Efek Transfusi Darah

http://www.ibudanbalita.netInfeksi, aloimunsasi, dan reaksi transfusi adalah komplikasi utama yang dihubungkan dengan transfuse komponen-komponen darah.

Ada korelasi bermakna antara risiko, jumlah unit transfuse, dan lokasi geografis pendonor. Walaupun hepatitis dan human immunodeficiency virus (HIV) menjadi pusat perhatian terbesar, bermacam infeksi yang lain dapat ditimbulkan oleh darah jangan dilupakan, meskipun risikonya kurang 1 : 1.000.000.

Infeksi sitomegalovirus merupakan suatu ancaman berarti terhadap individu yang kekebalan tubuhnya terganggu. Oleh karena status kekebalan janin, darah yang tidak mengandung sitomegalovirus harus digunakan untuk semua transfuse ibu yang masih ada janinnya. Sebagai tambahan, efek samping lain adalah reaksi alergi, febrile, dan kelebihan volume.

Reaksi hemolitik akut terjadi satu kasus untuk setiap 6.000 unit yang ditransfuse dan tingkat kematian sekitar 1 : 17. Kebanyakan reaksi hemolitik akut bersifat sekunder terhadap ketidak cocokan ABO, yang menuntun ke arah terjadinya hemolisis intravascular.

Tanda dan gejala-gejala klasik dari mulai rasa dingin, demam nyeri dada dan panggul, mual, kolaps kardiovaskular, sampai timbul disseminated intravascular coagulation.

Reaksi demam nonhemolitik biasanya karena antbodi penerima terserang antigen leukosit dan trombosit donor. Kebanyakan pasien bereaksi positif terhadap pengobatan antipiretik, tetapi penggunaan komponen darah yang rendah leukosit diperlukan jika reaksi-reaksi demam terjadi kembali.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *