Analgesia Inhalasi

http://www.ibudanbalita.netInhalasi intermiten 40 – 50 % N2O bisa menyebabkan analgesia ringan meskipun jarang diberikan pada saat persalinan kala satu.

Alat resusitasi harus tersedia selama mengunakannya. Dibutuhkan suatu alat yang bisa membatasi konsentrasi N2O dan harus selalu dicek untuk mencegah pemberian secara tidak sengaja N2O konsentrasi tinggi atau bahkan konsentrasi gas hipoksik.

Dilaporkan bahwa penggunaan teknik ini selama proses persalinan menunjukkan analgesia yang bervariasi. Demikian juga saturasi oksigen maternal.

Kadang-kadang N2O atau obat anesthesia halogenated yang kuat (contohnya halotan, enfluran, isofluran) diberikan pada persalinan kala dua.

Analgesia inhalasi adalah yang paling aman ketika diberikan oleh dokter spesialis anestesiologi yang menanganinya dengan monitor yang memadai di ruang persalinan yang lengkap.

Tujuan utamanya adalah analgesia bukan anesthesia. Problem yang potensial adalah amnesia maternal dan yang lebih penting hilangnya refleks proteksi jalan napas, yang menyebabkan aspirasi cairan lambung ke paru-paru. Karena banyak masalah yang timbul, ahli anesthesia obstetric menghindari pemberian analgesia inhalasi.