Arsip Kategori: Tips Kesehatan Balita

7 Tanda Penyakit Infeksi Paru-paru Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga mempunyai risiko terkena infeksi paru-paru.

Pneumonia jadi salah satu penyakit infeksi paru-paru yang dialami banyak oleh anak-anak.

Melansir Kids Health, Sabtu (05/02/2022), pneumonia adalah infeksi yang terjadi saat kantung kecil di paru-paru terisi oleh cairan.

Padahal, dalam keadaan normal seharusnya kantung tersebut terisi oleh udara.

Gejala penyakit infeksi paru-paru

Penting bagi orangtua untuk mengetahui gejala penyakit infeksi paru-paru pada anak, agar bisa segera ditangani.

Berikut ini, merupakan gejala infeksi paru-paru yang umum dialami oleh anak, dilansir dari Healthline, Sabtu (05/02/2022).

1. Batuk berdahak

Batuk merupakan cara tubuh untuk menghilangkan lendir yang diproduksi dari peradangan di paru-paru.

Jika mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru lainnya, batuk yang terjadi akan disertai dahak bening, berwarna putih, hijau, atau kuning keabu-abuan.

Anak mungkin akan batuk selama beberapa minggu, bahkan setelah gejala yang lain membaik.

2. Nyeri di dada

Gejala penyakit infeksi paru-paru pada anak yang lain adalah nyeri di dada. Nyeri akan semakin memburuk jika anak sedang batuk atau menghirup napas yang dalam.

3. Demam

Anak mungkin akan mengalami demam, karena ini merupakan cara alami tubuh untuk melawan infeksi. Saat terjadi infeksi paru-paru, suhu tubuh akan meningkat jadi 40.5 derajat Celcius.

Jika suhu sudah lebih dari 38.9 derajat Celcius atau berlangsung lebih dari tiga hari, maka harus segera dibawa ke dokter.

4. Hidung meler

Selain batuk, gejala infeksi paru-paru pada anak yang perlu diwaspadai adalah hidung meler. Anak juga mungkin akan mengalami tanda yang mirip dengan flu, seperti bersin-bersin.

5. Napas tersengal

Napas anak tersengal atau mengalami kesulitan saat bernapas. Anak harus dibawa ke dokter sesegera mungkin jika menunjukkan gejala ini.

6. Kelelahan

Anak-anak biasanya merasa lesu dan lelah ketika tubuhnya berusaha melawan infeksi. Istirahat sangat penting, untuk mengatasinya.

7. Terdengar bunyi di paru-paru

Gejala infeksi paru-paru yang terakhir adalah adanya suara berderak di dasar paru-paru atau bibasilar crackles.

Pentingnya Mengajarkan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Menjaga kesehatan anak secara keseluruhan adalah hal yang penting dilakukan, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Sayangnya, tidak banyak orangtua yang sadar bahwa anak-anak mungkin perlu diajarkan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini. Banyak orangtua yang menganggap bahwa menyikat gigi saja sudah cukup.

Menjaga kesehatan mulut dan gigi adalah salah satu kebiasaan baik yang harus diajarkan sejak kecil. Dengan begitu, hal ini bisa menjadi kebiasaan dan membuat anak memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan hal tersebut seumur hidupnya. Nyatanya, kebiasaan ini membantu mencegah karies dan penyakit periodontal seiring bertambahnya usia.

Baca juga: 3 Masalah Kesehatan Mulut Pada Anak

Bahaya Tidak Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
Rutin menyikat gigi bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Namun perlu diketahui, hal itu saja mungkin tidak cukup, apalagi pada anak-anak. Rutinitas menggosok gigi, membersihkan rongga mulut menggunakan obat kumur, dan menggunakan benang gigi ternyata masih belum efektif untuk menghindari gangguan yang terjadi pada gigi dan mulut.

Kondisi ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Sebab, masalah pada gigi dan mulut bisa berakibat fatal dan memengaruhi kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Infeksi pada gigi atau gusi dapat menyebar ke dalam jaringan tubuh lain. Dalam kondisi yang parah, infeksi bisa meningkatkan risiko penyakit atau gangguan pada organ lain.

Ada beragam gangguan kesehatan gigi dan mulut yang bisa muncul jika Si Kecil tidak terbiasa menjaga kebersihan area tersebut. Risiko penyakit meningkat pada anak yang jarang menyikat gigi, mengunyah permen karet atau makanan manis secara berlebihan, serta kurang minum air putih. Nyatanya, kebiasaan-kebiasaan tersebut rentan membuat gigi dan gusi rusak.

Baca juga: Ini 6 Cara Agar Si Kecil Bebas Radang Gusi

Gigi yang rusak bisa menimbulkan nyeri, pembengkakan pada gusi, gigi berlubang, bahkan pembusukan gigi pada anak. Ada beragam jenis sakit gigi yang mungkin muncul, di antaranya:

1.Karies Gigi

Jenis sakit ini bersifat umum dan sering terjadi pada anak. Karies gigi muncul karena ada penumpukan plak pada area gigi dan mulut. Plak merupakan bakteri atau kotoran yang menempel dan hidup di rongga mulut. Seringnya, plak muncul karena sisa makanan yang tidak dibersihkan atau tidak menyikat gigi sebelum tidur.

2.Gingivitis

Gingivitis alias radang gusi juga bisa muncul akibat kebersihan gigi dan mulut yang tidak terjaga. Tidak berbeda jauh dengan karies gigi, radang gusi juga disebabkan oleh penumpukan plak pada gigi. Infeksi ini menyebabkan gusi meradang dan membuat gusi mudah berdarah.

3.Periodontitis

Gangguan pada gusi bisa semakin parah, terutama jika anak tidak memiliki kebiasaan menyikat gigi dengan benar. Kondisi yang lebih berbahaya bisa terjadi, yaitu periodontitis. Kondisi ini merupakan infeksi gusi serius yang bisa merusak jaringan lunak dan tulang yang menyangga gigi. Gejala yang timbul sebagai tanda penyakit ini adalah bau mulut, perubahan warna gusi menjadi merah terang atau keunguan, pembengkakan dan perdarahan pada gusi.

5 Cara Mudah Menjaga Kesehatan Mata Anak

Kesehatan mata anak perlu dijaga untuk mencegah masalah di masa depan. Ibu pasti tidak mau kan kalau Si Kecil harus memakai kacamata sejak dini untuk membantu penglihatannya?

Mata tidak sebatas membantu anak melihat dunia. Panca indera yang satu ini mampu menunjang perkembangan fisik, sosial, dan kognitif melalui informasi yang diperoleh dari penglihatannya.

Tips Penting Menjaga Kesehatan Mata Anak
1. Pola makan sehat
Penuhi kebutuhan gizi anak dengan memberikannya sayuran segar, telur, ikan, daging, dan buah-buahan. Ketika gizi yang terpenuhi kemudian mampu menjaga mata tetap sehat. Pilih sayuran berdaun hijau dan sayuran kuning yang kaya vitamin A. Nutrisi ini mampu menunjang kesehatan mata.

2. Perbanyak minum air putih
Mata kering dapat menyebabkan infeksi. Oleh sebab itu, orang tua perlu memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi agar mata tetap lembap. Dorong Si Kecil untuk minum minimal empat gelas penuh air setiap harinya. Kebutuhannya dapat berubah tergantung pada usia anak, aktivitas, dan kondisi cuaca.

3. Tidur cukup
Tidur malam yang berkualitas membantu meremajakan tubuh dan merilekskan mata. Buat rutinitas tidur secara teratur seperti tidak bermain gadget sebelum tidur, membersihkan kasur, mengganti pakaian dan mengatur suhu ruangan agar nyaman.

4. Batasi waktu layar
Anak-anak cenderung belum bisa mengontrol pemakaian smartphone, tablet, konsol game, dan komputer. Penggunaan perangkat ini dalam waktu yang lama dapat membuat mata tegang. Waktu layar sebaiknya dibatasi satu jam per hari saja.

5. Hindari menggosok mata
Anak-anak cenderung menggosok mata, terutama saat ada benda asing yang masuk. Namun, hal ini dapat merusak mata dan kuman berisiko masuk ke dalamnya. Daripada digosok, anjurkan anak untuk membilas matanya dengan air mengalir dan rutin mencuci tangan.

Selain kesehatan fisik, pola asuh yang tepat juga perlu ibu perhatikan. Jangan ragu untuk menemui psikolog untuk meminta saran soal pola asuh anak.

Pentingnya Sunat Sedari Kecil

Seringkali menjadi pertanyaan bagi masyarakat awam mengenai pentingnya sunat, Sunat (Sirkumsisi) sendiri merupakan proses pelepasan kulup atau kulit yang menyelubungi ujung penis. Bukan hanya diperuntukkan untuk anak atau orang dewasa, sunat dapat dilakukan juga pada bayi.

Manfaat Sunat ?
Penis lebih mudah dibersihkan
Dengan dilakukannya proses pelepasan kulit pada ujung penis, menjadikan bagian penis lebih mudah dibersihkan. Sementara pada anak laki-laki yang belum sunat, bagian kulup/ kulit yang belum dipotong harus rutin dibersihkan untuk menghindari berbagai resiko penyakit.
Memperkecil Resiko infeksi saluran kemih
Meskipun resiko infeksi saluran kemih tergolong rendah pada anak-anak maupun laki-laki dewasa, infeksi tetap dapat terjadi dan akan sering dialami oleh mereka yang belum sunat.
Mencegah terjadinya penyakit di area penis
Pada beberapa kasus, kulup pada penis yang belum disunat sering mengalami kesulitan bahkan tidak mungkin ditarik kembali, kondisi ini dikenal dengan istilah fimosis. Sunat/ Khitan bermanfaat untuk mencegah terjadinya fimosis terutama pada bayi.
Mengurangi adanya resiko penyakit menular
Salah satu manfaat Sunat bagi kesehatan adalah mengurangi adanya resiko penyakit menular seksual seperti HIV atau Gonore ketika anak dewasa kelak.
Menurunkan Resiko Kanker Penis
Berdasarkan data WHO tahun 2020, kanker penis di Indonesia menempati urutan ke-29 dalam hal kasus kanker baru, dan ke-31 dalam penyebab kematian akibat kanker. Manfaat lain adalah Menurunkan bahkan mencegah terjadinya penyakit kanker penis. Meski merupakan penyakit langka, data membuktikan bahwa penyakit ini jarang menyerang pria yang sudah disunat.
Masa penyembuhan Pasca Sunat
Pada umumnya masa penyembuhan pasca sunat membutuhkan waktu 7-10 hari hingga penis sembuh sepenuhnya. Apabila terjadi infeksi pasca Sunat (khitan), segera periksakan ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan luka pada area penis yang tepat.

5 Tips Menjaga Kesehatan Anak Usia 1-2 Tahun

Usia 1-2 tahun merupakan masa keemasan anak. Hal ini terjadi karena pada waktu ini momen 1000 hari kehidupan pertamanya. Di usia ini, segala hal yang didapat memengaruhi tumbuh kembangnya di kemudian hari, termasuk asupan nutrisi. Itulah mengapa kebanyakan orangtua melakukan yang terbaik demi tumbuh kembang dan kesehatannya yang optimal.

Mengingat ketertarikannya pada objek meningkat, tidak jarang anak-anak merangkak dan bermain sambil memasukkan benda apa pun ke mulutnya. Itulah sebabnya, pola asuh anak yang dijalankan tiap orangtua juga akan memengaruhi kondisi anak. Bukan sekadar menjaganya 24 jam, melainkan dengan membantunya menerapkan gaya hidup sehat sejak dini.

Tips Menjaga Kesehatan Anak Usia 1-2 Tahun
Banyak hal yang bisa diperhatikan oleh orangtua saat menjaga kesehatan anak. Mulai dari asupan nutrisi, kegiatan fisik, hingga pola asuh anak menentukan kesehatan anak. Baik secara fisik maupun mental. Namun jangan khawatir, berikut ini tips menjaga kesehatan anak usia 1-2 tahun yang bisa ibu terapkan:

1. Berikan ASI Eksklusif
Menyusui adalah cara luar biasa bagi ibu dan Si Kecil untuk mempererat ikatan sembari memberi nutrisi paling alami. Namun, menyusui secara langsung mungkin tidak bisa dilakukan oleh semua ibu. Sebab, menyusui membutuhkan banyak waktu dan pengabdian untuk memberikan nutrsi yang menyehatkan. dan menyusui sepanjang waktu. Melansir dari WebMD, ASI mengandung antibodi yang membantu Si Kecil untuk melawan virus dan bakteri. Hal ini tentunya sangat penting bagi membantu pembentukan kekebalan tubuh Si Kecil yang masih berkembang.

2. Lakukan Imunisasi
Imunisasi adalah program pemberian vaksin ke dalam tubuh anak untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit. Pada usia 1-2 tahun, Si Kecil wajib melakukan imunisasi polio, DPT ulangan, MMR (measles, mumps, dan rubella), tifoid, hepatitis A, influenza, varisela, dan pneumokokus. Untuk info lebih lanjut tentang imunisasi, ibu bisa berbicara langsung dengan dokter anak.

Selain memberikannya imunisasi, ibu juga perlu memberikan Si Kecil vitamin untuk menunjang kesehatannya. Ibu bisa membeli vitamin yang dibutuhkan. Cukup masuk ke fitur Buy Medicine, lalu pesan obat atau vitamin yang dibutuhkan. Setelah itu, ibu hanya tinggal menunggu kurang dari 1 jam sampai pesanan datang.

3. Jaga Asupan Makanan Si Kecil
Apa yang dimakan Si Kecil memengaruhi kesehatannya, sehingga ibu perlu memerhatikan dan menjaga asupan makanan Si Kecil. Sebenarnya di usia ini, Si Kecil sudah bisa mengonsumsi makanan keluarga, asalkan tekstur makanannya masih lunak. Sebab, ia baru bisa mengonsumsi makanan keluarga saat usianya lebih dari dua tahun. Melansir dari CDC, ibu perlu memberikan banyak sayuran, buah-buahan, dan produk gandum untuk menjaga kesehatan Si Kecil. Hindari memberikannya gula dan makanan yang mengandung lemak jenuh terlalu banyak.

4. Perhatikan Waktu Tidur Si Kecil
Tidur bukan sekadar menghilangkan rasa kantuk, tapi juga baik untuk tumbuh kembangnya. Tidur yang cukup bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mendukung tumbuh kembangnya, serta memengaruhi tingkat kognitifnya.

Si Kecil yang berusia 1-2 tahun membutuhkan waktu tidur sebanyak 12-14 jam dalam sehari. Ini termasuk jumlah jam tidur siangnya, yakni sebanyak 1-3 jam dalam sehari. Jadi, pastikan agar Si Kecil mendapat kualitas dan kuantitas tidur yang baik guna tumbuh kembangnya yang optimal.

5. Penuhi Kasih Sayang untuk Si Kecil
Tahukah ibu bahwa hubungan orangtua dan anak yang penuh dengan perhatian, kasih sayang, dan stabil dapat membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih baik? Untuk itu, jangan lupa memberikan anak perhatian yang positif dan kasih sayang. Hal ini berkaitan langsung dengan pola asuh anak yang tepat dalam perkembangannya.

Hubungan orangtua dan anak yang kuat sejak dini membuat anak terhindar dari berbagai gangguan kesehatan mental maupun fisik yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Bahkan, kondisi ini juga akan membuat anak memiliki hubungan sosial yang baik ke depannya.

Kebanyakan anak di usia ini akan mengeksplor apapun yang ada di sekitarnya. Jadi, jangan heran jika banyak anak yang gemar bermain tanah, air, dan objek lainnya. Hal itu adalah hal yang wajar, tetapi jangan biarkan aktivitas ini membuatnya jatuh sakit karena infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah mengajari Si Kecil tentang praktek cuci tangan dan kaki pakai sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan sebelum tidur.

Itulah tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan anak yang berusia 1 sampai 2 tahun. Tetap jaga kondisi tubuh anak agar terhindar dari gangguan kesehatan apa pun.

Kenali dan Lindungi Buah Hati dari 5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Anak

Salah satu pengalaman kurang menyenangkan yang cukup sering dialami oleh orangtua adalah ketika anak jatuh sakit. Anak-anak memang memiliki kecenderungan lebih sering jatuh sakit daripada orang dewasa karena sistem imun yang dimilikinya belum berkembang dengan sempurna. Dengan begitu, serangan virus dan bakteri sulit untuk dihalau oleh sistem imun yang dimiliki tubuhnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi rentan terhadap serangan penyakit, mulai dari gangguan imunologis bawaan, perubahan cuaca yang ekstrem, hingga kondisi anak yang sedang susah makan. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat membuat daya tahan tubuh anak menjadi lemah dan kesulitan menghadang virus dan bakteri dari luar. Penangan yang cepat dan tepat sangat penting dilakukan ketika anak jatuh sakit. Oleh karena itu, ada baiknya orangtua memahami berbagai jenis penyakit yang lazim menyerang anak, seperti penyakit-penyakit berikut:

Penyakit Diare

Diare pada anak seringkali ditandai dengan rasa sakit yang konstan pada bagian perut, serta frekuensi buang air besar yang terlalu sering dengan feses yang cenderung encer. Penyebab diare yang paling umum ditemui adalah infeksi saluran pencernaan, keracunan atau alergi makanan, infeksi parasit, hingga iritasi usus. Pada anak-anak, diare cenderung lebih sering menyerang karena perkembangan saluran cerna anak belum sempurna. Oleh karena itu, apabila ada patogen atau bakteri yang masuk, maka dapat dengan mudah masuk melalui sela-sela sel usus dan langsung masuk ke dalam peredaran darah.

Jika anak mengalami diare dengan frekuensi buang air besar hingga lima kali dalam sehari, Anda perlu waspada, jangan sampai buah hati Anda terkena dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh akibat diare. Untuk penanganan awal, Anda dapat memberikan minuman yang mengandung elektrolit (oralit). Jika diare pada anak tak kunjung membaik dalam kurun waktu tiga hari, segera periksakan anak ke dokter agar penyakit tersebut tidak berkembang semakin parah.

Penyakit Demam

Demam terjadi ketika suhu tubuh anak melebihi 37,2°C bila diukur dari ketiak, melebihi 37,8°C bila diukur dari mulut, atau di atas 38°C bila diukur dari dubur. Demam pada anak biasanya dipicu oleh virus, seperti virus penyebab influenza. Anda dapat melakukan penanganan darurat untuk mengatasi demam yang dialami anak dengan mengompres dahi anak dengan air hangat, memberikan asupan berupa makanan dan minuman hangat, dan menghangatkan tubuhnya dengan selimut. Umumnya, demam yang dialami anak dapat diatasi dengan obat-obatan. Namun, tidak semua obat boleh diberikan pada anak yang sedang demam. Oleh karena itu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar anak bisa diobati dengan tepat.

Penyakit Radang Tenggorokan

Jika anak terlihat kesulitan untuk menelan makanan dan lebih rewel saat hendak makan, ada kemungkinan bahwa ia mengalami radang tenggorokan. Selain tenggorokan yang terasa kering dan gatal, radang tenggorokan juga bisa menimbulkan gejala sakit kepala, badan lemas, dan nyeri otot. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh banyak hal, mulai dari alergi, infeksi virus dan bakteri yang menyerang rongga mulut anak, hingga pola makan dengan gizi yang kurang seimbang. Memberi minum banyak air pada anak dan memintanya untuk berkumur air garam adalah cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi gejala radang tenggorokan pada anak. Namun, jika kondisi anak tidak segera membaik, sebaiknya segera periksakan ia ke dokter agar diberi penanganan yang aman dan tepat.

Penyakit Cacar Air

Anda perlu waspada jika menemukan bintik-bintik merah bermunculan pada tubuh buah hati Anda. Salah satu gejala khas cacar air adalah bintik-bintik merah di tubuh yang berubah menjadi benjolan-benjolan bening berisi air yang gatal dan menyebar di seluruh tubuh dalam beberapa hari. Sebenarnya, cacar air dapat dicegah dengan vaksin. Namun, imunitas tubuh anak memiliki pengaruh besar terhadap kerentanan terhadap virus cacar, tingkat keparahan cacar air, dan durasi pemulihan pasca cacar air.

Jika buah hati Anda terserang cacar air, ada baiknya Anda memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan perawatan dan obat yang sesuai dengan kondisinya. Pada umumnya, dokter akan memberikan resep krim topikal untuk mengurangi gatal-gatal yang dirasakan anak. Selain itu, akan diberikan juga beberapa obat minum yang disesuaikan dengan kondisi tubuh anak. Sementara itu, karena virus cacar air ini bersifat menular, sebaiknya Anda tidak membiarkan anak Anda bermain-main dengan anak lain hingga ia benar-benar sembuh.

Penyakit Cacingan

Anak cukup rentan mengalami cacingan karena anak memang lebih sering bermain di luar ruangan dibandingkan orang dewasa. Selain itu, biasanya anak juga belum begitu memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan tubuhnya.

Jika anak bermain di luar lalu langsung memegang makanan dan makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu, maka ada kemungkinan cacing atau telur cacing yang berasal dari tanah atau air kotor bisa masuk ke dalam tubuh anak dan kemudian berkembang biak di usus.

Untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya Anda mengajarkan anak untuk disiplin mencuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah keluar dari toilet. Selain itu, rutin minum obat cacing setiap enam bulan sekali juga disarankan untuk mencegah cacingan.

7 Penyakit Infeksi pada Anak yang Rentan Terjadi

Sistem kekebalan tubuh anak belum sekuat orang dewasa sehingga membuatnya rentan mengalami penyakit infeksi. Tidak hanya itu, faktor kebersihan anak juga berpengaruh pada risiko penyakit yang satu ini. Lantas, apa saja penyakit infeksi yang bisa terjadi pada anak?

Berbagai penyakit infeksi pada anak yang sering terjadi
Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit.

Organisme-organisme ini menyerang dan masuk ke dalam tubuh anak, kemudian menimbulkan sejumlah gejala.

Berikut ini beberapa penyakit infeksi pada anak yang umum terjadi di Indonesia dengan informasi gejala dan cara mengatasinya.

1. Cacingan
Di Indonesia, cacingan pada anak sering terjadi akibat infeksi cacing gelang, tambang, atau cambuk. Biasanya, ini terjadi karena anak kurang menjaga kebersihan.

Misalnya, anak langsung memegang makanan dan makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu setelah bermain di luar rumah, atau kebiasaan bermain di luar tanpa alas kaki.

Gejala cacingan
Beberapa anak tidak mengalami gejala cacingan apa pun. Namun, bila muncul, berikut adalah gejala cacingan pada anak yang mungkin terjadi.

Sering menggaruk bokong, khususnya bagian anus.
Perut anak sakit.
Demam.
Ada cacing pada feses anak.
Anak tidak nafsu makan.
Berat badan anak turun.
Mual, atau bahkan muntah.
Penanganan
Cacingan pada anak bisa diatasi dengan obat cacing, seperti albendazol atau mebendazol hingga 3 hari atau lebih, tergantung jenis cacing yang menginfeksi anak.

Anda pun perlu rutin membersihkan rumah serta mengajari anak untuk mencuci tangan secara teratur guna membantu mencegah penyebaran infeksi dalam keluarga.

2. Cacar air

Cacar air adalah penyakit infeksi pada anak yang disebabkan oleh virus. Ini merupakan penyakit yang menular, terutama pada anak yang belum pernah terkena cacar air.

Adapun virusnya bisa menyebar melalui batuk atau kontak langsung dengan cairan dalam lepuh atau bintik-bintik merah yang muncul di kulit.

Gejala cacar air
Gejala cacar air pada anak biasanya muncul 11-20 hari setelah paparan atau setelah anak berinteraksi dengan anak lain yang sedang cacar air.

Biasanya, gejala pertama yang muncul berupa bintik-bintik merah kecil di tubuh anak, terutama dada, punggung, kepala, atau leher, yang diikuti dengan demam dan badan lemas.

Bintik-bintik kemudian berkembang menjadi lepuh berisi cairan dalam satu atau dua hari. Setelah mengering, bintik-bintik atau lepuh ini kemudian mengelupas dan rontok.

Penanganan
Mengatasi cacar air pada anak sebaiknya dilakukan di rumah. Anak perlu beristirahat di rumah agar tidak menularkan ke teman-teman atau orang sekitarnya.

Saat di rumah, Anda bisa memberikan paracetamol untuk meredakan demam pada anak dan losion calamine untuk mengurangi gatalnya.

Minta anak untuk perbanyak minum air putih, jangan menggaruk area yang gatal, serta pakaikan baju yang longgar agar ia merasa nyaman.

3. Influenza
Penyakit satu ini sering dialami pada anak dan orang dewasa akibat infeksi virus yang menular.

Penularan virus influenza pada anak biasanya terjadi melalui udara saat penderitanya bersin atau batuk.

Tak hanya itu, penularan juga bisa terjadi melalui tangan atau benda yang telah disentuh oleh orang yang terinfeksi.

Gejala influenza
Gejala influenza pada anak biasanya muncul satu hingga tiga hari setelah terpapar. Adapun berikut adalah gejala influenza pada anak yang umum muncul.

Demam.
Batuk.
Menggigil.
Sakit kepala pada anak.
Nyeri otot.
Penanganan
Anak yang terinfeksi influenza biasanya akan sembuh hanya dengan beristirahat dan minum obat pereda nyeri untuk meredakan gejala.

Obat antivirus influenza khusus mungkin bisa anak Anda minum, tetapi harus sesuai resep dokter.

Selain itu, minta anak untuk menutup hidung dan mulut saat batuk dan bersin dengan siku atau tisu serta rutin mencuci tangan untuk mencegah penyebaran virus.

Untuk mengurangi risiko tertular, bayi berusia 6 bulan hingga anak di bawah 5 tahun bisa mendapat vaksin influenza.

4. Demam berdarah

Penyakit ini terjadi karena infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk. Demam berdarah pada anak sangat umum terjadi di Indonesia karena merupakan negara tropis.

Meski demikian, sebagian besar kasusnya hanya ringan dan dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu seminggu setelah penularan.

Gejala demam berdarah
Gejala demam berdarah pada anak umumnya ringan, terutama pada anak yang baru pertama kali terkena penyakit ini.

Namun, pada anak yang lebih tua dan yang sudah pernah terkena penyakit ini bisa mengalami gejala sedang hingga parah.

Demam tinggi hingga 40 derajat Celsius.
Nyeri otot, tulang, terasa sakit di belakang mata.
Sakit kepala parah.
Ruam di seluruh tubuh.
Mudah memar.
Anak mimisan atau gusi berdarah.
Penanganan
Tidak ada pengobatan khusus untuk demam berdarah. Kasus ringan umumnya bisa teratasi dengan beristirahat dan minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi pada anak.

Bila gejala parah, sebaiknya segera bawa anak Anda ke rumah sakit.

Dokter dan perawat dapat memberikan tambahan cairan melalui infus untuk mengganti cairan yang hilang akibat muntah atau diare.

5. Diare
Ini merupakan penyakit infeksi yang sangat sering terjadi pada anak, mulai dari bayi, balita, hingga anak yang lebih besar.

Diare pada anak sering terjadi karena infeksi bakteri, virus, parasit, atau masalah lainnya, seperti alergi pada makanan tertentu atau gangguan pencernaan pada anak.

Gejala diare
Gejala diare bisa berbeda pada tiap anak. Secara umum, berikut adalah gejala diare yang umum.

Perut anak sakit atau terasa kram.
Mual.
Perut anak kembung.
Demam.
Buang air besar terus menerus.
Dehidrasi.
Penanganan
Untuk mengatasi diare pada anak, Anda perlu memberinya air putih yang cukup untuk mengganti cairan yang hilang.

Dokter pun mungkin akan memberi obat antibiotik untuk anak jika diare terjadi karena infeksi bakteri.

Pada bayi, pastikan Anda tetap menyusui bayi untuk mengurangi gejalanya.

6. Campak

Campak adalah penyakit infeksi disebabkan oleh virus yang sangat menular pada anak dan orang dewasa.

Penyakit ini bisa serius dan fatal pada anak kecil. Bahkan, pada beberapa kasus, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Gejala campak
Mengutip dari Mayo Clinic, berikut adalah gejala campak yang paling sering terjadi.

Demam.
Batuk kering.
Pilek.
Sakit tenggorokan.
Mata meradang (konjungtivitis).
Bintik-bintik putih kecil dengan warna kebiruan di bagian tengahnya yang berada di dalam mulut pada lapisan pipi.
Ruam di kulit.
Penanganan
Tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi campak pada anak.

Dokter mungkin akan memberikan obat untuk meredakan demam, seperti paracetamol atau ibuprofen untuk anak.

Antibiotik pun mungkin akan dokter berikan jika infeksi bakteri, seperti pneumonia atau infeksi telinga, juga terjadi saat anak mengalami campak.

Mengenal Depresi pada Anak dan Gejalanya, Orangtua Perlu Waspada

Tak hanya orang dewasa yang bisa mengalami masalah depresi. Anak-anak pun rupanya juga bisa mengalami Depresi dan stres berat. Anak-anak yang ceria, penuh semangat dan bahagia tidak jarang terlihat lebih murung, mudah marah dan menutup diri. Hal inilah yang dikhawatirkan sebagai salah satu gejala stres atau depresi padanya.

Ketika anak mengalami depresi, orangtua penting untuk lebih waspada. Orangtua juga penting mencari cara agar masalah yang dihadapi anak segera teratasi dengan baik. Orangtua juga penting untuk mengembalikan rasa percaya diri anak, rasa bahagia dan kenyamanan dalam dirinya. Mengenai depresi pada anak, bagaimana anak dikatakan mengalami depresi?

Depresi pada Anak
Melansir dari laman Cleveland Clinic, depresi merupakan gangguan suasana hati yang bisa membuat seseorang merasa sedih dan putus asa. Saat anak depresi, ia terlihat murung, sedih dan tak lagi semangat.

Depresi pada anak bisa berpengaruh buruk terhadap pola tidurnya, pola makan, interaksi sosial dengan sekitar bahkan penurunan kecerdasan. Anak yang mengalami depresi juga rentan kehilangan minat, hobi maupun antusiasme pada banyak hal termasuk hal yang selama ini justru sangat disukainya.

Penelitian menemukan jika depresi pada anak bisa disebabkan oleh hal internal maupun eksternal. Hal tersebut mulai dari pola asuh orangtua, kualitas tidur yang buruk, perkembangan yang kurang maksimal, tekanan dari sekitar, pergaulan dan lain sebagainya.

Apa Gejala Depresi pada Anak?

Ada beberapa gejala yang ditunjukkan ketika anak mengalami depresi. Beberapa mungkin diawali dengan stres, tapi beberapa lagi langsung terlihat jika ia depresi. Berikut beberapa gejala depresi pada anak.

Anak lebih mudah tersinggung dan mengamuk dengan sebab tertentu atau tanpa sebab.
Anak terlihat murung, sedih dan hampa karena ia merasa dirinya tak berarti atau tak sebaik orang lain.
Nafsu makan menurun atau naik drastis. Sama seperti orang dewasa, depresi juga berpengaruh pada nafsu makan seseorang.
Anak kurang tertarik pada hobi atau apapun yang sebelumnya sangat ia sukai.
Sulitnya berkonsentrasi dan berpikir. Ini ditandi dengan penurunan prestasi di sekolah atau berkurangnya minta belajar.
Anak sulit tidur baik di siang hari ataupun malam hari.
Kesulitan berinteraksi dengan orang lain atau bahkan dengan orangtua dan pengasuhnya sendiri.
Anak jadi lebih diam, malas dan tak nyambung saat diajak berbicara atau ngobrol.
Terlihat lemas, lesu dan kurang bersemangat karena hilangnya energi akibat kurang makan, kurang istirahat dan lebih banyak menangis.
Anak cenderung mengurung diri dan menutup diri dari orang terdekat.
Mengalami keluhan fisik seperti pusing, sakit perut dan lemah.
Anak merasa pesimis, mudah menangis dan melakukan percobaan menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri.

Mengenal Ciri Stunting pada Anak dan Dampaknya

Stunting merupakan masalah kesehatan yang kini gencar dicegah. Stunting adalah kondisi di mana anak gagal tumbuh dan berkembang akibat kekurangan nutrisi. Stunting umumnya akan terlihat pada anak bawah lima tahun dengan tanda anak terlihat lebih pendek, kurus dan tidak sehat seperti anak-anak pada umumnya.

Biasanya, anak yang stunting akan terlihat saat usianya menginjak 2 tahun. Meski begitu, di bawah usia dua tahun stunting sebenarnya sudah bisa dideteksi. Masalah stunting bisa terjadi karena anak kekurangan nutrisi bahkan sejak ia masih di dalam kandungan.

Ciri-Ciri Anak Stunting

Ada beberapa ciri yang bisa dilihat dengan jelas dari anak yang mengalami stunting. Ciri-ciri tersebut bisa dilihat dari fisiknya maupun perkembangannya. Berikut beberapa ciri-ciri stunting yang sering terjadi pada anak.

Anak memiliki postur tubuh yang lebih pendek dari anak-anak seusianya.
Anak rentan sakit dan mengalami masalah kesehatan baik masalah ringan hingga masalah berat. Anak yang stunting akan lebih sering mengalami demam, diare dan sejenisnya.
Penurunan kemampuan kognitif. Dalam beberapa kasus anak stunting juga erat kaitannya dengan IQ yang rendah dan perkembangan kognitif yang lambat.
Pada beberapa kasus, anak stunting justru lebih mudah gemuk jika dibandingkan dengan anak normal lainnya. Anak stunting rentan mengalami pertumbuhan ke samping, bukan ke atas.
Wajah anak stunting juga terlihat lebih muda dari anak-anak seusianya. Meski lebih muda, ia masih seperti anak kecil di bawah usia seharusnya.
Beberapa anak menjadi lebih pendiam.
Anak stunting juga mengalami keterlambatan pertumbuhan gigi.
Pada anak perempuan, stunting juga menyebabkan menstruasi yang terlambat datang.

5 Keuntungan Mengonsumsi Pepaya secara Rutin, Salah Satunya Mencegah Kanker

Siapa yang tidak suka buah pepaya? Meskipun berbiji banyak, pepaya kaya akan nutrisi yang menyehatkan tubuh.

Dalam pepaya, ada kandungan karbohidrat, serat, protein, gula, dan vitamin C yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Pepaya bisa dikonsumsi langsung dengan cara dikupas dan dibersihkan dari bijinya. Bisa juga kita jadikan rujak atau sayur jika buah pepayanya masih mentah.

Dengan sejumlah nutrisi tersebut, pepaya bisa memberikan manfaat kesehatan berikut, lo. Yuk, simak agar tidak ragu lagi mengonsumsi pepaya yang enak dan menyehatkan.

1. Kaya Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang berfungsi untuk memperbaiki sel yang rusak akibat radikal bebas.

Pepaya mempunyai antioksidan yang cukup, seperti vitamin A, vitamin C, dan vitamin E.

Semua vitamin itu dibutuhkan untuk menyehatkan jantung dan mencegah kenaikan kadar kolesterol.

Jika kadar kolesterol jahat terlalu tinggi, maka pembuluh darah akan tersumbat dan menyebabkan aliran darah tidak lancar.

Sehingga, kerja jantung bisa terganggu dan bisa menyebabkan peradangan.

2. Menyediakan Serat untuk Kesehatan Usus

Seperti yang teman-teman ketahui, buah-buahan termasuk pepaya pasti mengandung serat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Serat berguna bagi tubuh karena, memicu rasa kenyang serta menyehatkan saluran pencernaan.

Selain itu, serat juga menjaga keseimbangan cairan tubuh agar tidak mudah dehidrasi.

Bahkan, serat pepaya bisa menurunkan kolesterol jahat dan gula darah, lo.

Dengan begitu, bagi organ pencernaan dan bagian tubuh lain tetap dalam kondisi sehat, sebab rutin mengonsumsi pepaya.

3. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Mengonsumsi pepaya secara rutin juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kok.

Karena, menurut penelitian pepaya bisa memicu aktifnya sistem imun tubuh.

Selain itu, pepaya juga mengandung beta karoten, vitamin C, dan antioksidan yang dapat meningkatkan sistem imun.

4. Melindungi dari Kanker

Ternyata, pepaya juga bisa mencegah kanker karena mengandung senyawa karotenoid likopen.

Senyawa ini dapat mengurangi risiko pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali. Terutama, kanker paru-paru, kanker lambung, dan kanker usus berang.

Sehingga, kualitas hidup lebih meningkat dan tubuh bugar, karena penyakit bisa dilawan.

5. Menyembuhkan Luka pada Lapisan Saluran Pencernaan

Jika teman-teman mengonsumsi makanan yang tidak sehat, bisa memicu iritasi pada lapisan dinding usus, lo.

Jika lukanya tidak parah, tubuh bisa menyembuhkannya sendiri.