Mengenal Oligohidramnion dan Polihidramnion

http://www.ibudanbalita.netOligohidramnion

Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan oligohidramnion adalah kelainan kogenital, PJT, ketuban pecah, kehamilan postterm, insufisiensiplasenta, dan obat-obatan (misalnya dari golongan antiprostaglandin).

Kelainan congenital yang paling sering menimbulkan oligohidramnion adalah kelainan system saluran kemih (kelainan ginjal bilateral dan obstruksi uretra) dan kelainan kromosom (triploidi, trisomi 18 dan 13).

Trisomi 21 jarang memberikan kelainan pada saluran kemih , sehingga tidak menimbulkan oligihidramnion. Insufisiensi plasenta oleh sebab apa pun dapat menyebabkan hipoksian janin.

Hipoksia janin yang berlangsung kronis akan memicu mekanisme redistribusi darah. Salah satu dampaknya adalah terjadi penurunan aliran darah ke ginjal, produksi urin berkurang dan terjadi oligohidramnion.

Oligohidramnion yang terjadi oleh sebab apapun akan berpengaruh buruk kepada janin. Komplikasi yang sering terjadi adalah PJT, hipoplasia paru, deformitas pada wajah dan skelet, kompresi tali pusat dan aspirasi mekonium pada masa intrapartum, dan kematian janin.

Polihidramnion

Polihidramnion dapat terjadi akibat kelainan congenital, diabetes mellitus, janin besar (makrosomia), kehamilan kembar, kelainan pada plasenta dan tali pusat, dan obat-obatan (misalnya propiltiourasi).

Kelainan congenital yang sering menimbulkan polihidramnin adalah defek tabung neural, obstruksi traktus gastrointestinal bagian atas, hidrops fetalis (jenis imun dan nonimun), dysplasia skelet, kelainan ginjal unilateral, dan kelainan kromosom.

Komplikasi yang sering terjadi pada plihidramnion adalah malpresentasi janin, ketuban pecah, prolaps tali pusat, persalinan preterm, dan gangguan pernapasan pada ibu.

Tindakan Intervensi pada Kehamilan Trimester II dan III

Beberapa tindakan intervensi dengan bimbingan USG yang sering kali dilakukan pada kehamilan trimester II dan III, antara lain

  1. Chorionic villus sampling (CVS)
  2. Amniosentesis untuk karyotyping atau untuk pemeriksaan surfaktan
  3. Kordosentesis
  4. Transfuse intrauterine
  5. Amnioinfusi
  6. Fungsi kista yang terdapat pada ibu atau janin
  7. Parasentesis, misalnya pada hidrops fetalis
  8. Pemasangan shunt, misalnya pada obstruksi saluran kemih dan
  9. Pemberian obat atau nutrisi intrauterine.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *