fisik seperti pusing, sakit perut dan lemah.
Anak merasa pesimis, mudah menangis dan melakukan percobaan menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri.

Mengenal Ciri Stunting pada Anak dan Dampaknya

Stunting merupakan masalah kesehatan yang kini gencar dicegah. Stunting adalah kondisi di mana anak gagal tumbuh dan berkembang akibat kekurangan nutrisi. Stunting umumnya akan terlihat pada anak bawah lima tahun dengan tanda anak terlihat lebih pendek, kurus dan tidak sehat seperti anak-anak pada umumnya.

Biasanya, anak yang stunting akan terlihat saat usianya menginjak 2 tahun. Meski begitu, di bawah usia dua tahun stunting sebenarnya sudah bisa dideteksi. Masalah stunting bisa terjadi karena anak kekurangan nutrisi bahkan sejak ia masih di dalam kandungan.

Ciri-Ciri Anak Stunting

Ada beberapa ciri yang bisa dilihat dengan jelas dari anak yang mengalami stunting. Ciri-ciri tersebut bisa dilihat dari fisiknya maupun perkembangannya. Berikut beberapa ciri-ciri stunting yang sering terjadi pada anak.

Anak memiliki postur tubuh yang lebih pendek dari anak-anak seusianya.
Anak rentan sakit dan mengalami masalah kesehatan baik masalah ringan hingga masalah berat. Anak yang stunting akan lebih sering mengalami demam, diare dan sejenisnya.
Penurunan kemampuan kognitif. Dalam beberapa kasus anak stunting juga erat kaitannya dengan IQ yang rendah dan perkembangan kognitif yang lambat.
Pada beberapa kasus, anak stunting justru lebih mudah gemuk jika dibandingkan dengan anak normal lainnya. Anak stunting rentan mengalami pertumbuhan ke samping, bukan ke atas.
Wajah anak stunting juga terlihat lebih muda dari anak-anak seusianya. Meski lebih muda, ia masih seperti anak kecil di bawah usia seharusnya.
Beberapa anak menjadi lebih pendiam.
Anak stunting juga mengalami keterlambatan pertumbuhan gigi.
Pada anak perempuan, stunting juga menyebabkan menstruasi yang terlambat datang.

5 Keuntungan Mengonsumsi Pepaya secara Rutin, Salah Satunya Mencegah Kanker

Siapa yang tidak suka buah pepaya? Meskipun berbiji banyak, pepaya kaya akan nutrisi yang menyehatkan tubuh.

Dalam pepaya, ada kandungan karbohidrat, serat, protein, gula, dan vitamin C yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Pepaya bisa dikonsumsi langsung dengan cara dikupas dan dibersihkan dari bijinya. Bisa juga kita jadikan rujak atau sayur jika buah pepayanya masih mentah.

Dengan sejumlah nutrisi tersebut, pepaya bisa memberikan manfaat kesehatan berikut, lo. Yuk, simak agar tidak ragu lagi mengonsumsi pepaya yang enak dan menyehatkan.

1. Kaya Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang berfungsi untuk memperbaiki sel yang rusak akibat radikal bebas.

Pepaya mempunyai antioksidan yang cukup, seperti vitamin A, vitamin C, dan vitamin E.

Semua vitamin itu dibutuhkan untuk menyehatkan jantung dan mencegah kenaikan kadar kolesterol.

Jika kadar kolesterol jahat terlalu tinggi, maka pembuluh darah akan tersumbat dan menyebabkan aliran darah tidak lancar.

Sehingga, kerja jantung bisa terganggu dan bisa menyebabkan peradangan.

2. Menyediakan Serat untuk Kesehatan Usus

Seperti yang teman-teman ketahui, buah-buahan termasuk pepaya pasti mengandung serat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Serat berguna bagi tubuh karena, memicu rasa kenyang serta menyehatkan saluran pencernaan.

Selain itu, serat juga menjaga keseimbangan cairan tubuh agar tidak mudah dehidrasi.

Bahkan, serat pepaya bisa menurunkan kolesterol jahat dan gula darah, lo.

Dengan begitu, bagi organ pencernaan dan bagian tubuh lain tetap dalam kondisi sehat, sebab rutin mengonsumsi pepaya.

3. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Mengonsumsi pepaya secara rutin juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kok.

Karena, menurut penelitian pepaya bisa memicu aktifnya sistem imun tubuh.

Selain itu, pepaya juga mengandung beta karoten, vitamin C, dan antioksidan yang dapat meningkatkan sistem imun.

4. Melindungi dari Kanker

Ternyata, pepaya juga bisa mencegah kanker karena mengandung senyawa karotenoid likopen.

Senyawa ini dapat mengurangi risiko pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali. Terutama, kanker paru-paru, kanker lambung, dan kanker usus berang.

Sehingga, kualitas hidup lebih meningkat dan tubuh bugar, karena penyakit bisa dilawan.

5. Menyembuhkan Luka pada Lapisan Saluran Pencernaan

Jika teman-teman mengonsumsi makanan yang tidak sehat, bisa memicu iritasi pada lapisan dinding usus, lo.

Jika lukanya tidak parah, tubuh bisa menyembuhkannya sendiri.

Waspada! Hindari 3 Jenis Makanan yang Bisa Picu Penyakit Kanker Ini

Kanker merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai oleh banyak orang.

Ada beragam cara untuk mencegah kanker, yaitu dengan olahraga yang cukup dan mengonsumsi makanan yang bergizi.

Memang, seseorang bisa memiliki sel kanker karena genetik, namun kita juga perlu memperhatikan makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Sebab, salah memilih makanan bisa menyebabkan risiko berkembangnya sel kanker semakin meningkat.

Nah, berikut ini ibudanbalita akan memberikan rangkuman 3 jenis makanan yang bisa memicu penyakit kanker. Ada apa saja, ya? Yuk, simak!

1. Makanan Instan

Siapa yang masih suka mengonsumsi segala jenis makanan instan? Makanan instan disebut juga makanan cepat saji, yang mudah dan cepat diolah, namun mengandung sedikit nutrisi.

Contoh makanan instan seperti pizza, burger, kentang goreng, makanan ringan, dan makanan lain yang mengandung banyak garam dan minyak.

Dilansir dari ibudanbalita.net, makanan ringan mengandung bahan yang berpotensi memicu kanker, yaitu akrilamida.

Akrilamida adalah senyawa yang terbentuk saat memasak makanan menggunakan suhu di atas 120 derajat Celcius.

Senyawa tersebut dapat terbentuk ketika makanan yang kaya karbohidrat (mengandung tepung dan gula) seperti kentang, diolah dengan suhu yang tinggi.

Makanan seperti sosis juga mengandung sodium nitrit berkadar tinggi, yang diduga dapat memicu kanker lambung.

2. Daging Merah

Daging merah memang bukan termasuk makanan instan, karena berasal dari daging hewan seperti kambing dan sapi.

Namun, daging merah ternyata juga bisa memicu risiko berkembangnya sel kanker dalam tubuh, teman-teman.

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) memastikan bahwa konsumsi daging merah terlalu banyak dapat memperbesar peluang seseorang untuk terkena kanker.

Tak hanya itu, produk olahan daging merah seperti ham, sosis, bacon, dan daging asap bahkan dikategorikan sebagai bahan karsinogenik.

Karsinogenik adalah zat yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel kanker.

Daging merah bisa semakin meningkatkan risiko kanker ketika diolah dengan cara dibakar, dipanggang, atau digoreng, teman-teman.

Oleh sebab itu, memasak daging merah dengan mengukus dan merebus dianggap sebagai cara yang lebih sehat.

3. Minuman Berpemanis Buatan

Minuman kemasan yang memiliki beragam rasa dan bisa menghilangkan dahaga kita mengandung banyak pemanis buatan.

Menurut penelitian, kombinasi pemanis buatan sakarin dan siklamat diketahui dapat menyebabkan kanker kandung kemih.

Oleh sebab itu, kita dianjurkan untuk lebih banyak minum air putih atau minuman yang berasal dari bahan alami. Misalnya, jus dari buah-buahan, teh hijau, dan sebagainya.

Nah, itulah tiga jenis makanan dan minuman yang bisa memicu penyakit kanker, teman-teman. Waspada dan jangan konsumsi berlebihan, ya.

Jangan Langsung Dibuang, Ternyata Biji Pepaya Punya Manfaat untuk Kesehatan Tubuh

Buah pepaya dikenal dengan vitamin C dan antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh.

Mulai dari buah dan daun pepaya, semua dapat dinikmati manusia dan dimanfaatkan kandungannya.

Namun, tahukah kamu kalau biji pepaya juga bermanfaat untuk kesehatan tubuh?

Dilansir dari Healthline, biji pepaya asam lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan.

Tidak hanya itu, mari kita temukan apa saja manfaat biji pepaya untuk kesehatan tubuh.

1. Melawan Infeksi

Biji pepaya dapat memusnahkan beberapa jenis parasit dan jamur.

Biji pepaya efektif melawan efektif melawan jamur yang dapat menyebabkan infeksi jamur.

Selain itu, membuat minuman dari biji pepaya kering dan madu, efektif membunuh parasit dalam usus.

Namun, harus dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat biji pepaya untuk melawan parasit dan jamur.

2. Melindungi Fungi Ginjal

Dalam tubuh manusia, ginjal berfungsi untuk membuang limbah dan kelebihan cairan dari dalam tubuh.

Ekstrak biji pepaya bermanfaat untuk melindungi fungsi ginjal dari kerusakan-kerusakan.

Selain itu, kandungan antioksidan dalam biji pepaya juga bisa mencegah kerusakan yang terjadi pada sel dan melindungi kesehatan ginjal.

3. Bersifat Antikanker

Biji pepaya juga dapat menjadi pencegah kanker dalam tubuh manusia.

Ini terjadi karena di dalam biji pepaya memiliki sifat antikanker yang dibutuhkan oleh manusia.

Namun, ketiga manfaat tersebut membutuhkan penelitian lebih lanjut agar hasilnya bisa digunakan oleh manusia.

Apa Saja Tujuan Pencernaan Kimiawi pada Proses Pencernaan Manusia?

Dalam memproses makanannya, manusia melakukan dua proses, yaitu proses pencernaan mekanis dan pencernaan kimiawi.

Pencernaan mekanis adalah proses di mana makanan diubah menjadi lebih kecil di mulut dan gerakan-gerakan otot halus di kerongkongan, lambung, serta usus.

Sedangkan, pencernaan kimiawi ini melibatkan enzim untuk memecah kandungan nutrisi makanan dan ukuran makanan menjadi lebih kecil lagi.

Namun, kali ini teman-teman akan mengetahui lebih lanjut mengenai pencernaan kimiawi manusia. Berikut, penjelasannya yang lebih lengkap tentang pencernaan kimiawi. Yuk, simak!

1. Dari Mana Pencernaan Kimiawi Dimulai?

Pencernaan kimiawi dimulai sejak makanan ada di mulut kita, makanan tersebut kita kunyah dengan bantuan lidah dan gigi.

Di saat yang bersamaan, kelenjar ludah melepaskan air liur ke dalam mulut yang mengandung enzim ptialin.

Enzim ini berguna untuk memecah trigliserida (lemak), gula, dan zat pati pada makanan.

Kemudian, setelah dicerna di dalam mulut, makanan juga dicerna secara kimiawi di sistem pencernaan dengan bantuan cairan empedu dan asam yang dikeluarkan oleh sistem pencernaan.

Selain itu, saat sampai di usus, dikeluarkanlah enzim protase yang dapat memecah protein pada makanan.

Sedangkan, di usus halus, lemak akan tercampur oleh asam empedu dan enzim lipase yang dikeluarkan oleh pankreas.

Tujuan dari Pencernaan Kimiawi

Pencernaan mekanis memang membuat makanan lebih kecil.

Tapi, pencernaan kimiawi bertujuan agar makanan dapat dipecah lagi menjadi sangat halus, agar lebih mudah diserap oleh sel tubuh.

Selain itu, pencernaan kimiawi bisa memecah nutrisi yang berbeda-beda pada makanan menjadi lebih kecil lagi.

– Lemak dipecah lagi menjadi asam lemak dan monogliserida.

– Asam nukleat dipecah lagi menjadi nukleotida.

– Polisakarida (gula karbohidrat) dipecah lagi menjadi monosakarida.

– Protein dipecah lagi menjadi asam amino.

– Karbohidrat dipecah lagi menjadi glikogen dan disakarida.

Tanpa adanya proses pencernaan kimiawi, tubuh manusia tidak bisa menyerap nutrisi dari makanan.

Akibatnya, tubuh teman-teman bisa mengalami kekurangan nutrisi, mineral, serta vitamin.

Padahal, sel-sel tubuh membutuhkan nutrisi, mineral, serta vitamin yang dibutuhkan, agar dapat bekerja dengan baik.

Apa yang Terjadi Setelah Proses Pencernaan Kimiawi?

Ketika proses kimiawi selesai, yaitu enzim membuat makanan lebih halus dan memecah setiap nutrisi makanan.

Maka tubuh kita akan menyerap nutrisi tersebut, secara otomatis. Penyerapan ini terjadi di dinding usus kecil, melalui membran sel usus.

Kemudian, akan menuju ke sel tubuh agar nutrisinya dapat diolah menjadi energi atau memperbaiki sel-sel yang rusak.