Pilihan Obat Untuk Analgesia dan Anestesia

http://www.ibudanbalita.netBupivakain adalah obat anestetik local epidural yang umum digunakan selama persalinan. Pada masa lalu, pemberian cairan konsentrasi 0,5% mengakibatkan anesthesia yang kuat dan waktu kerja yang panjang.

Bagaimanapun, ini menyebabkan blok yang berlebihan pada sensorik dan motorik dan kenaikan risiko yang tidak perlu seperti toksisitas sistemik atau anesthesia spinal yang tinggi.

Analgesia dengan injeksi bolus 0,125% – 0,250% bupivaksin, dilanjutkan dengan infuse epidural yang kontinu 0,125 – 0,250 % bupivaksin adalah hal yang biasa dilakukan sekarang ini.

Infuse epidural yang kontinyu anestetik local mengakibatkan stabilnya tingkat analgesia dan mengurangi kebutuhan pengulangan injeksi bolus.

Lindokain 1 % atau 2 % 2 kloroprokain pada saat persalinan kala satu lebih disukai karena obat-obat ini mempunyai kinerja lebih yang cepat dari pada bupivakain.

Bagaimanapun, obat-obat itu juga mempunyai masa kerja yang lebih pendek dan menyebabkan blok motorik yang lebih intens. Lebih lanjut, pemberian 2-kloroprokain tidak sebaik bupivakain yang dikombinasi dengan opioid.

Opioid menghasilkan analgesia dengan meningkat reseptor opioid pada modula spinalis. Penyerapan opioid secara sistemik juga terjadi, yang akan menyebabkan euphoria maternal sementara, sedasi, atau keduanya.

Banyak dokter yang memakai opioid yang mudah larut dalam lemak, (contohnya 50 g fentanil atau 10 g sufentanil) dengan didahului bolus anestetik local dan kemudian diberikan infuse anestetik local melalui kateter epidural secara terus-menerus dengan opioid (contohnya 0,0625 % bupivakain dengan 1 – 2 g fentanil per milliliter atau 0,2 – 0,4 g sufentanil per mililiter).

Penggabungan anestetik local dan opioid menyebabkan efek tambahan (dan mungkin sinergistik) yang mempercepat kinerja analgesia dan memperpanjang masa kerjanya.

Tambahan opioid menyebabkan pengurangan dosis total anestetik local. Hal ini mengurangi kemungkinan komplikasi anesthesia local dan menyebabkan berkurangnya intensitas blok motorik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *