Komplikasi Serius Dari Analgesia Epidural

http://www.ibudanbalita.netKomplikasi yang paling serius yang muncul dengan segera dari analgesia epidural adalah toksisitas anestetik local sistemik anesthesia spinal tinggi atau total.Tanda dan gejala dari kerancunan obat anesthesia local termasuk mengantuk, sakit kepala ringan, tinnitus, sirkumoral, rasa besi mulut, penglihatan kabur, ketidak sadaran, kejang serta disritmia dan henti jantung.

Tanda-tanda gejala-gejala dari analgesia spinal tinggi termasuk mati rasa dan lemas pada ekstremitas atas, dispnea, berbicra berbisik, ketidakmampuan bicara, dan akhirnya apnea dan hilangnya kesadaran.

Tindakan yang akan meminimalkan komplikasi-komplikasi seperti ini termasuk aspirasi kateter sebelum setiap dosis dari anesthesia local dan pemberian test-dose anestetik local sebelum pemberian dosis terapi.

Test dose akan mengenali ketidak sengajaan penyuntikan ke dalam intrvena atau subaraknoid anesthesia local tanpa menyebabkan keracunan sistemik atau anesthesia local spinal.

Pemberian 15 g epinefrin pada test-dose akan mengenali ketidak sengajaan injeksi intravena, gejalanya berupa takikardia maternal sementara yang khas.

Jika terjadi sedikit blok atau tidak ada blok setelah injeksi dari dosis terapi anesthesia local yang tepat, harus dipertimbangkan kemungkinan pasien telah diinjeksi secara intravena.

Pengobatan toksisitas sistemik anesthesia local adalah pemberian oksigen murni, dengan penggunaan ventilasi tekanan positif jika diperlukan. Intubasi endotrakeal akan memudahkan ventilasi dan membantu menjaga jalan napas.

Dosis rendah dari thiopental (25 – 50 mg) atau diazepam (2,5 – 5,0 mg) akan menghentikan kejang. Alternatif lain, pemberian suksinilkolin (1 mg/kg) akan menghentikan aktivitas otot rangka dan memudahkan intubasi endotrakeal.

Kompresi aortokaval harus dihindari setiap saat dan cairan intravena dan obat vasoaktif harus diberikan untuk mendukung sirkulasi maternal.

Bradikardi harus diobati dengan atropine (0,6 – 1,0 mg) dan takikardia ventricular diobati dengan bretilium (5 mg/kg). fibrilasi ventrikulardiobati denagan bretilium, epinefrin, dan defibrilasi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *