Diagnosis dan Tindakan Menghadapi Atonia Uteri

http://www.ibudanbalita.netDiagnosis

Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif dan banyak, dan menggumpal dan pada palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek.

Perlu diperhatikan bahwa saat atonia uteri didiagnosis, maka pada saat itu juga masih ada darah sebanyak 500 – 1000 cc yang sudah keluar dari pembuluh darah, tetapi masih terperangkap dalam uterus dan harus deperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah pengganti.

Tindakan

Banyak darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Pasien masih dalam keadaan sadar, sedikit anemis, atau sampai syok berat hipovolemik.

Tindakan pertama yang harus dilakukan bergantung pada keadaan kliniknya. Secara lengkap dapat dilihat pada Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, JNPKKR-POGI Yayasan Bina Pusaka Sarwono Prawirohardjo, 2002 dan Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta 2002.

Pada umumnya dilakukan secara simultan (bila pasien syok) hal-hal sebagai berikut:

1. Sikap Trendelenbung, memasang venous line, dan memberikan oksigen.

2. Sekaligus merangsang kontraksi uterus dengan cara:

a. Masase fundus uteri dan merangsang puting susu.

b. Pemberian oksitosin dan turunan ergot melalui suntikan secara i.m., i.v., atau s.c

c. Memberikan derivat prostaglandia F2α (carboprost tromethamine) yang kadang memberikan efek samping berupa diare, hipertensi, mual muntah, febris, dan takikardia.

d. Pemberian misoprostol 800-1000 µgper-rektal.

e. Kompresi bimanual eksternal dan/atau internal.

f. Kompresi aortaabdominalis.

g. Pemasangan “tampon kondom”, kondom dalam kavum uteri disambung dengan kateter, difiksasi dengan karet gelang dan diisi cairan infus 200 ml yang akan mengurangi perdarahan dan menghindari tindakan operatif.

h. Catatan: tindakan memasang tampong kasa utero-vaginal tidak dianjurkan dan hanya bersifat temporer sebelum tindakan bedah ke rumah sakit rujukan.

3. Bila semua itu tindakan gagal, maka dipersiapkan untuk dilakukantindakan operatif laparotomi dengan pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus) atau melakukan histerektomi dengan pilihan konservatif (mempertahankan uterus) atau melakukan histerektomi. Alternatifnya berupa:

a. Ligasi arteria uterina atau arteria ovarika

b. Operasi ransel B Lynch

c. Histerektomi supravaginal

d. Histerektomi total abdominal


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *