Menilai Denyut Jantung Janin Dengan Contraction Stress Test

http://www.ibudanbalita.netPemeriksaan CST dimaksudkan untuk menilai gambaran denyut jantung janin dalam hubungannya dengan kontraksi uterus. CST biasanya dilakukan untuk memantau kesejahteraan janin saat proses persalinan terjadi (inpartu).

Seperti halnya NST, pada pemeriksaan CST juga dilakukan penilain terhadap pfrekuensi dasar denyut jantung janin, variabilitas denyut jantung janin, dan perubahan periodik (akselerasi ataupun deselerasi) dalam kaitannya dengan kontraksi uterus.

Interpretasi CST.

  • Negatif

–     Frekuensi dasar denyut jantung janin normal.

–     Variabilitas denyut jantung janin normal.

–     Tiadak didapatkan adanya deselerasi lambat.

–     Mungkin ditemukan akselerasi atau deselerasi dini.

  • Positif

–     Terdepat deselerasi lambat yang berulang pada sedikitnya 50 % dari jumlah kontraksi

–     Terdapat deselesari lambat yang berulang, meskipun kontraksi tidak adekuat.

–     Variabilitas denyut jantung janin berkurang atau menghilang.

  • Mencurigakan

–     Terdapat deselerasi lambat yang berkurang dari 50 % dari jumlah kontraksi.

–     Terdapat deselerasi variabel.

–     Frekuensi dasar denyut jantung janin normal.

Bila hasil CST mencurigakan, pemeriksaan harus diulangi dalam 24 jam.

  • Tidak memuaskan (unsatifactory)

–     Hasil rekaman tidak representatif, misalnya oleh karena ibu gemuk, gelisah, atau gerakan janin berlebihan.

–     Tidak terjadi kontraksi uterus yang adekuat.

Dalam keadaan ini pemeriksaan harus diulangi dalam 24 jam.

  • Hiperstimulasi

–     Kontraksi uterus lebih dari 5 kali dalam 10 menit.

–     Kontraksi uterus lamanya lebih dari 90 detik (tetani uteri).

–     Seringkali terjadi deselerasi lambat atau bradikardi.

Dalam keadaan ini, harus waspada kemungkinan terjadinya hipoksia janin yang berlanjut sehingga bukan tidak mungkin terjadi asfiksia janin.

Hal yang perlu dilakukan adalah segeran menghetikan pemeriksaa dan berikan obat0obat penghilang kontraksi uterus (tekolitik), diberikan oksigen pada ibu dan tidur miring untuk memperbaiki sirkulasi utero-plasenta.

Hasil CST yang menggambarkan keadaan janin yang masih baiksampai 1 (satu) minggu kemudian (spesifitas 99 %), sedangkan hasil CST yang positif biasanya disertai outcome perinatal yang tidak baik dengan nilai prediksi positif ± 50 %.

Kontraindikasi CST.

  • Absolut

–     Adanya risiko ruptura uteri, misalnya pada bekas seksio sesarea atau miomektomi.

–     Perdarahan anterpartum

–     Tali pusat terkemuka

  • Relatif

–          Ketuban pecah prematur.

–          Kehamilan kurang bulan

–          Kehamilan ganda

–          Inkompetensia serviks

–          Disproporsi sefalo-pelvik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *