Arsip Penulis: admin_elik9s7o

Bayi Menangis setelah Disusui? Ini Kemungkinan Penyebab dan Cara Mengatasinya

Bukannya tenang dan tertidur, Si Kecil malah gelisah atau bahkan menangis setelah disusui? Jangan khawatir ya, Bun. Yuk, ketahui apa saja kemungkinan penyebab bayi menangis setelah menyusu dan bagaimana cara mengatasinya.

Umumnya, bayi menangis setelah menyusu jika ia masih lapar atau merasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman ini kadang bisa disebabkan oleh kondisi yang dapat Bunda tangani sendiri di rumah, tapi bisa juga disebabkan oleh kondisi yang lebih serius dan memerlukan penanganan dokter.

Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Menangis setelah Disusui
Berikut ini adalah beberapa penyebab bayi menangis setelah menyusu dan cara mengatasinya yang perlu Bunda ketahui:

1. Banyak udara di dalam perut
Bila Si Kecil menangis saat sedang menyusu atau bila pelekatan antara mulutnya dengan puting Bunda kurang tepat, ini bisa menyebabkan udara masuk ke dalam lambung dan saluran cerna Si Kecil. Kondisi ini akan membuat perut bayi kembung, tidak nyaman, dan akhirnya menangis setelah menyusu.

Untuk mengatasinya, ada beberapa cara yang bisa Bunda lakukan, yaitu:

Sendawakan Si Kecil setiap 5 menit sekali selama menyusu.
Sebisa mungkin susui Si Kecil sebelum ia sangat lapar.
Pastikan posisi Si Kecil dan pelekatan antara puting dengan mulutnya sudah benar.
Bila Si Kecil menyusu dari botol, pastikan dot botol susu memiliki lubang yang agak besar dan terisi penuh oleh susu. Bunda juga perlu menghindari untuk mengocok botol susu terlalu sering.

2. Gumoh
Gumoh sebenarnya normal dan biasanya terjadi bila bayi minum susu terlalu banyak. Selain itu, gumoh juga bisa dipicu oleh udara yang masuk ke lambung bayi ketika ia menyusu. Gumoh sering membuat bayi tidak nyaman, sehingga ia dapat menangis setelah menyusu.

Nah, untuk mencegahnya, Bunda dapat memosisikan tubuh Si Kecil sedikit lebih tegak saat ia menyusu. Lalu, sendawakan Si Kecil setelah menyusu dan gendong ia dalam posisi tegak selama 30 menit setelah menyusu. Namun, ingat! Jangan langsung mengajaknya bermain atau merebahkannya ya, Bun.

3. Kolik
Kolik merupakan kondisi ketika bayi menangis tanpa sebab yang jelas dan biasanya dialami oleh bayi berusia kurang dari 3 bulan. Kolik sebenarnya merupakan hal yang wajar dan bisa mereda dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.

Meski demikian, jika Si Kecil terus-menerus rewel atau menangis, Bunda bisa mencoba beberapa cara berikut untuk mengatasinya:

Letakkan Si Kecil di pangkuan Bunda dan elus punggungnya.
Gendong Si Kecil dan lakukan gerakan seperti mengayun dengan perlahan.
Bawa Si Kecil ke kamarnya yang tenang.
Berikan Si Kecil pijatan yang lembut.
4. Penyakit asam lambung
Penyakit asam lambung tak hanya bisa dialami oleh orang dewasa saja lho, Bun, tapi juga bayi. Penyakit asam lambung pada bayi dapat membuatnya jadi sering muntah, batuk, berat badan tidak bertambah atau malah menurun, dan menangis setelah menyusu.

Bayi menangis setelah menyusu memang tidak melulu pertanda kondisi yang serius, karena bisa saja ini tergolong normal dan dapat membaik dengan sendirinya.

Namun, jika bayi selalu menangis setiap usai menyusu dan penanganan rumah tak dapat menenangkannya, atau kondisi ini disertai dengan gejala lain, seperti muntah dan batuk, segera periksakan ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Memilih Obat Antinyamuk yang Aman untuk Bayi

Obat antinyamuk kerap menjadi pilihan untuk mencegah gigitan nyamuk yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk pada bayi. Namun, Anda harus lebih berhati-hati, karena tidak semua jenis obat antinyamuk aman untuk bayi.

Bayi umumnya memiliki kulit yang masih sensitif. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan produk yang bersentuhan langsung dengan kulit bayi, termasuk obat antinyamuk.

Hal ini karena ada kandungan bahan aktif dan dosis tertentu pada obat antinyamuk yang tidak aman dioleskan ke kulit bayi.

Memilih Obat Antinyamuk yang Aman dan Tepat
Bahan aktif yang umum digunakan pada obat antinyamuk, yaitu diethyltoluamide atau DEET. Zat ini dinilai efektif untuk menangkal gigitan nyamuk. Meski demikian, bayi berusia 2 bulan ke bawah tidak boleh memakai obat antinyamuk mengandung DEET.

Zat aktif lainnya yang tidak boleh digunakan pada bayi dengan usia tersebut, antara lain picaridin (memiliki efek yang sama seperti DEET), IR3535, dan minyak lemon eukaliptus. Khusus obat antinyamuk yang mengandung minyak lemon eukaliptus, Anda baru diperbolehkan mengoleskannya ke kulit si Kecil saat dia berusia tiga tahun ke atas.

Dosis obat antinyamuk juga perlu diperhatikan. Jangan pilih obat antinyamuk yang mengandung DEET sebanyak 30 persen atau lebih. Takaran tersebut tidak direkomendasikan untuk si Kecil. Lagi pula, tinggi rendahnya konsentrasi DEET tidak berhubungan dengan efektivitas menangkal nyamuk.

Sebagai contoh, obat antinyamuk yang mengandung DEET sebesar 10 persen efektif mencegah gigitan nyamuk selama 2 jam. Sementara yang kandungannya 24 persen mampu menangkal nyamuk hingga 5 jam.

Kedua takaran tersebut sama-sama efektif mencegah gigitan nyamuk. Perbedaannya hanya terletak pada jangka waktu perlindungan.

Tips Mengaplikasikan Obat Antinyamuk pada Bayi
Lakukan petunjuk pemakaian di bawah ini agar si Kecil aman dari sengatan nyamuk serta zat-zat yang terkandung dalam obat atau losion antinyamuk:

Hindari mengoleskan obat antinyamuk di sekitar mata dan mulut.
Gunakan obat antinyamuk secukupnya di area telinga.
Berikan obat antinyamuk pada pakaian dan kulit yang tidak tertutup pakaian.
Hindari penggunaan obat antinyamuk bila ada infeksi atau luka pada kulit Si Kecil.
Hindari menggunakan obat antinyamuk bersamaan dengan tabir surya.
Jangan mengoleskan obat antinyamuk ke telapak tangan Si Kecil, karena ia suka memasukkan tangannya ke mulut.
Pastikan Si Kecil tidak memainkan atau menggigit botol obat antinyamuk.
Sebaiknya tidak memilih obat antinyamuk dalam bentuk semprot, karena rentan terhirup Si Kecil. Agar aman, semprotkan dulu ke tangan Anda, lalu usapkan pada kulit Si Kecil.
Selain menggunakan obat antinyamuk, Anda pun bisa mengusir nyamuk tanpa bahan kimia dengan memaikan Si Kecil baju yang menutupi seluruh kulitnya. Memasang kelambu di sekitar tempat tidurnya juga bisa Anda lakukan untuk menghindari Si Kecil dari gigitan nyamuk. Menanam tanaman pengusir nyamuk di rumah juga bisa Anda lakukan untuk menghindarkan anak dari gigitan nyamuk.

Hentikan pemakaian obat antinyamuk jika terjadi iritasi pada kulit Si Kecil. Apabila iritasi tidak kunjung membaik, konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

5 Cara Menyusui yang Benar dan Praktis

Pemahaman tentang cara menyusui yang benar sangat diperlukan oleh para ibu agar proses menyusui berjalan dengan lancar. Bunda jangan berkecil hati jika sering mengalami kesulitan untuk menyusui, karena artikel ini akan membantu Bunda mengatasinya.

Air susu ibu (ASI) mengandung lebih dari 200 nutrisi yang sempurna untuk memenuhi kebutuhan bayi. Seiring dengan tumbuh kembangnya, kandungan nutrisi di dalam ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

Memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan akan menekan risiko diabetes, obesitas, asma, serta penyakit infeksi seperti infeksi telinga, radang paru-paru (pneumonia), meningitis, dan diare. Selain itu, ASI juga mampu meningkatkan kecerdasan bayi.

5 Cara Menyusui yang Benar dan Praktis

Cara Menyusui yang Benar
Beberapa hal berikut ini dapat dilakukan agar proses menyusui mudah dan menyenangkan bagi ibu dan bayi:

1. Pastikan ibu dan bayi berada dalam kondisi relaks dan nyaman
Posisi kepala bayi harus lebih tinggi dibandingkan tubuhnya. Hal ini dimaksudkan agar bayi lebih mudah menelan.
Ibu dapat menyangga dengan tangan ataupun mengganjal dengan bantal. Kemudian, tempatkan hidung bayi sejajar dengan puting. Hal ini akan mendorong bayi membuka mulutnya.

2. Mendekatkan bayi ke payudara
Ketika bayi mulai membuka mulutnya dan ingin menyusu, maka dekatkan bayi ke payudara ibu. Tunggu hingga mulutnya terbuka lebar dengan posisi lidah ke arah bawah.

Jika bayi belum melakukannya, ibu dapat membimbing bayi dengan dengan menyentuh lembut bagian bawah bibir bayi dengan puting susu ibu.

3. Pelekatan yang benar

Posisi pelekatan terbaik bayi menyusui adalah mulut bayi tidak hanya menempel pada puting, tetapi juga pada areola. Pelekatan ini merupakan salah satu syarat penting dalam cara menyusui yang benar.

Pelekatan yang baik ditandai dengan tidak adanya rasa nyeri pada ibu saat bayi menyusu dan bayi memperoleh ASI yang mencukupi. Untuk mengetahui hal ini, ibu dapat mendengarkan saat bayi menelan ASI.

4. Membetulkan posisi bayi

Jika puting nyeri, lepas pelekatan dengan memasukan jari kelingking ke dalam mulut dan letakkan di antara gusinya. Gerakan ini akan membuatnya berhenti menyusu sementara Anda bisa menyesuaikan posisi bayi.

Kemudian, coba lagi posisi pelekatan yang lebih baik. Setelah pelekatan sudah benar, umumnya bayi akan dapat menyusu dengan baik.

5. Waktu menyusu

Bayi bisa menyusu mulai dari 5 menit hingga 1 jam, tergantung kebutuhannya. Untuk bayi yang baru lahir, biasanya bayi perlu disusui setiap 2–3 jam dengan dengan waktu menyusu 10–15 menit setiap sesinya, tetapi juga bisa lebih lama.

Umumnya dibutuhkan beberapa waktu untuk adaptasi ibu dan bayi, agar proses menyusui berjalan lancar.

7 Tanda Penyakit Infeksi Paru-paru Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga mempunyai risiko terkena infeksi paru-paru.

Pneumonia jadi salah satu penyakit infeksi paru-paru yang dialami banyak oleh anak-anak.

Melansir Kids Health, Sabtu (05/02/2022), pneumonia adalah infeksi yang terjadi saat kantung kecil di paru-paru terisi oleh cairan.

Padahal, dalam keadaan normal seharusnya kantung tersebut terisi oleh udara.

Gejala penyakit infeksi paru-paru

Penting bagi orangtua untuk mengetahui gejala penyakit infeksi paru-paru pada anak, agar bisa segera ditangani.

Berikut ini, merupakan gejala infeksi paru-paru yang umum dialami oleh anak, dilansir dari Healthline, Sabtu (05/02/2022).

1. Batuk berdahak

Batuk merupakan cara tubuh untuk menghilangkan lendir yang diproduksi dari peradangan di paru-paru.

Jika mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru lainnya, batuk yang terjadi akan disertai dahak bening, berwarna putih, hijau, atau kuning keabu-abuan.

Anak mungkin akan batuk selama beberapa minggu, bahkan setelah gejala yang lain membaik.

2. Nyeri di dada

Gejala penyakit infeksi paru-paru pada anak yang lain adalah nyeri di dada. Nyeri akan semakin memburuk jika anak sedang batuk atau menghirup napas yang dalam.

3. Demam

Anak mungkin akan mengalami demam, karena ini merupakan cara alami tubuh untuk melawan infeksi. Saat terjadi infeksi paru-paru, suhu tubuh akan meningkat jadi 40.5 derajat Celcius.

Jika suhu sudah lebih dari 38.9 derajat Celcius atau berlangsung lebih dari tiga hari, maka harus segera dibawa ke dokter.

4. Hidung meler

Selain batuk, gejala infeksi paru-paru pada anak yang perlu diwaspadai adalah hidung meler. Anak juga mungkin akan mengalami tanda yang mirip dengan flu, seperti bersin-bersin.

5. Napas tersengal

Napas anak tersengal atau mengalami kesulitan saat bernapas. Anak harus dibawa ke dokter sesegera mungkin jika menunjukkan gejala ini.

6. Kelelahan

Anak-anak biasanya merasa lesu dan lelah ketika tubuhnya berusaha melawan infeksi. Istirahat sangat penting, untuk mengatasinya.

7. Terdengar bunyi di paru-paru

Gejala infeksi paru-paru yang terakhir adalah adanya suara berderak di dasar paru-paru atau bibasilar crackles.

Pentingnya Mengajarkan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Menjaga kesehatan anak secara keseluruhan adalah hal yang penting dilakukan, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Sayangnya, tidak banyak orangtua yang sadar bahwa anak-anak mungkin perlu diajarkan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini. Banyak orangtua yang menganggap bahwa menyikat gigi saja sudah cukup.

Menjaga kesehatan mulut dan gigi adalah salah satu kebiasaan baik yang harus diajarkan sejak kecil. Dengan begitu, hal ini bisa menjadi kebiasaan dan membuat anak memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan hal tersebut seumur hidupnya. Nyatanya, kebiasaan ini membantu mencegah karies dan penyakit periodontal seiring bertambahnya usia.

Baca juga: 3 Masalah Kesehatan Mulut Pada Anak

Bahaya Tidak Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
Rutin menyikat gigi bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Namun perlu diketahui, hal itu saja mungkin tidak cukup, apalagi pada anak-anak. Rutinitas menggosok gigi, membersihkan rongga mulut menggunakan obat kumur, dan menggunakan benang gigi ternyata masih belum efektif untuk menghindari gangguan yang terjadi pada gigi dan mulut.

Kondisi ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Sebab, masalah pada gigi dan mulut bisa berakibat fatal dan memengaruhi kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Infeksi pada gigi atau gusi dapat menyebar ke dalam jaringan tubuh lain. Dalam kondisi yang parah, infeksi bisa meningkatkan risiko penyakit atau gangguan pada organ lain.

Ada beragam gangguan kesehatan gigi dan mulut yang bisa muncul jika Si Kecil tidak terbiasa menjaga kebersihan area tersebut. Risiko penyakit meningkat pada anak yang jarang menyikat gigi, mengunyah permen karet atau makanan manis secara berlebihan, serta kurang minum air putih. Nyatanya, kebiasaan-kebiasaan tersebut rentan membuat gigi dan gusi rusak.

Baca juga: Ini 6 Cara Agar Si Kecil Bebas Radang Gusi

Gigi yang rusak bisa menimbulkan nyeri, pembengkakan pada gusi, gigi berlubang, bahkan pembusukan gigi pada anak. Ada beragam jenis sakit gigi yang mungkin muncul, di antaranya:

1.Karies Gigi

Jenis sakit ini bersifat umum dan sering terjadi pada anak. Karies gigi muncul karena ada penumpukan plak pada area gigi dan mulut. Plak merupakan bakteri atau kotoran yang menempel dan hidup di rongga mulut. Seringnya, plak muncul karena sisa makanan yang tidak dibersihkan atau tidak menyikat gigi sebelum tidur.

2.Gingivitis

Gingivitis alias radang gusi juga bisa muncul akibat kebersihan gigi dan mulut yang tidak terjaga. Tidak berbeda jauh dengan karies gigi, radang gusi juga disebabkan oleh penumpukan plak pada gigi. Infeksi ini menyebabkan gusi meradang dan membuat gusi mudah berdarah.

3.Periodontitis

Gangguan pada gusi bisa semakin parah, terutama jika anak tidak memiliki kebiasaan menyikat gigi dengan benar. Kondisi yang lebih berbahaya bisa terjadi, yaitu periodontitis. Kondisi ini merupakan infeksi gusi serius yang bisa merusak jaringan lunak dan tulang yang menyangga gigi. Gejala yang timbul sebagai tanda penyakit ini adalah bau mulut, perubahan warna gusi menjadi merah terang atau keunguan, pembengkakan dan perdarahan pada gusi.

5 Cara Mudah Menjaga Kesehatan Mata Anak

Kesehatan mata anak perlu dijaga untuk mencegah masalah di masa depan. Ibu pasti tidak mau kan kalau Si Kecil harus memakai kacamata sejak dini untuk membantu penglihatannya?

Mata tidak sebatas membantu anak melihat dunia. Panca indera yang satu ini mampu menunjang perkembangan fisik, sosial, dan kognitif melalui informasi yang diperoleh dari penglihatannya.

Tips Penting Menjaga Kesehatan Mata Anak
1. Pola makan sehat
Penuhi kebutuhan gizi anak dengan memberikannya sayuran segar, telur, ikan, daging, dan buah-buahan. Ketika gizi yang terpenuhi kemudian mampu menjaga mata tetap sehat. Pilih sayuran berdaun hijau dan sayuran kuning yang kaya vitamin A. Nutrisi ini mampu menunjang kesehatan mata.

2. Perbanyak minum air putih
Mata kering dapat menyebabkan infeksi. Oleh sebab itu, orang tua perlu memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi agar mata tetap lembap. Dorong Si Kecil untuk minum minimal empat gelas penuh air setiap harinya. Kebutuhannya dapat berubah tergantung pada usia anak, aktivitas, dan kondisi cuaca.

3. Tidur cukup
Tidur malam yang berkualitas membantu meremajakan tubuh dan merilekskan mata. Buat rutinitas tidur secara teratur seperti tidak bermain gadget sebelum tidur, membersihkan kasur, mengganti pakaian dan mengatur suhu ruangan agar nyaman.

4. Batasi waktu layar
Anak-anak cenderung belum bisa mengontrol pemakaian smartphone, tablet, konsol game, dan komputer. Penggunaan perangkat ini dalam waktu yang lama dapat membuat mata tegang. Waktu layar sebaiknya dibatasi satu jam per hari saja.

5. Hindari menggosok mata
Anak-anak cenderung menggosok mata, terutama saat ada benda asing yang masuk. Namun, hal ini dapat merusak mata dan kuman berisiko masuk ke dalamnya. Daripada digosok, anjurkan anak untuk membilas matanya dengan air mengalir dan rutin mencuci tangan.

Selain kesehatan fisik, pola asuh yang tepat juga perlu ibu perhatikan. Jangan ragu untuk menemui psikolog untuk meminta saran soal pola asuh anak.

Pentingnya Sunat Sedari Kecil

Seringkali menjadi pertanyaan bagi masyarakat awam mengenai pentingnya sunat, Sunat (Sirkumsisi) sendiri merupakan proses pelepasan kulup atau kulit yang menyelubungi ujung penis. Bukan hanya diperuntukkan untuk anak atau orang dewasa, sunat dapat dilakukan juga pada bayi.

Manfaat Sunat ?
Penis lebih mudah dibersihkan
Dengan dilakukannya proses pelepasan kulit pada ujung penis, menjadikan bagian penis lebih mudah dibersihkan. Sementara pada anak laki-laki yang belum sunat, bagian kulup/ kulit yang belum dipotong harus rutin dibersihkan untuk menghindari berbagai resiko penyakit.
Memperkecil Resiko infeksi saluran kemih
Meskipun resiko infeksi saluran kemih tergolong rendah pada anak-anak maupun laki-laki dewasa, infeksi tetap dapat terjadi dan akan sering dialami oleh mereka yang belum sunat.
Mencegah terjadinya penyakit di area penis
Pada beberapa kasus, kulup pada penis yang belum disunat sering mengalami kesulitan bahkan tidak mungkin ditarik kembali, kondisi ini dikenal dengan istilah fimosis. Sunat/ Khitan bermanfaat untuk mencegah terjadinya fimosis terutama pada bayi.
Mengurangi adanya resiko penyakit menular
Salah satu manfaat Sunat bagi kesehatan adalah mengurangi adanya resiko penyakit menular seksual seperti HIV atau Gonore ketika anak dewasa kelak.
Menurunkan Resiko Kanker Penis
Berdasarkan data WHO tahun 2020, kanker penis di Indonesia menempati urutan ke-29 dalam hal kasus kanker baru, dan ke-31 dalam penyebab kematian akibat kanker. Manfaat lain adalah Menurunkan bahkan mencegah terjadinya penyakit kanker penis. Meski merupakan penyakit langka, data membuktikan bahwa penyakit ini jarang menyerang pria yang sudah disunat.
Masa penyembuhan Pasca Sunat
Pada umumnya masa penyembuhan pasca sunat membutuhkan waktu 7-10 hari hingga penis sembuh sepenuhnya. Apabila terjadi infeksi pasca Sunat (khitan), segera periksakan ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan luka pada area penis yang tepat.

5 Tips Menjaga Kesehatan Anak Usia 1-2 Tahun

Usia 1-2 tahun merupakan masa keemasan anak. Hal ini terjadi karena pada waktu ini momen 1000 hari kehidupan pertamanya. Di usia ini, segala hal yang didapat memengaruhi tumbuh kembangnya di kemudian hari, termasuk asupan nutrisi. Itulah mengapa kebanyakan orangtua melakukan yang terbaik demi tumbuh kembang dan kesehatannya yang optimal.

Mengingat ketertarikannya pada objek meningkat, tidak jarang anak-anak merangkak dan bermain sambil memasukkan benda apa pun ke mulutnya. Itulah sebabnya, pola asuh anak yang dijalankan tiap orangtua juga akan memengaruhi kondisi anak. Bukan sekadar menjaganya 24 jam, melainkan dengan membantunya menerapkan gaya hidup sehat sejak dini.

Tips Menjaga Kesehatan Anak Usia 1-2 Tahun
Banyak hal yang bisa diperhatikan oleh orangtua saat menjaga kesehatan anak. Mulai dari asupan nutrisi, kegiatan fisik, hingga pola asuh anak menentukan kesehatan anak. Baik secara fisik maupun mental. Namun jangan khawatir, berikut ini tips menjaga kesehatan anak usia 1-2 tahun yang bisa ibu terapkan:

1. Berikan ASI Eksklusif
Menyusui adalah cara luar biasa bagi ibu dan Si Kecil untuk mempererat ikatan sembari memberi nutrisi paling alami. Namun, menyusui secara langsung mungkin tidak bisa dilakukan oleh semua ibu. Sebab, menyusui membutuhkan banyak waktu dan pengabdian untuk memberikan nutrsi yang menyehatkan. dan menyusui sepanjang waktu. Melansir dari WebMD, ASI mengandung antibodi yang membantu Si Kecil untuk melawan virus dan bakteri. Hal ini tentunya sangat penting bagi membantu pembentukan kekebalan tubuh Si Kecil yang masih berkembang.

2. Lakukan Imunisasi
Imunisasi adalah program pemberian vaksin ke dalam tubuh anak untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit. Pada usia 1-2 tahun, Si Kecil wajib melakukan imunisasi polio, DPT ulangan, MMR (measles, mumps, dan rubella), tifoid, hepatitis A, influenza, varisela, dan pneumokokus. Untuk info lebih lanjut tentang imunisasi, ibu bisa berbicara langsung dengan dokter anak.

Selain memberikannya imunisasi, ibu juga perlu memberikan Si Kecil vitamin untuk menunjang kesehatannya. Ibu bisa membeli vitamin yang dibutuhkan. Cukup masuk ke fitur Buy Medicine, lalu pesan obat atau vitamin yang dibutuhkan. Setelah itu, ibu hanya tinggal menunggu kurang dari 1 jam sampai pesanan datang.

3. Jaga Asupan Makanan Si Kecil
Apa yang dimakan Si Kecil memengaruhi kesehatannya, sehingga ibu perlu memerhatikan dan menjaga asupan makanan Si Kecil. Sebenarnya di usia ini, Si Kecil sudah bisa mengonsumsi makanan keluarga, asalkan tekstur makanannya masih lunak. Sebab, ia baru bisa mengonsumsi makanan keluarga saat usianya lebih dari dua tahun. Melansir dari CDC, ibu perlu memberikan banyak sayuran, buah-buahan, dan produk gandum untuk menjaga kesehatan Si Kecil. Hindari memberikannya gula dan makanan yang mengandung lemak jenuh terlalu banyak.

4. Perhatikan Waktu Tidur Si Kecil
Tidur bukan sekadar menghilangkan rasa kantuk, tapi juga baik untuk tumbuh kembangnya. Tidur yang cukup bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mendukung tumbuh kembangnya, serta memengaruhi tingkat kognitifnya.

Si Kecil yang berusia 1-2 tahun membutuhkan waktu tidur sebanyak 12-14 jam dalam sehari. Ini termasuk jumlah jam tidur siangnya, yakni sebanyak 1-3 jam dalam sehari. Jadi, pastikan agar Si Kecil mendapat kualitas dan kuantitas tidur yang baik guna tumbuh kembangnya yang optimal.

5. Penuhi Kasih Sayang untuk Si Kecil
Tahukah ibu bahwa hubungan orangtua dan anak yang penuh dengan perhatian, kasih sayang, dan stabil dapat membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih baik? Untuk itu, jangan lupa memberikan anak perhatian yang positif dan kasih sayang. Hal ini berkaitan langsung dengan pola asuh anak yang tepat dalam perkembangannya.

Hubungan orangtua dan anak yang kuat sejak dini membuat anak terhindar dari berbagai gangguan kesehatan mental maupun fisik yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Bahkan, kondisi ini juga akan membuat anak memiliki hubungan sosial yang baik ke depannya.

Kebanyakan anak di usia ini akan mengeksplor apapun yang ada di sekitarnya. Jadi, jangan heran jika banyak anak yang gemar bermain tanah, air, dan objek lainnya. Hal itu adalah hal yang wajar, tetapi jangan biarkan aktivitas ini membuatnya jatuh sakit karena infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah mengajari Si Kecil tentang praktek cuci tangan dan kaki pakai sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan sebelum tidur.

Itulah tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan anak yang berusia 1 sampai 2 tahun. Tetap jaga kondisi tubuh anak agar terhindar dari gangguan kesehatan apa pun.

Kenali dan Lindungi Buah Hati dari 5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Anak

Salah satu pengalaman kurang menyenangkan yang cukup sering dialami oleh orangtua adalah ketika anak jatuh sakit. Anak-anak memang memiliki kecenderungan lebih sering jatuh sakit daripada orang dewasa karena sistem imun yang dimilikinya belum berkembang dengan sempurna. Dengan begitu, serangan virus dan bakteri sulit untuk dihalau oleh sistem imun yang dimiliki tubuhnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi rentan terhadap serangan penyakit, mulai dari gangguan imunologis bawaan, perubahan cuaca yang ekstrem, hingga kondisi anak yang sedang susah makan. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat membuat daya tahan tubuh anak menjadi lemah dan kesulitan menghadang virus dan bakteri dari luar. Penangan yang cepat dan tepat sangat penting dilakukan ketika anak jatuh sakit. Oleh karena itu, ada baiknya orangtua memahami berbagai jenis penyakit yang lazim menyerang anak, seperti penyakit-penyakit berikut:

Penyakit Diare

Diare pada anak seringkali ditandai dengan rasa sakit yang konstan pada bagian perut, serta frekuensi buang air besar yang terlalu sering dengan feses yang cenderung encer. Penyebab diare yang paling umum ditemui adalah infeksi saluran pencernaan, keracunan atau alergi makanan, infeksi parasit, hingga iritasi usus. Pada anak-anak, diare cenderung lebih sering menyerang karena perkembangan saluran cerna anak belum sempurna. Oleh karena itu, apabila ada patogen atau bakteri yang masuk, maka dapat dengan mudah masuk melalui sela-sela sel usus dan langsung masuk ke dalam peredaran darah.

Jika anak mengalami diare dengan frekuensi buang air besar hingga lima kali dalam sehari, Anda perlu waspada, jangan sampai buah hati Anda terkena dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh akibat diare. Untuk penanganan awal, Anda dapat memberikan minuman yang mengandung elektrolit (oralit). Jika diare pada anak tak kunjung membaik dalam kurun waktu tiga hari, segera periksakan anak ke dokter agar penyakit tersebut tidak berkembang semakin parah.

Penyakit Demam

Demam terjadi ketika suhu tubuh anak melebihi 37,2°C bila diukur dari ketiak, melebihi 37,8°C bila diukur dari mulut, atau di atas 38°C bila diukur dari dubur. Demam pada anak biasanya dipicu oleh virus, seperti virus penyebab influenza. Anda dapat melakukan penanganan darurat untuk mengatasi demam yang dialami anak dengan mengompres dahi anak dengan air hangat, memberikan asupan berupa makanan dan minuman hangat, dan menghangatkan tubuhnya dengan selimut. Umumnya, demam yang dialami anak dapat diatasi dengan obat-obatan. Namun, tidak semua obat boleh diberikan pada anak yang sedang demam. Oleh karena itu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar anak bisa diobati dengan tepat.

Penyakit Radang Tenggorokan

Jika anak terlihat kesulitan untuk menelan makanan dan lebih rewel saat hendak makan, ada kemungkinan bahwa ia mengalami radang tenggorokan. Selain tenggorokan yang terasa kering dan gatal, radang tenggorokan juga bisa menimbulkan gejala sakit kepala, badan lemas, dan nyeri otot. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh banyak hal, mulai dari alergi, infeksi virus dan bakteri yang menyerang rongga mulut anak, hingga pola makan dengan gizi yang kurang seimbang. Memberi minum banyak air pada anak dan memintanya untuk berkumur air garam adalah cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi gejala radang tenggorokan pada anak. Namun, jika kondisi anak tidak segera membaik, sebaiknya segera periksakan ia ke dokter agar diberi penanganan yang aman dan tepat.

Penyakit Cacar Air

Anda perlu waspada jika menemukan bintik-bintik merah bermunculan pada tubuh buah hati Anda. Salah satu gejala khas cacar air adalah bintik-bintik merah di tubuh yang berubah menjadi benjolan-benjolan bening berisi air yang gatal dan menyebar di seluruh tubuh dalam beberapa hari. Sebenarnya, cacar air dapat dicegah dengan vaksin. Namun, imunitas tubuh anak memiliki pengaruh besar terhadap kerentanan terhadap virus cacar, tingkat keparahan cacar air, dan durasi pemulihan pasca cacar air.

Jika buah hati Anda terserang cacar air, ada baiknya Anda memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan perawatan dan obat yang sesuai dengan kondisinya. Pada umumnya, dokter akan memberikan resep krim topikal untuk mengurangi gatal-gatal yang dirasakan anak. Selain itu, akan diberikan juga beberapa obat minum yang disesuaikan dengan kondisi tubuh anak. Sementara itu, karena virus cacar air ini bersifat menular, sebaiknya Anda tidak membiarkan anak Anda bermain-main dengan anak lain hingga ia benar-benar sembuh.

Penyakit Cacingan

Anak cukup rentan mengalami cacingan karena anak memang lebih sering bermain di luar ruangan dibandingkan orang dewasa. Selain itu, biasanya anak juga belum begitu memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan tubuhnya.

Jika anak bermain di luar lalu langsung memegang makanan dan makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu, maka ada kemungkinan cacing atau telur cacing yang berasal dari tanah atau air kotor bisa masuk ke dalam tubuh anak dan kemudian berkembang biak di usus.

Untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya Anda mengajarkan anak untuk disiplin mencuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah keluar dari toilet. Selain itu, rutin minum obat cacing setiap enam bulan sekali juga disarankan untuk mencegah cacingan.

7 Penyakit Infeksi pada Anak yang Rentan Terjadi

Sistem kekebalan tubuh anak belum sekuat orang dewasa sehingga membuatnya rentan mengalami penyakit infeksi. Tidak hanya itu, faktor kebersihan anak juga berpengaruh pada risiko penyakit yang satu ini. Lantas, apa saja penyakit infeksi yang bisa terjadi pada anak?

Berbagai penyakit infeksi pada anak yang sering terjadi
Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit.

Organisme-organisme ini menyerang dan masuk ke dalam tubuh anak, kemudian menimbulkan sejumlah gejala.

Berikut ini beberapa penyakit infeksi pada anak yang umum terjadi di Indonesia dengan informasi gejala dan cara mengatasinya.

1. Cacingan
Di Indonesia, cacingan pada anak sering terjadi akibat infeksi cacing gelang, tambang, atau cambuk. Biasanya, ini terjadi karena anak kurang menjaga kebersihan.

Misalnya, anak langsung memegang makanan dan makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu setelah bermain di luar rumah, atau kebiasaan bermain di luar tanpa alas kaki.

Gejala cacingan
Beberapa anak tidak mengalami gejala cacingan apa pun. Namun, bila muncul, berikut adalah gejala cacingan pada anak yang mungkin terjadi.

Sering menggaruk bokong, khususnya bagian anus.
Perut anak sakit.
Demam.
Ada cacing pada feses anak.
Anak tidak nafsu makan.
Berat badan anak turun.
Mual, atau bahkan muntah.
Penanganan
Cacingan pada anak bisa diatasi dengan obat cacing, seperti albendazol atau mebendazol hingga 3 hari atau lebih, tergantung jenis cacing yang menginfeksi anak.

Anda pun perlu rutin membersihkan rumah serta mengajari anak untuk mencuci tangan secara teratur guna membantu mencegah penyebaran infeksi dalam keluarga.

2. Cacar air

Cacar air adalah penyakit infeksi pada anak yang disebabkan oleh virus. Ini merupakan penyakit yang menular, terutama pada anak yang belum pernah terkena cacar air.

Adapun virusnya bisa menyebar melalui batuk atau kontak langsung dengan cairan dalam lepuh atau bintik-bintik merah yang muncul di kulit.

Gejala cacar air
Gejala cacar air pada anak biasanya muncul 11-20 hari setelah paparan atau setelah anak berinteraksi dengan anak lain yang sedang cacar air.

Biasanya, gejala pertama yang muncul berupa bintik-bintik merah kecil di tubuh anak, terutama dada, punggung, kepala, atau leher, yang diikuti dengan demam dan badan lemas.

Bintik-bintik kemudian berkembang menjadi lepuh berisi cairan dalam satu atau dua hari. Setelah mengering, bintik-bintik atau lepuh ini kemudian mengelupas dan rontok.

Penanganan
Mengatasi cacar air pada anak sebaiknya dilakukan di rumah. Anak perlu beristirahat di rumah agar tidak menularkan ke teman-teman atau orang sekitarnya.

Saat di rumah, Anda bisa memberikan paracetamol untuk meredakan demam pada anak dan losion calamine untuk mengurangi gatalnya.

Minta anak untuk perbanyak minum air putih, jangan menggaruk area yang gatal, serta pakaikan baju yang longgar agar ia merasa nyaman.

3. Influenza
Penyakit satu ini sering dialami pada anak dan orang dewasa akibat infeksi virus yang menular.

Penularan virus influenza pada anak biasanya terjadi melalui udara saat penderitanya bersin atau batuk.

Tak hanya itu, penularan juga bisa terjadi melalui tangan atau benda yang telah disentuh oleh orang yang terinfeksi.

Gejala influenza
Gejala influenza pada anak biasanya muncul satu hingga tiga hari setelah terpapar. Adapun berikut adalah gejala influenza pada anak yang umum muncul.

Demam.
Batuk.
Menggigil.
Sakit kepala pada anak.
Nyeri otot.
Penanganan
Anak yang terinfeksi influenza biasanya akan sembuh hanya dengan beristirahat dan minum obat pereda nyeri untuk meredakan gejala.

Obat antivirus influenza khusus mungkin bisa anak Anda minum, tetapi harus sesuai resep dokter.

Selain itu, minta anak untuk menutup hidung dan mulut saat batuk dan bersin dengan siku atau tisu serta rutin mencuci tangan untuk mencegah penyebaran virus.

Untuk mengurangi risiko tertular, bayi berusia 6 bulan hingga anak di bawah 5 tahun bisa mendapat vaksin influenza.

4. Demam berdarah

Penyakit ini terjadi karena infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk. Demam berdarah pada anak sangat umum terjadi di Indonesia karena merupakan negara tropis.

Meski demikian, sebagian besar kasusnya hanya ringan dan dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu seminggu setelah penularan.

Gejala demam berdarah
Gejala demam berdarah pada anak umumnya ringan, terutama pada anak yang baru pertama kali terkena penyakit ini.

Namun, pada anak yang lebih tua dan yang sudah pernah terkena penyakit ini bisa mengalami gejala sedang hingga parah.

Demam tinggi hingga 40 derajat Celsius.
Nyeri otot, tulang, terasa sakit di belakang mata.
Sakit kepala parah.
Ruam di seluruh tubuh.
Mudah memar.
Anak mimisan atau gusi berdarah.
Penanganan
Tidak ada pengobatan khusus untuk demam berdarah. Kasus ringan umumnya bisa teratasi dengan beristirahat dan minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi pada anak.

Bila gejala parah, sebaiknya segera bawa anak Anda ke rumah sakit.

Dokter dan perawat dapat memberikan tambahan cairan melalui infus untuk mengganti cairan yang hilang akibat muntah atau diare.

5. Diare
Ini merupakan penyakit infeksi yang sangat sering terjadi pada anak, mulai dari bayi, balita, hingga anak yang lebih besar.

Diare pada anak sering terjadi karena infeksi bakteri, virus, parasit, atau masalah lainnya, seperti alergi pada makanan tertentu atau gangguan pencernaan pada anak.

Gejala diare
Gejala diare bisa berbeda pada tiap anak. Secara umum, berikut adalah gejala diare yang umum.

Perut anak sakit atau terasa kram.
Mual.
Perut anak kembung.
Demam.
Buang air besar terus menerus.
Dehidrasi.
Penanganan
Untuk mengatasi diare pada anak, Anda perlu memberinya air putih yang cukup untuk mengganti cairan yang hilang.

Dokter pun mungkin akan memberi obat antibiotik untuk anak jika diare terjadi karena infeksi bakteri.

Pada bayi, pastikan Anda tetap menyusui bayi untuk mengurangi gejalanya.

6. Campak

Campak adalah penyakit infeksi disebabkan oleh virus yang sangat menular pada anak dan orang dewasa.

Penyakit ini bisa serius dan fatal pada anak kecil. Bahkan, pada beberapa kasus, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Gejala campak
Mengutip dari Mayo Clinic, berikut adalah gejala campak yang paling sering terjadi.

Demam.
Batuk kering.
Pilek.
Sakit tenggorokan.
Mata meradang (konjungtivitis).
Bintik-bintik putih kecil dengan warna kebiruan di bagian tengahnya yang berada di dalam mulut pada lapisan pipi.
Ruam di kulit.
Penanganan
Tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi campak pada anak.

Dokter mungkin akan memberikan obat untuk meredakan demam, seperti paracetamol atau ibuprofen untuk anak.

Antibiotik pun mungkin akan dokter berikan jika infeksi bakteri, seperti pneumonia atau infeksi telinga, juga terjadi saat anak mengalami campak.