Pemberian Antibiotika Profilaksis dan Batasannya

http://www.ibudanbalita.net/Antibiotika Profilaksis

Munculnya kuman resisten dapat terjadi karena prosesnatural selection.  Proses ini berawal ketika populasi mikroba tubuh manusia terpapar oleh antibiotika, maka mikroba yang peka dari populasi tersebut akan mati terbunuh,  sedangkan sebagian akan bertahan hidup bahkan dapat berkembang dan menjadi mikroba yang resisten.

Penyebaran kuman resisten dari seseorang kepada orang lain pada umumnya terjadi di rumah sakit dengan cara transmisi baik melalui petugas perawat (pembantu) maupun dokter yang kurang meperhatikan kaidah aseptic; juga dapat secara kontak langsung antar pasien dalam unit pelayanan. Penggunaan antibiotika profilaksis dan general precaution dapat meminimalkan kemungkinan munculnya mikroba resisten.

Batasan

Antibiotika diberikan sebelum operasi atau segera saat operasi pada kasus yang secara klinis tidak didapatkan tanda-tanda nyata adanya infeksi. Diharapkan saat operasi jaringan target sudah mengandung kadar antibiotika tertentu yang efektif untuk menghambat pertumbuhan kuman atau membunuh kuman.

Suatu tindakan obstetric (seperti seksio sesarea atau pengeluaran plasenta secara manual) dapat meningkatkan risiko seorang ibu terkena infeksi. Risiko ini dapat diturunkan dengan:

a. Mengikuti petunjuk pencegahan infeksi yang dianjurkan

b. Menyediakan antibiotika profilaksis pada saat tindakan.

Antibiotika profilaksis diberikan untuk membantu mencegah infeksi. Jika seorang ibu dicurigai atau didiagnosis menderita suatu infeksi, pengobatan dengan antibiotika merupakan jalan yang tepat.

Pemberian antibiotika profilaksis 30 menit sebelum memulai suatu tindakan, jika memungkinkan, akan membuat kadar antibiotika dalam darah yang cukup pada saat dilakukan tindakan.

Perkecualian untuk hal ini adalah operasi seksio sesarea, di mana antibiotika profilaksis sebaiknya diberikan sewaktu tali pusat dijepit  setelah bayi di lahirkan. Satu kali dosis pemberian antibiotika profilaksis sudah mencukupi dan tidak kurang efektif jika dibandingkan dengan tiga dosis atau pemberian antibiotika selama 24 jama dalam mencegah infeksi.

Jika tindakan berlangsung lebih dari 6 jam, atau kehilangan darah mencapai 1.500 ml atau lebih, berikan dosis antibiotika profilaksis yang kedua untuk menjaga kadar darah selama tindakan berlangsung.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *