Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Janin

http://www.ibudanbalita.netPenentuan Pertumbuhan dan Besar Janin

Pertumbuhan janin selama kehamilan dipengaruhi oleh faktor intrinsik (faktor genetik) yang menentukan potensi pertumbuhan janin; dan faktor ekstrinsik (faktor lingkungan).

Potensi pertumbuhan janin akan terganggu misalnya oleh kelainan genetik/ kromosom, infeksi (rubela), radiasi, dan obat-obatan. Faktor lingkungan yang dapat mengganggu pertumbuhan janin misalnya kondisi geografi, status sosial-ekonomi, penyakit pada janin, dan gangguan uteroplasenta.

Gangguan pertumbuhan janin akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan pada jangka panjang akan menyebabkan defek neurologik.

Pada pemeriksaan USG, penilaian pertumbuhan janin terutama didasarkan atas penilaian ukuran anatomi dan perubahan fungsional janin selama masa kehamilan. Penyimpangan pada proses pertumbuhan janin bisa diketahui dengan lebih mudah berdasarkan data (nomogram) ukuran anatomi janin.

Pertumbuhan Janin Terhambat

Pertumbuhan janin terhambat dapat digolongkan ke dalam jenis simetrik (tipe 1) dan jenis asimetrik (tipe 2). Sekitar 80% PJT tergolong jenis asimetrik, sedangkan 20 % merupakan jenis simetrik.

Pertumbuhan janin terhambat jenis simetrik dapat disebabkan baik oleh faktor intrinsik (kelainan genetik/kromosom) maupun ekstrinsik (bahan teratogenik, infeksi intrauterin, malnutrisi berat, dan sebagainya), dan terjadi sejak usia kehamilan muda.

Pada PJT jenis asimetrik penyebabnya adalah faktor ekstrinsik, terutama insufisiensi plasenta, yang umumnya terjadi pada kehamilan trimester III.

Gambaran spesifik PJT asimetrik terlihat pada besar atau berat janin yang berkurang, sedangkan panjang janin hanya sedikit terpengaruh. Bentuk tubuh janin terlihat tidak profesional (asimetrik),  yaitu ukuran tubuh (misalnya lingkar abdomen) yang kecil, sedangkan ukuran kepala tidak banyak mengalami perubahan (brain sparing phenomenon).

Pada janin normal, rasio lingkar kepala dan lingkar abdomen adalah 1,18 pada kehamilan 17 minggu; berukuran menjadi 1,11 pada kehamilan 29 minggu; 1,01 pada kehamilan 36 minggu; dan ≤ 1,0 setelah usia kehamilan 36 minggu.

Pada PJT asimetrik rasio tersebut tetap > 1,020. Volume cairan amnion berukurang (oligohidramnion) karena produksi urin berkurang. Ukuran plasenta mengecil. Pertumbuhan janin terhambat jenis asimetrik jarang disertai kelainan kongenital.

Pada PJT jenis simetrik gangguan pertumbuhan terlihat pada berat dan panjang janin yang berkurang. Ukuran kepala seringkali lebih kecil daripada ukuran normal (mikrosefalus). Ukuran plasenta biasanya normal.

Kelainan kongenital banyak dijumpai pada PJT jenis simetrik dan biasanya berupa kelainan multipel. Volume cairan amnion masih normal, kecuali bila disertai kelainan kongenital volume cairan amnion mungkin menjadi abnormal (oligahidramnion atau polihidramnion).

Pengukuran lingkar abdomen sangat berguna dan paling sensitif dan mendiagnosis PJT, baik jenis asimetrik maupun jenis simetrik. Pada PJT asimetrik, lingkar abdomen lebih kecil daripada ukuran normal untuk usia kehamilan tertentu; sedangkan ukuran biometri janin lainnya tidak atau hanya sedikit berpengaruh. Pada PJT simetrik, ukuran lingkar abdomen dan biometri janin lainnya lebih kecildaripada ukuran normal.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *