Opioid dalam Analgesia Persalinan

http://www.ibudanbalita.netFentanil adalah opioid sintetik yang bersifat mudah larut dalam lemak dan mempunyai potensi kira-kira 100 kali dari pada morfin dan 800 kali petidin.

Fentanil bekerja cepat dan sangat mengikat protein. Ketika diberikan dalam dosis rendah, fentanil memiliki masa kerja pendek (20 – 30 menit) karena redistribusi yang cepat dari plasma.

Dosis yang biasa diberikan adalah 50 – 100 g i.v., diberikan setiap jam saat proses persalinan aktif. Dokter kadang-kadang memberi fentanil bolus i.v. dosis rendah dengan pemberian yang dikontrol oleh pasien.

Efek samping pada ibu berupa sedasi, mual, muntah, dan berkurangnya motilitas gastrointestinal. Pemberian fentanil intratekal bisa berakibat menunrunnya denyut jantung janin, yang berlansung sampai dengan 30 menit.

Tidak ada bukti bahwa fentanil meningkatkan risiko depresi napas dan neurobehavioral bayi baru lahir jika dibandingkan dengan opioid dosis equipotent yang lain.

Karena memiliki kenerja cepat dan masa kerja yang singkat remifentanil saat ini mulai banyak digunakan untuk analgesia persalinan.

Karena semua opioid bisa menyebabkan depresi napas pada kehamilan dan bayi baru lahir, pentinguntuk tersedianya antagonis yang efektif.

Nalokson adalah opioid antaonis murni yang merupakan obat pilihan untuk pengobatan depresi napas. Obat ini bekerja menggantikan opioid dari sisi reseptornya.

Karena antagonis murni, obat ini tidak memperberat depresi napas. Pada orang dewasa, dosis yang biasa diberikan adalah 04 – 0,04 mg i.v., dengan dosis total dititrasikan sesuai dengan efek yang diinginkan.

Dosis yang direkomendasikan pada bayi baru lahir (termasuk bayi prematur) adalah 01 mg/kg. jika tidak ada respons, dosis diulangi dalam 3 – 5 menit lagi.

Bila mungkin, lokson harus diberika secara i.m. meskipun nalokson bisa diberikan secara i.m. atau okutan, pada bayi baru lahir yang keadaan umumnya kurang baik dan mengalami okonstriksi penyerapannya akan terhambat.

Karena nalokson mempunyai durasi yang pendek, perlu mengulangi dosisnya untuk memastikan tidak terjadi lagi depresi napas.

Pemberian nalokson pada ibu hamil saat persalinan atau saat melahirkan, tidak memberikan keuntungan bagi janin dan bayi baru lahir, karena mengurangi efek analgesia dan tidak ada kepastian atau tidak komplitnya pembalikan efek opioid pada bayi lahir.

Kesimpulannya, rekomendasi umum untuk penggunaan opioid sistemik termasuk penggunaan dosis sekecil mungkin dan meminimalkan penggunaan ulang adalah untuk mengurangi akumulasi obat dan metabolit pada janin. Dosis rendah kadang tidak menghasilkan analgesia yang substansial, khususnya pada kelahiran lanjut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *