Frekuensi dan Durasi His dalam Persalinan

http://www.ibudanbalita.netAmplitude uterus meningkat terus sampai 60 mmHg pada akhir kala I dan frekuensi his menjadi 2 sampai 4 kontraksi tiap 10 menit. Juga durasi his meningkat dari hanya 20 detik pada permulaan partus sampai 60-90 detik pada akhir kala I atau pada permulaan kala II.

His yang sempurna dan efektif bila ada koordinasi dari gelombang kontraksi, sehingga kontraksi simetris dengan dominasi difundus uteri, dan mempunyai amplitude 40 sampai 60 mmHg yang berdurasi 60 sampai 90 detik, denganjangka waktu antara kontraksi 2 sampai 4 menit, dan pada relaksasi tonus uterus kurang dari 12 mmHg.

Jika frekuensi dan amplitude his lebih tinggi, maka dapat mengurangi pertukaran O2. Terjadilah hipoksia janin dan timbul gawat janin yang secara klinik dapat ditentukan dengan antara lain menghitung detak jantung janin maupun dengan pemeriksaan kardiotokografi.

Loading...

His menyebabkan pembukaan dan penipisan di samping tekanan air ketuban pada permulaan kala I dan selanjutnya oleh kepala janin yang makin masuk ke rongga panggul dan sebagai benda keras yang mengadakan tekanan kepada serviks hingga pembukaan menjadi lengkap.

MENARIK:  7 Cara Menghindari kanker Rahim

Secara klinis pengukuran ini kurang bermanfaat dan sampai saat ini pengukuran kontraksi uterus dilakukan secara klinis dengan meletakkan tangan pada daerah fundus dan mencatat frekuensi, interval, dan durasinya.

Arrabal dan Nagey menemukan bahwa pengukuran klinik ini tidak akurat sehingga beberapa peneliti mencoba pengukuran yang lebih akurat dengan berbagai peralatan misalnya  Cohen dengan Electromyography, secara tidak langsung dengan pemantauan internal janin melalui electrode kulit kepala ataupun secara eksternal dengan kardiotokografi.

Cohen dari Jamaica Hospital Medical Center melakukan pengukuran voltase elektrik yang diakibatkan kontraksi uterus dengan tehnik Uterine  Electromyography memakai electrode permukaan yang mirip EKG yang mungkin merupakan satu terobosan pengukuran his yang lebih sederhana dan akurat tetapi tanpa risiko.

Diharapkan dengan penggunaan alat ini diklinik, diagnosis inpartu dan kelainannya lebih akurat disamping terjadi pengurangan biaya akibat terdiagnosisnya false labor.

Beberapa factor yang diduga berpengaruh terhadap kontraksi rahim adalah besar rahim, besar janin, berat badan ibu, dan lain-lain. Namun, dilaporkan tidak adanya perbedaan hasil pengukuran tekanan intrauterus  kala II antara wanita obese dan tidak obese.

MENARIK:  Manfaat Senam Nifas Pasca Persalinan


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading...